Empat Mahasiswa Jadi Buron Polisi

MALANG – Sukses menahan dua pelaku, kini Polres Malang Kota memburu empat pelaku pengeroyokan lain. Pengeroyok lain yang menewaskan Fidelis Honto (20 tahun) Mahasiswa Fakultas Ilmu Eksakta dan Keolahragaan, IKIP Budi Utomo (IBU), ini juga berstatus mahasiswa. Empat pelaku ini berasal dari kampus yang berbeda. Namun identitasnya masih dirahasiakan.
“Empat pelaku tidak semuanya kuliah di IBU, tapi ada yang kuliah di kampus lain,’’ kata Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata, saat rilis kemarin.
Singgamata menyebutkan, nama kampus dan identitas empat pelaku itu terkuak dari pengakuan dua tersangka yang telah diamankan. Yakni, Risto, 20 tahun, dan Nando 19 tahun, keduanya berasal dari Kabupaten Manggarai Timur, pulau Flores.
Tidak hanya nama, dari Risto dan Nando, petugas juga mendapatkan nama masing-masing alamat kos empat pelaku lainnya. Bahkan, malam usai kejadian, petugas mendatangi alamat masing-masing pelaku. Tapi sayang, empat pelaku ini keburu kabur.
Di tempat kos masing-masing pelaku ini petugas hanya mengamankan beberapa barang, diantaranya foto-foto pelaku, HP dan dompet, kunci motor, buku tabungan BRI, dan BPKB motor.
Kemarin barang-barang  hasil temuan di rumah pelaku oleh petugas juga ikut dirilis.
“Ini merupakan foto-foto pelaku, termasuk barang-barang disini semuanya milik pelaku,’’ imbuh Kapolres.
Perwira dengan dua melati di pundak ini juga mengatakan, jika saat ini pihaknya masih melakukan pengejaran. Bahkan, pengejaran dilakukan tidak hanya di Kota Malang saja, tapi di kota lain juga.
“Kami mengejar, dan menyerukan para pelaku untuk menyerahkan diri. Jika tidak kami akan mengeluarkan surat Daftar Pencarian Orang (DPO) untuk para pelaku lainnya,’’ tegasnya.
Sementara dalam rilis kemarin, baik Risto maupun Nando mengakui ikut memukul saat terjadi pengeroyokan. Pemukulan dilakukan keduanya mulai di depan SPBU Brantas. Keduanya juga ikut menginjak-injak Fidelis. Bahkan, saat Fidelis telah terkapar, keduanya terus menginjak.
Disinggung apakah sebelumnya mengenal pelaku? Baik Risto dan Nando sama-sama menggelengkan kepala. Kepada petugas, meskipun satu kampus, namun keduanya tidak saling kenal.  Keduanya mengaku tahu Fidelis merupakan mahasiswa IBU, setelah ada petugas yang mengatakan.
Keduanya juga menggelengkan kepala saat ditanya persoalan, sehingga pengeroyokan tersebut terjadi. Keduanya hanya mengatakan saat kejadian keduanya hanya ikut-ikutan saja.
“Teman kami yang ada masalah, tapi kami tidak tahu apa masalahnya, waktu itu kami hanya ikutan saja,’’ aku tersangka.
Lantaran itulah, keduanya pun mengaku sangat menyesal dengan  perbuatan yang dilakukan.
Dalam rilis kemarin, Singgamata juga menghimbau kerusuhan ini menjadi yang terakhir di Kota Malang. Ke depannya, para pendatang harus mengikuti aturan yang ada di Kota Malang dan bersama-sama untuk menciptakan suasana kondusif. Dia juga mengatakan, kasus pengeroyokan ini diproses secara tuntas, dan para pelaku  diperoses hukum.
“Pasal yang kami terapkan adalah 170 ayat 3, yaitu pemukulan bersama-sama hingga menyebabkan korban meninggal. Ancaman hukuman  adalah 15 tahun penjara,’’ bebernya Singgamata.
Sementara itu, dari sumber Malang Post di Polres Malang Kota menyebutkan, empat pelaku yang saat ini dikejar salah satunya adalah mahasiswa Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama). Tapi begitu, sumber ini enggan menyebutkan nama mahasiswa tersebut.
Seperti yang diberitakan koran ini sebelumnya Polres Malang Kota bergerak cepat terkait kasus pengeroyokan yang menewaskan Fidelis Honto (20 tahun) Mahasiswa Fakultas Ilmu Eksakta dan Keolahragaan, IKIP Budi Utomo (IBU), di Jalan Trunojoyo, seberang Rawon Tessy.  
Terbukti, petugas tidak hanya mampu mengidentifikasi identitas para pelaku, tapi juga menangkap dua pelaku yang terilibat dalam pengeroyokan. Dua pelaku masing -masing Rista, 20 tahun, dan Nando, 19 tahun, keduanya berstatus sebagai mahasiswa IKIP Budi Utomo dan berasal dari Kabupaten Manggarai Timur, Kepulauan Flores.(ira/ary)