Terguling 50 Meter, Balita Itu Ikut Tewas

SINGOSARI – Tabrakan keras memecah keheningan suasana di Jalan Raya Ardimulyo, Kecamatan Singosari, dini hari kemarin. Bis Restu Mulya DK 9000 IH, menabrak Daihatsu Hijet N 897 BA, hingga terbalik dan berguling-guling sekitar 50 meter. Akibatnya, empat orang dari delapan penumpang di dalam mobil Hijet itu, tewas seketika.
Empat orang yang tewas itu antara lain, sopir Daihatsu Hijet, Supeno 59 tahun, Gatot, 58 tahun, Subekti, 52 tahun, dan seorang balita bernama Bima, 3 tahun. Sedangkan empat orang yang selamat dan mengalami luka-luka antara lain, Bambang Wahono, 71 tahun, Tiya Tira, 17 tahun, Enos Emanuel Zoe, 7 tahun dan Yohanes, 13 tahun.
Seluruh penumpang dan sopir naas tersebut, merupakan warga Desa Harjokuncaran, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe). Korban yang mengalami luka-luka, saat ini dirawat di RSSA Kota Malang. Menurut informasi yang dihimpun di lapangan, kecelakaan maut terjadi sekitar pukul 03.30 WIB.
Saat itu, rombongan mobil Hijet tersebut baru saja pulang dari pesta pernikahan salah seorang kerabat mereka di Sidoarjo menuju tempat asal di Sumawe. Ketika mendekati lokasi kejadian, mobil itu berkecapatan pelan dan melaju sisi kiri atau pada area lambat. Dari arah yang sama, datang bus Restu yang melaju kencang.
Bus tersebut, dikemudikan Jari, 32 tahun, warga Desa Kalipucung, Kecamatan Sanan Kulon, Kabupaten Blitar. Saat itu, bus yang melaju dengan tujuan garasi di Kota Malang, hendak menyalip dari sisi kanan. Saat menyalip, ternyata ternyata jarak terlalu mepet. Sehingga, bus tersebut menabrak bagian belakang mobil Hijet.
“Terjadi tabrak belakang antara kedua kendaraan tersebut. akibatnya, mobil hijet berukuran kecil ini terbalik dan terguling-guling di jalanan,” ujar Petugas Lantas Pos Laka Singosari, Aiptu Hariyanto, kepada wartawan, kemarin.
Hijet itu terguling-guling hingga lebih dari 50 meter. Mobil Hijet berhenti berguling-guling, setelah menabrak pembatas jalan.
“Akibatnya, tiga orang tewas di lokasi kejadian. Sedangkan sopir mobil Hijet, tewas saat dalam perjalanan menuju RSSA Kota Malang,” terangnya.
Dia menjelaskan, empat korban yang tewas, langsung dibawa ke Kamar Mayat RSSA Kota Malang untuk divisum. Sedangkan empat orang yang mengalami luka-luka, semula dirawat di RS Prima Husada Singosari, kemudian dirujuk ke RSSA Kota Malang.
“Setelah mengevakuasi korban, kami langsung melakukan Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP),” imbuhnya.
Terkait kecelakaan ini, pihaknya belum menetapkan tersangka dan masih terus melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab utamanya. “Untuk sopir bus, sudah kami amankan sementara waktu di Satpas Singosari. Begitu juga dengan dua kendaraan itu, sudah kami amaknkan di tempat itu pula,” pungkasnya.
Salah satu korban tewas akibat kecelakaan di Jalan Ardimulyo, Singosari adalah Supeno. Dia adalah pengemudi mobil Daihatsu Hijet N 897 BA. Bapak dua anak tewas dengan luka parah di kepala. Jenazah Supeno  kemarin langsung dibawa pulang keluarganya setelah lebih dulu divisum di kamar jenazah RSSA Malang.
Sri Supantina, 48 tahun, adik kandung kandung Supeno, mengaku sama sekali tidak menyangka jika kakaknya ikut menjadi korban dalam kecelakaan tersebut. “Tadi dikabari sekitar pukul 04.00, oleh Bambang korban yang selamat. Pak Bambang  menelpon keluarganya  di Sumbermanjingwetan, kemudian keluarga pak Bambang memberitahu kami,’’ kata Sri dengan mata sembab.
Kabar duka ini membuat Sri dan keluarga Supeno lainnya tidak hanya terkejut. Mereka juga langsung shok. Terlebih Munarti, istri korban langsung lemas begitu mendengar kabar duka tersebut. Tapi begitu, Sri dan keluarganya yang lain tidak mau percaya begitu saja. Mereka langsung mengecek ke kamar jenazah RSSA Malang. Tangis keluarga inipun langsung pecah, saat melihat Supeno yang sudah tak bernyawa dengan luka di sekujur tubuhnya.
“Saya tidak berani melihat. Lukanya banyak,’’ tambah Sri yang mengaku shok begitu melihat jenazah korban.
Sri sendiri mengatakan jika kesehariannya Supeno bekerja serabutan. Tapi keahliannya mengemudikan mobil membuat Supeno kerap dimintai tolong warga untuk menyopir saat keluar kota. Tidak terkecuali Subekti. Dia juga meminta tolong Supeno, untuk diantarkan ke Sidoarjo.
“Kakak saya berangkat Sabtu (19/12) sore sekitar pukul 15.00,’’ tuturnya. Saat berangkat, Supeno sama sekali tidak memperlihatkan gelagat yang mencurigakan. Dia berangkat setelah berpamitan dengan Munarti.
“Kepada istrinya kakak saya mengatakan akan pulang Subuh, dan akan sampai rumah pagi,’’ kata Sri. Itu dibuktikan, pukul 02.00 Supeno menghubungi istrinya, dan mengatakan pulang ke Malang. Munarti pun sama sekali tidak memiliki firasat, dia hanya berpesan kepada Supeno agar berhati-hati, dan jika lelah lebih baik beristirahat.
“Selang dua jam, kami justru mendapatkan kabar duka,’’ urai Sri sembari menyeka air matanya..
Disinggung apakah ada hubungan keluarga dengan Subekti, Sri langsung menggelengkan kepala. Hubungan Supeno dengan Subekti dan keluarganya hanya tetangga tapi tidak ada hubungan keluarga. Sri hanya mengatakan, Supeno mengantarkan keluarga Subekti. “Selain kakak saya yang meninggal itu semua memiliki hubungan keluarga,’’ tambahnya.
Dia menguraikan, Subekti korban yang meninggal adalah istri dari Bambang Wahono korban selamat. Sementara Bima adalah Cucu Subekti, sedangkan Gatot adalah saudara Bambang. Sedangkan korban yang luka-luka lainnya yaitu Tiya Tira, Enos Emanuel Zoe, dan Yohanes, adalah cucu Subekti. “Bu Subekti mengunjungi anaknya di Sidoarjo yang baru melahirkan,’’ tandas Sri.(big/ira/ary)