KSP Karya Utama Dilaporkan ke Polisi

MALANG –  Kasus koperasi bermasalah kembali terjadi. Kesabaran Arif Rahman, 38 tahun, sebagai anggota  terhadap manajemen Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Karya Utama, Jalan Cengger Ayam telah habis. Kemarin, didampingi penasihat hukumnya, Wiwit Tuhu SH, warga Jalan Arumdalu, Kota Malang ini melaporkan Koperasi Karya Utama ke Polres Malang Kota.  
“Dalam surat yang kami serahkan tadi ada dua point pengaduan, pertama dana yang dimasukkan ke koperasi tidak bisa ditarik, dan kedua tidak ada laporan penggunaan atau tidak ada pertanggung jawaban koperasi terkait dengan pengelolaan dana,’’ kata Arif kepada Malang Post, kemarin.
Ditegaskannya, dia terpaksa melaporkan Koperasi Karya Utama lantaran pihak koperasi tidak mau mencairkan dana miliknya, sehingga dia mengalami kerugian Rp 68 juta. Juni 2013 lalu, dia menabung di koperasi tersebut, dengan setoran awal Rp 3 juta. Selain menabung biasa, Arif juga ikut tabungan berjangka di koperasi tersebut Rp 50 juta.
“Ada dua produk tabungan atau simpanan yang saya ikuti. Pertama tabungan biasa, dan kedua tabungan berjangka,’’ katanya.
Uang Rp 50 juta itu menurutnya, disetorkan 8 Juli 2014 lalu. Sesuai dengan Surat Simpanan Berjangka (Sijangkop) nomor 001303/KKU/VIII/14,  jatuh tempo uang tersebut dapat dicairkan kembali 8 Juli 2015, dengan bunga 16,2 persen.
“Tadinya kami tidak berpikir macam-macam, karena selama ini memang tidak ada masalah,’’ urainya.
Permasalahan baru muncul, saat Arif datang ke koperasi untuk mencairkan dananya. “Kalau tanggalnya saya lupa, tapi yang jelas waktu itu saya datang untuk mencairkan dana deposito,’’ terangnya.
Tapi begitu Arif kaget, karena saat itu pihak manajemen mengatakan tidak ada dana, dan meminta Arif untuk kembali beberapa hari kemudian. Awalnya Arif percaya, dia pun pulang dan kembali datang ke koperasi satu minggu kemudian. Tapi hanya mendapat janji lagi, karena pihak koperasi tidak bisa mencairkan. “Setelah beberapa kali saya datang, pihak koperasi justru melebur uang deposito saya ke tabungan biasa. Saya sendiri tidak bisa apa-apa, dan mengiyakan saja. Tapi harapan saya saat itu adalah uang saya dapat segera dicairkan,’’ katanya.
Suami dari Badiatus Sholichah ini kemudian merasa jengkel dengan pihak koperasi. Pasalnya selain dana miliknya tidak bisa dicairkan pihak koperasi juga terus menghilang. “Dari situ kami menilai tidak ada itikad baik koperasi. Makanya saya mengadu ke sini,’’ katanya.
Arif memang bukan nasabah satu-satunya yang ingin mengadukan ke koperasi Karya Utama ke Polres Malang Kota. Menurut Wiwit Tuhu SH penasihat hukum Arif, ada tujuh nasabah lain yang uangnya juga tersendat di koperasi. “Total ada delapan nasabah yang kami tangani. Tapi baru pak Arif yang mengadu,’’ kata Wiwit.
Wiwit menyebutkan, dari cerita Arif,  yang dilakukan koperasi tidak sekadar wanprestasi. Tapi sudah merujuk pada unsur pidana, yaitu penggelapan uang. “Disini kami tidak melaporkan perorangan, tapi perusahaan atau lembaganya. Karena disisi lain, ada pengelolaan yang salah pada koperasi,’’ katanya.
Tepisah, Kasubag Humas Polres Malang Kota AKP Nunung Anggraeni mengakui adanya pengaduan yang dilayangkan Arif Rahman terhadap Koperasi Karya Utama. Dan saat ini surat pengaduan tersebut masih dipelajari. “Tadi memang ada, sekarang masih dipelajari oleh anggota reskrim,’’ katanya.
Sementara dari pantauan Malang Post, Koperasi Karya Utama sendiri kemarin terlihat tutup. Di depan pintu, juga terpasang gembok. “Beberapa bulan terakhir jarang buka. Kalaupun buka hanya sebentar, jam 12 begitu sudah tutup,’’ kata warga. Warga mengaku beberapa kali pernah melihat ada orang datang dan pulang marah-marah. Tapi begitu, dia sendiri tidak tahu menahu persoalan kemarahan warga. ‘’Kalau isu yang kami dengar karena koperasi tidak bisa mencairkan dana nasabah. Tapi untuk jelasnya saya tidak tahu,’’ tandasnya.(ira/aim)