Pengacara Andalkan Kejantanan Gama

MALANG – Masih ingat dengan Gama Mulya, 24 tahun, mahasiswa Universitas Brawijaya yang dilaporkan menculik dan memperkosa mahasiswi. Kasus Gama dan sang pacar SAN (20 tahun) ini, memasuki persidangan perdana, Senin (30/11) kemarin.
Pengacara Gama, mengandalkan kejantanan Gama untuk menghindari dakwaan jaksa.
Dua sejoli itu disidang secara terpisah dan tertutup di PN Negeri Malang. Gama warga Perum Asrikaton dan kekasihnya SAN, 20 tahun, warga Junrejo, Batu sempat menghebohkan Malang. Dua sejoli yang ditangkap anggota Polres Malang Kota atas kejahatan seksual terhadap korbannya WW, 20 tahun, indekos di Jalan Gajayana IC, Kota Malang.
Meskipun saling berkaitan, namun keduanya menjalani sidang secara terpisah. Itu karena sejak awal tim penyidik telah memisah kasus ini. Sehingga sidang pun digelar terpisah dan digelar secara tertutup.
Kali pertama yang duduk di kursi pesakitan adalah Gama. Didampingi empat penasihat hukumnya  diketuai oleh Gunadi Handoko SH, Gama mendengarkan Jaksa Penuntut Umum Suwarni Warhab SH membacakan surat dakwaan.
Sesuai dengan surat dakwaan nomor 648/Pid.B/2015/PN MLG, Gama didakwa dengan empat pasal sekaligus. Empat pasal ini sesuai dengan yang disangkakan polisi. Yakni pasal 285 KUHP junto pasal 55 ayat 1 KUHP,  328 KUHP junto pasal 55 ayat 1 KUHP, pasal 286 KUHP junto pasal 55 ayat 1 KUHP dan pasal 290 KUHP junto pasal 55 ayat 1 KUHP.
Sidang perdana yang digelar dengan agenda pembacaan dakwaan tersebut berlangsung sangat singkat. Bahkan tidak lebih dari 15 menit, Tim majelis hakim yang diketuai oleh Lucas Prakoso SH, mengetukkan palu, sebagai tanda sidang selesai, dan dilanjutkan Senin (7/12) pekan depan.
Gama yang menggunakan kopiah dan rompi tahanan pun berdiri begitu palu hakim diketuk. Berama dengan tim penasihat hukumnya, dia keluar dari ruang persidangan dengan wajah sangat tenang.
Setelah Gama keluar dari ruang persidangan, gantian SAN yang masuk di ruang sidang. Dia pun mengikuti sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan dengan tenang. Sama seperti Gama, sidang perdana kemarin, Anin sapaan akrabnya juga didampingi penasihat hukumnya, yaitu Anzarnawan SH.
Seperti Gama, Anin juga didakwa dengan empat pasal sekaligus. Empat pasal sesuai dengan surat dakwaan nomor 649/Pid.B/2015/PN MLG, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suwarni Warhab SH membacakan empat pasal yang didakwakan. Yakni Yakni pasal 285 KUHP junto pasal 55 ayat 1 KUHP,  328 KUHP junto pasal 55 ayat 1 KUHP, pasal 286 KUHP junto pasal 55 ayat 1 KUHP dan pasal 290 KUHP junto pasal 55 ayat 1 KUHP.
Anin pun mendengar pembacaan surat dakwaan itu dengan tertunduk. Dia mendengarkan semua surat dakwaan dibacakan dengan tenang.
Sidang perdana Anin juga tidak berlangsung lama. Tim  majelis hakim mengetuk palu dan melanjutkan sidang Senin (7/12) minggu depan.
Kendati digelar terpisah, masing-masing tim penasihat hukum sama-sama mengatakan akan mengajukan eksepsi di sidang berikutnya. Alasannya adalah, ada beberapa kesalahan  pada persyaratan formil dakwaan.
“Kami mengajukan eksepsi minggu depan. Eksepsi ini bukan masuk pada materi ya, tapi pada syarat formilnya, seperti locus delicti, kejadiannya ada di Kabupaten Malang yaitu rumah Gama di Perum Asrikaton, tapi  ditangani oleh Polres Malang Kota. Ini kan tidak benar,’’ kata Gunadi Handoko.
Disinggung dengan surat dakwaan, Gunadi enggan menjawab. Namun begitu, dengan tegas dia mengatakan jika sampai saat ini Gama tidak pernah mengakui dia memperkosa WW ataupun menculiknya. Sebaliknya Gama mengatakan, jika yang melakukan penculikan adalah Anin.
“Kita buktikan saja nanti, sekarang baru masuk pada dakwaan. Yang pasti klien saya saat itu mengatakan korban masih menggunakan celana dalam, dan dia tidak bisa ereksi. Bagaimana bisa dikatakan perkosaan padahal celana dalam masih ada tidak bisa ereksi?,’’ tandas Gunadi.(ira/ary)