Anak Polisi Dikeroyok Siswa SMP

Dani Bagus Tya H

Kumpulkan Bukti dan Saksi, Tunggu Musyawarah Keluarga
MALANG-Setelah tragedi pengeroyokan sesama mahasiswa, Kota Malang kembali ditimpa kasus serupa. Bedanya kali ini korban dan pelaku adalah pelajar SMP. Dani Bagus Tya H (13 tahun), siswa kelas VII SMPN 19 Malang menjadi korban pengeroyokan kakak kelasnya. Dua siswa kelas IX mengeroyok korban di pinggir lapangan Jalan Sempu (Lapangan Sampo, Red).
Kasusnya diseriusi oleh pihak kepolisian, Kamis (26/11) kemarin. Berdasarkan info yang dihimpun Malang Post, akar permasalahan bermula ketika Dani dan pelaku terlibat dalam salah paham saat bermain bola.  Yanti Dewi, sang ibunda, mengaku kaget saat menjemput Dani pulang sekolah dan mendapati putra bungsunya itu sudah dalam kondisi lemah.
"Namanya orang tua ya, saya kaget lihat anak saya sudah lemas." ujar ibu tiga anak tersebut.
Berdasarkan pengakuan sang anak,  kejadian bermula saat Dani bermain  sepak bola dengan kakak kelasnya itu. Hanya saja kecelakaan tak terelakkan saat pertandingan persahabatan tersebut dan berujung pada aksi balas dendam.
"Namanya anak pas main olahraga biasa lah, ketendang, kesikut, itu kan nggak sengaja. Tapi anak-anak itu nggak terima, akhirnya digitukan anak saya," jelas Yanti.
Lebih lanjut lagi Yanti menambahkan, saat pulang sekolah Dani digiring oleh kakak kelasnya ke sisi Lapangan Sampo yang sepi, kemudian pelaku pengeroyokan melakukan aksi.
Berdasarkan hasil visum, dada Dani masih dalam keadaan yang bagus, hanya saja bagian matanya masih perlu perawatan khusus. Itu akibat tendangan dan pukulan yang dilayangkan pelaku.
"Alhamdulillah kalau dada sudah nggak ada masalah, cuman mata ini yg katanya masih agak sakit. Kalau dalam waktu seminggu masih sakit sama dokter disuruh balik lagi," bebernya.
Terkait upaya yang dilakukan pihak keluarga, Yanti menyerahkan segalanya kepada sang suami, Anang Tri H. S. Sos, yang juga bekerja sebagai seorang polisi di Polres Malang Kabupaten di Kepanjen.
"Kalau sekarang sih sudah ditangani pihak kepolisian, kalau memang ada itikad baik berdamai dari pihak keluarga pelaku, saya serahkan sama bapaknya saja bagaimana. Biar ada jera nya juga," tegas Yanti.
Saat ditemui di kamarnya, Dani sedang berbaring akibat sakit yang ia rasakan. Bocah penggemar sepak bola tersebut menjelaskan apabila dada dan matanya masih teras sakit.
Meski mengaku sedikit ada trauma, Dani tidak ingin pindah sekolah karena sudah merasa akrab dan nyaman belajar di SMPN 19 Malang . Hanga saja ia berharap agar pelaku diberi sanksi tegas, supaya tidak terulang lagi kejadian serupa kepada teman teman lainnya.
Saat Malang Post mengkonfirmasi kesempatan, Anang ayah korban mengaku jika pihaknya sudah melaporkan hal tersebut ke PPA dan sudah diproses secara hukum. Perasaan geram terdengar jelas dari nada bicaranya.
“Ini menyangkut anak saya, bagaimanapun ini juga negara hukum, tindak kejahatan dan kekerasan yang dilakukan anak juga sudah ada undang-undangnya. Biar mereka juga jera dan tidak bermain-main lagi dengan hukum. Ini juga bisa menjadi pelajaran buat anak-anak sekolah lainnya, tugas mereka adalah belajar, bukan membuat onar,” urainya.

Jadi Atensi Serius

Kasus pengeroyokan yang melibatkan Dani Bagus Tya H (13), siswa kelas VII SMPN 19 Malang, menjadi atensi serius anggota Polres Malang Kota. Rabu (25/11) malam lalu, usai mendapat laporan, petugas langsung mendatangi TKP, untuk melakukan penyelidikan.
“Tadi malam (Rabu) dan tadi pagi (Kamis), kami mendatangi TKP, untuk mencari bukti-bukti serta saksi yang mengetahui kejadian ini,’’ kata Kasatreskrim Polres Malang Kota AKP Hariyanto Rantesalu.
Dikonfirmasi Malang Post tadi malam, Hariyanto mengatakan dalam kasus ini semua yang terlibat masih dibawah umur. Sehingga pihaknya pun tidak akan frontal.
“Kalau penanganan kasusnya sama, hanya perlakuannya berbeda. Setelah ini, kami akan memanggil pihak yang terkait sebagai saksi. Termasuk pelaku pengeroyokan akan kami panggil sebagai saksi terlebih dahulu,’’ urainya.
Kasat mengaku, kemarin dari pihak sekolah korban datang ke Polres Malang Kota. Pihak sekolah akan memanggil perwakilan masing-masing siswa yang terlibat dalam pengeroyokan.
“Tadi memang ke sini. Kita memberikan fasilitas tempat, katanya pihak sekolah akan memanggil pihak-pihak yang terkait, untuk mencari solusi,’’ tambahnya.
Dan hasil pertemuan itulah, nantinya akan dijadikan acuan penyidik, apakah kasus ini berlanjut atau tidak.
“Tunggu hasil pertemuan dulu. Kalau keluarga korban setuju berdamai dan mencabut laporannya ya kasus ini tidak dilanjutkan. Tapi kalau keluarga korban tidak mau berdamai kasusnya berlanjut,’’ urainya.
Lalu kapan pertemuan digelar? Harianto mengatakan secepatnya. “Besok (hari ini) kalau menurut rencana. Sekali lagi kami hanya memfasilitasi saja,’’ tandasnya.(mg6/ira/ary)