Dua Kubu Mahasiswa Unikama Berdamai


MALANG - Dua kubu antar suku mahasiswa Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), yang terlibat aksi saling serang Jumat malam lalu, akhirnya berdamai Sabtu dini  hari kemarin. Perdamaian tersebut ditandai penandatanganan surat pernyataan diatas materai bahwa mereka  tidak mengulangi kejadian tersebut.
Kabag Ops Polres Malang Kota Kompol Sunardi Riyono menjelaskan  proses perdamaian dipimpin  Wakapolres Malang Kota Kompol Dewa Putu Eka Darmawan  dan  Rektor Unikama Dr.Pieter Sahertian M.Si.Saat mendapatkan wejangan, para perwakilan dua suku yakni Ambon dan Sumba Timur  ini hanya diam.  Mereka nampak tertunduk lesu, seraya menyesali perbuatan semua perbuatan yang dilakukannya. “Saat pertemuan, tidak lagi membahas persoalan atau penyebab terjadinya bentrokan. Tapi lebih cenderung menyelesaikan perkaranya, dan membuat dua kubu ini berdamai,’’ tambah Sunardi kepada Malang Post kemarin.
Pemandangan menarik terjadi  pada saat  akhir pertemuan.  Karena  perwakilan suku yang hadir dalam pertemuan ini saling berpelukan. Bahkan, dihadapan yang hadir, sambil tersenyum keduanya saling meminta maaf. Meskipun tidak ada satupun pelaku tawuran diamankan, tapi dalam kasus tawuran ini, petugas mengamankan barang bukti tiga senjata tajam. Yakni dua parang dan satu pedang, serta bambu  dan kayu, juga batu berbagai ukuran yang digunakan sarana para pelaku untuk saling serang.
Sementara itu, Rektor Unikama, Dr Pieter Sahertian MSi., menjelaskan apabila akar masalah bermula akibat kesalah-pahaman antar masing-masing kubu, “Ketika mahasiswa asal Ambon bersama dengan teman wanitanya akan mengambil uang di ATM, kemudian mahasiswa dari Flores entah mungkin menyapa si perempuan, tetapi kemudian mungkin ada ketersinggungan.Sehingga si laki-lakinya (mahasiswa Ambon,red) tidak terima, kemudian terjadilah kejadian semalam.” terang  kepada Malang Post kemarin.
Kemudian, terkait dengan  informasi adanya keterlibatan Resimen Mahasiswa (Menwa) dalam aksi saling serang malam itu. Pieter mengaku belum mendapat laporan akan hal tersebut.Dia juga akan mendalami  “Saya belum dapat laporan tentang itu, tapi kalau memang sampai ada Menwa yang terlibat,  akan kita beri sanksi tegas, karena dia kan seharusnya berada di pihak netral,” ujarnya.
Lebih lanjut,Pieter Sahertian menuturkan universitas akan mengambil sanksi tegas apabila para mahasiswa tidak bisa menjaga keamanan dan kenyamanan kampus, dan justru semakin memperburuk citra universitas. Dipaparkan  pihaknya akan mengkaji kasus tawuran yang acap kali terjadi, jika semakin sering dilakukan maka ia akan mengambil langkah tegas berupa skrosing ataupun drop out.
Pietermengakui  aksi saling serang acapkali terjadi di kampus Unikama. Kedepannya pihak universitas akan lebih selektif lagi dalam memilih mahasiswa yang berasal dari wilayah Indonesia Timur dengan cara mensyaratkan laporan kelakuan baik calon mahasiswa selama di sekolah, “Selama ini yang kita terima adalah ijazah bukan rapor, kalau di rapor kan ada keterangan baik atau buruknya mahasiswa, ini bisa menjadi pertimbangan bagi kami untuk mengetahui rekam jejak kelakuan calon mahasiswa kami.” tambahnya.
Guna mengembalikan citra kampus, pihak Unikama akan melakukan kegiatan yang bernuansa kebersamaan antar suku, bisa berupa konser budaya atau kegiatan lain supaya masyarakat atau mahasiswa yang terdiri dari later belakang budaya, etnis, agama, dll., dapat bersatu dalam sebuah harmoni“Kalau disatukan dalam hal-hal yang positif akan  mejnjadi positif. Bidang kehumasan akan membuat event yang berunsur budaya dari beberapa suku dan kebudayaan dari seluruh Indonesia agar jiwa nasionalisme mereka lebih muncul lagi.” beber Pieter.
Sejauh ini tidak ada laporan terkait adanya korban jiwa dan pemukulan, hanya saja aksi tawuran kemarin berupa saling lempar batu antara kedua kubu. Saat ini suasana sekitar kampus sudah semakin kondusif, tidak ada pihak keamanan dari kepolisian yang berjaga-jaga, “Kedua belah pihak juga sudah saling bermaafan dan berangkulan,’’seru Pieter.
Lebih lanjut lagi Pieter menuturkan tetap akan melakukkan proses pembinaan kepada mahasiswa yang terlibat tawuran, dengan sosialisasi baik dari pihak senior dalam masing-masing organisasi daerah (orda) yang menaungi mereka, dan juga dari pihak kepolisian.“Mereka memiliki mekanisme dalam setiap orda dimana seniornya memberikan pembinaan dan arahan kepada junior, me ngenai bagaimana kamu seharusnya di kampus, bagaimana kamu seharusnya bersosialisasi di lingkungan yang budaya dan adat istiadatnya berbeda dengan tempat asal, perilaku apa yang tidak boleh, dan lain sebagainya,’’ seru Pieter. (ira/mg-6/nug)