Rumah Istri Sam Ikul Dieksekusi, Winarso Menggugat

MALANG – Masih ingat dengan Winarso, Direktur PT Arema Indonesia yang namanya sempat heboh saat terjadi dualisme Arema. Pria ini melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Malang. Tapi bukan gugatan penggunaan logo kepala singa, dia melayangkan gugatan perlawanan eksekusi terhadap Hendrawati Endang (istri Lucky Acub Zaenal) sebagai tergugat satu, KSU Mitra Rakyat sebagai tergugat dua dan kantor lelang sebagai tergugat tiga.
Gugatan perlawanan eksekusi tersebut didaftarkan Winarso melalui kuasa hukumnya Slamet Supriyadi SH 20 November lalu. Rencananya gugatan perlawanan eksekusi dengan Nomor, 191/PID.PLW/2015/PN MLG tersebut akan sidang perdana Rabu (16/12) mendatang.

Menurut informasi, gugatan yang dilayangkan ini di dalamnya ada tiga permintaan. Yaitu pertama mengabulkan gugatan perlawanan, kedua menyatakan perjanjian yang dibuat 13 Januari 2013 lalu sah demi hukum, dan ketiga adalah menunda pelaksanaan ekseskusi.
Tidak jelas apa yang menyebabkan Winarso menggugat perlawanan. Dari informasi yang diperoleh Malang Post gugatan perlawanan eksekusi ini berkaitan dengan rencana eksekusi rumah di wilayah Tidar yang saat ini dtempati oleh Hendrawati Endang (istri dari almarhum Lucky Acub Zaenal).
Diperoleh informasi, awalnya Hendrawati Endang (istri dari almarhum Lucky Acub Zaenal) melakukan peminjaman uang ke Koperasi Serba Usaha Mitra Rakyat senilai Rp 1 Miliar. Tidak jelas kapan pinjaman dilakukan. Jaminan yang diberikan adalah rumah yang ditempati, yaitu di daerah Tidar.
Di awal, pembayaran Hendrawati cukup lancar. Namun kemudian macet. Bahkan hingga jatuh tempo waktu peminjaman, pun Hendrawati tidak bisa melunasi.
Sesuai perjanjian, setelah sekian lama tidak melunasi pinjaman tersebut, pihak KSU Mitra Rakyat melelakukan penyitaan. Melalui kuasa hukumnya Aristoteles SH kemudian mengajukan sita ekseskusi ke PN Malang. Selanjutnya pihak PN Malang menindaklanjutinya dengan melakukan Aanmaning (peringatan). “Aanmaning dilayangkan dua kali terakhir 24 November lalu,’’ kata Aristoteles saat ditemui Malang Post di PN Malang kemarin.
Dari Aanmaning ke 2 tersebut, Aristoteles menguraikan Hendrawati sepakat untuk mengosongkan rumah. Persetujuan tersebut dikuatkan dengan surat pernyataan, dimana Hendrawati diwakili oleh penasihat hukumnya yaitu Erpin.
“Rencananya eksekusi sita akan dilakukan Desember ini. Untuk waktunya kami menunggu teken dari Ketua PN Malang,’’ kata Aristoteles.
Aristoteles sendiri tidak tahu menahu dengan apa yang menjadikan Winarso ini melayangkan gugatan perlawanan ekseskusi tersebut. Tapi begitu, meskipun kubu Winarso ini menggugat tidak akan mempengaruhi proses sita eksekusi. “Tidak masalah dia (Winarso) melayangkan gugatan. Tapi yang jelas sejak awal pinjaman Winarso mengetahui, dan ikut meneken perjanjian pinjaman,’’ tambah Aristoteles.
Selain itu sambung Aristoteles Winarso juga beberapa kali membayar bunga utang ke KSU Mitra Rakyat. “Sebagai tergugat dua kami sama sekali tidak takut, karena faktanya sangat jelas,’’ tandasnya.
Sementara itu Winarso melalui kuasa hukumnya Slamet Supriyadi SH mengakui gugatan tersebut. Dihubungi Malang Post tadi malam, gugatan dilayangkan karena ada perjanjian sewa menyewa dengan pihak tergugat.
“Ada perjanjian sewa yang dilanggar, makanya kita menggugat,’’ katanya. Tapi begitu saat ditanya detail perjanjian sewa yang dilanggar, , telepon yang menghubungkan terputus. Dan saat Malang Post menghubungi kembali beberapa kali tidak tersambung.(ira/ary)