Warga Jalan Bromo Hanyut, Sekeluarga Disambar Petir

MALANG –Waspada bencana musim penghujan! Senin (30/11/15) kemarin, Slamet A.T Mulyono (50 tahun), warga Kelurahan Klojen hanyut terseret arus sungai di depan rumahnya Jalan Bromo Gang II RT II. Selain itu di Poncokusumo, satu keluarga juga menjadi korban sambaran petir ketika hujan deras, padahal mereka di dalam rumah.

Kota Malang belum selesai geger kejadian anak hanyut beberpa hari yang lalu, kejadian sama kembali terjadi. Sekitar pukul 16.00 WIB. Slamet yang berprofesi sebagai guru ini, saat itu hendak membuang bongkahan batu kerikil hasil bongkaran bangunan ke sungai dekat rumahnya.
“Menurut keterangan istri, saat itu arus sungai tempat suaminya inginmembuang batu bongkaran tersebut sedang deras-derasnya. Diduga, korban terpeleset dan hanyut terbawa arus sungai tersebut,” ujar Kompol Teguh Priyo Wasono Kapolsek Klojen saat dimintai keterangan.
Ia menambahkan, saat ini pihak tengah berusaha mencari korban dengan mengerahkan satu tim pencari bekerjasama dengan tim SAR, Unit Sabhara, Limas dan warga sekitar untuk ikut mencari korban. Ia menambahkan, jika malam ini tidak ditemukan sampai batas waktu yang ditentukan, pencarian akan dilanjutkan besok hari.
“Malam ini pencarian kami lakukan di daerah sungai Kasin. Jika belum juga ditemukan, kami akan sisir juga sampai sungai di daerah Janti,” pungkas Teguh.

Sementara itum hujan deras disertai petir yang terjadi akhir pekan lalu, ternyata juga membawa musibah.  Edi Prayitno, 36 tahun, warga Desa Wonomulyo, RT12 RW04, Kecamatan Poncokusumo, harus dilarikan ke RSSA Malang. Ia mengalami luka bakar di bagian dada dan betisnya, akibat tersambar petir.
Edi, sampai sore kemarin masih terbaring di ruang 13 RSSA Malang. Kondisinya masih kritis dan belum sadarkan diri. Sebab selain luka bakar, ia juga mengalami gegar otak. Itu setelah kepalanya membentur bak mandi, saat terjatuh.
Selain Edi, istrinya Anis serta dua anaknya yaitu Aufa Zaidah dan Hibban, juga ikut dilarikan ke RSSA Malang. Mereka bertiga juga mengalami luka bakar, namun tidak terlalu serius.
“Hanya Edi yang mengalami luka serius. Sedangkan istri dan anak-anaknya tidak sampai parah. Mereka kemarin (Minggu, red) langsung dilarikan ke RSSA Malang,” terang Alis Usman, petugas tanggap bencana darurat (Tagana) Kabupaten Malang.
Informasi yang diperoleh, peristiwa yang langsung menggemparkan warga sekitar itu terjadi sore hari. Saat itu, Edi sedang mandi. Ketika selesai mandi, ia membuka pintu kamar mandi dan berniat keluar. Namun belum sempat melangkah, petir langsung menyambar rumah dan tubuhnya.
Ia langsung terpental dan kepalanya membentur bak mandi. Istri dan dua anaknya yang ada di ruang tengah, ikut tersambar. Warga sekitar yang mengetahui kejadian itu, langsung menolong. Selain melaporkan ke perangkat desa, sebagian warga lantas membawanya ke RSSA Malang.
“Kondisi rumahnya juga rusak akibat sambaran petir itu. Saat ini kami (Tagana) dibantu Koramil dan perangkat desa, masih mendata sejumlah kerusakan. Dan selain menyambar rumah Edi, pohon bambu di Dusun Simpar, Desa Wonomulyo, juga ikut rusak akibat sambaran petir,” terangnya.
Kepala BPBD Kabupaten Malang, Hafie Lutfi, dikonfirmasi tentang kejadian itu membenarkannya. Ia mengatakan bahwa peristiwa itu, masuk dalam bencana alam dan menjadi tanggungjawab BPBD serta Pemerintah Kabupaten Malang.
“Kami sudah mendapat informasi tentang kejadian itu. Namun untuk laporan resminya, masih belum kami terima. Anggota masih melakukan pengecekan dan pendataan ke lokasi,” ujarnya kepada Malang Post saat dikonfirmasi siang kemarin.
Meskipun demikian, Hafie mengatakan akan memberikan bantuan dasar kepada keluarga korban, seperti makanan siap saji. Sedangkan untuk perbaikan rumah dan perawatannya, nanti akan diusulkannya ke Pemerintah Kabupaten Malang. “Akan saya usulkan ke Bupati Malang, biar nanti diarahkan kemana yang harus memberikan bantuan perbaikan dan perawatan,” jelas Hafie.
Selain kejadian di Poncokusumo, hujan deras disertai petir dan angin, juga membawa petaka di Kecamatan Kromengan serta Wonosari. Di Kromengan, angin puting beliung merusak dua rumah di Desa Karangrejo, Kromengan. Kondisi rumahnya rusak berat, dan kemarin masih dilakukan pendataan.
Sedangkan di Kecamatan Wonosari, angin puting beliung merusak tujuh rumah, satu kandang ayam, teras parker sekolah dasar serta teras Balai Desa Kluwud. “Kerusakannya tidak parah dan tidak sampai ada korban,” katanya.
Dengan kejadian peristiwa tersebut, Hafie mengimbau kepada masyarakat di Kabupaten Malang untuk terus waspada. Karena intensitas hujan mulai tinggi. “Biasanya hujan pertama-tama ini selalu disertai dengan angin kencang dan petir,” ucapnya.(agp/ica/ary)