Geledah Rumah Pak Haji Kotalama

MALANG – Motif pengeroyokan terhadap Mohammad Sodiq, 40 tahun, warga Jalan Gadang Gg 21A hingga kini belum diketahui secara pasti. Polres Malang Kota yang sempat mengamankan lima orang, hanya berstatus saksi. Belum satupun dari mereka ditetapkan sebagai tersangka hingga Senin (30/11) kemarin.
“Sampai saat ini masih diperiksa sebagai saksi,’’ terang Kapolres Malang Kota AKBP Singgamata.
Dijelaskan oleh Singgamata, lima orang yang diamankan ini mengaku tidak tahu menahu terkait dengan kasus pengeroyokan tersebut. Tapi begitu, bukan berarti petugas percaya begitu saja dengan keterangan yang disampaikan. Terbukti hingga sore kemarin, lima orang yang mengaku datang dari Madura ini belum dipulangkan. Lima pelaku ini masih berada di Polres Malang Kota, dan masih menjalani pemeriksaan.
“Mereka masih dimintai keterangan,’’ tambahnya.
Lima orang yang diamankan ini masih menjalani pemeriksaan. Mereka diperiksa di ruang yang berbeda. Saat pemeriksaan dilakukan, kelima orang ini juga tidak terlihat tegang. Bahkan beberapa diantaranya sempat terlihat mondar-mandir ke kamar mandi.
Kapolres sendiri mengaku jika kasus pengeroyokan ini sudah memiliki titik terang. Itu seiring dengan identitas para pelaku telah dikantongi oleh petugas. “Sekarang fokusnya adalah mencari orang-orang yang identitasnya sudah kami kantongi itu. Termasuk ada anggota yang sekarang melakukan pengejaran di wilayah Bangkalan, Madura,’’ katanya.
Perwira dengan dua melati di pundak ini tidak memungkiri, jika sejak kasus pengeroyokan ini terjadi, anggotanya langsung disebar. Ini dilakukan, agar cepat menangkap para pelaku. Termasuk Minggu (29/11) malam lalu. Anggota Polres Malang Kota mendatangi rumah H Nasir, di wilayah Kotalama.
Kedatangan petugas di rumah H Nasir ini sempat membuat gempar warga. Itu karena polisi yang datang jumlahnya banyak. Mereka tidak hanya berpakaian preman, tapi juga berpakaian seragam dengan senjata laras panjang di tangan.
“Kami mengiranya menggerebek rumah teroris. Karena yang datang banyak dan hampir semuanya membawa senjata api, baik pistol ataupun senjata laras panjang,’’ kata warga.
Warga sendiri dilarang untuk mendekat di rumah yang digerebek. Kalaupun ada warga yang mendekat, petugas tidak segan-segan membentaknya, dan menyuruhnya menjauh.
“Tadi tidak boleh mendekat, waktu saya mendekat langsung dibentak dan disuruh pergi,’’ kata Mega Surya.
Seperti di rumah H Robi alias H Umar Farouq, warga Jalan Gadang Gg VI, pintu rumah H Nasir juga harus dibuka paksa oleh petugas. Itu karena, tidak ada satu orang pun yang merespon, meskipun petugas mengetuk pintu berulangkali.
Tapi begitu, saat pintu terbuka, rumah tersebut betul-betul kosong. H Nasir beserta istri dan keluarganya tidak berada di tempat. Menurut warga sekitar, H Nasir dan keluarganya sudah pergi sejak siang. Kendati begitu, disaksikan warga petugas kemudian melakukan penggeledahan. Tapi begitu, petugas tidak mendapatkan apapun.
Lalu apa hubungan H Nasir dengan kasus ini? Salah satu sumber Malang Post menyebutkan jika H Nasir adalah diduga sebagai otak pelaku pengeroyokan. Nama H Nasir sendiri diperoleh petugas dari keterangan para saksi.  
Sementara itu terkait dengan kasus pengeroyokan ini, Kapolres juga mengatakan, pihaknya mengirimkan sample darah ke Labfor Cabang Polda Jatim. Sample darah yang dikirim ke Labfor adalah sample darah yang ditemukan petugas pada dua senjata tajam yang Minggu (29/11) lalu diamankan.
Selain itu, darah yang tertinggal di senjata tajam, petugas juga mengirim sample darah yang ditemukan di dalam mobil. Menurut Kapolres dikirimkanya sample darah tersebut untuk mengetahui darah tersebut milik siapa.
“Nanti dari hasil tersebut akan kita cocokkan, apakah darah tersebut milik korban atau milik pelaku,’’  tambah Kapolres.
Selain itu kemarin anggota Inafis Polres Malang Kota juga melakukan pemeriksaan terhadap dua mobil yang digunakan pelaku mendatangi korban. Pemeriksaan dilakukan untuk mencari bekas sidik jari tersangka.
Tapi begitu, saat melakukan pemeriksaan petugas sempat kaget dengan nopol mobil Toyota Kijang Innova L 1706 RS. Pasalnya plat nomor mobil ini juga terpasang stiker Mabes Polri. Stiker tersebut terpasang di plat nomor belakang.
“Identitas mobil juga masih diselidiki. Yang jelas, saat ini anggota masih bekerja, dan harapannya kasus ini cepat terungkap,’’ tambah Kapolresta.
Dia juga menghimbau, kasus pengeroyokan ini tidak melebar, dan tidak boleh ada yang balas dendam dengan penyerangan balik. Dia meminta pihak-pihak yang terkait dengan kasus ini tenang, dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.
Seperti yang diberitakan koran ini sebelumnya pengeroyokan terjadi di depan Ruko Fun Zone Game PS 3, area ruko Gadang, Jalan Satsuit Tubun. Pelaku yang berjumlah tujuh orang menyerang Mohammad Sodiq, 40 tahun, warga Jalan Gadang Gg 21A menggunakan senjata tajam. Pelaku membantai korban, meskipun TKP, berada 30 meter dari pos polisi Gadang.
Dengan membabi buta mereka menyabetkan senjata tajam berupa parang, celurit dan pisau kea rah pelaku. Akibatnya, Sodiq pun mengalami luka parah. Dua jarinya yakni jempol dan telunjuk tangan kanannya putus, punggungnya mengalami luka robek memanjang, dan perutnya terlihat luka tusukan. Hingga berita ini diturunkan, korban masih menjalani perawatan intensif di IRD RSSA Malang.
Aksi sadis para pelaku ini terekam oleh kamera CCTV pertokoan Alfamart, yang berada di letakknya bersebelahan dengan TKP. Bahkan dari rekaman CCTV berdurasi satu menit tersebut anggota Polsekta Sukun dan Polres Malang Kota berhasil mengamankan lima orang yang diduga pelaku. Kelimanya diamankan petugas di salah satu rumah Jalan Sonokeling Gg Nusa Indah, Kelurahan Janti.(ira/ary)