Asyik Nonton Bola, Gudang Kayu Ambrol


MALANG – Keseruan menonton pertandingan sepak bola antara Arema melawan Pusamania  Borneo FC yang berlangsung di keluarga Djatim (67), warga RT 5 RW 3 Polehan, Selasa (22/12) malam lalu, terusik dengan suara gemuruh yang datang tiba-tiba di belakang rumahnya. Sekitar pukul 20.00 WIB, bunyi suara bangunan roboh, mengusik keseruan mereka menonton sepak bola.

“Setelah gol pertama, tidak sampai lama. Tiba-tiba ada suara bruk, yang terjadi hampir lima menit,” ujar Djatim, yang bersama anaknya paling mendengar suara tersebut.Seketika dia melihat ke luar rumah, dan sudah mendapati bangunan pondasi yang sudah dibuat sekitar lima bulan lalu, telah amblas karena tanah di bawahnya tergerus air hujan. Tidak hanya itu, ketika pondasi tersebut jebol, gudang kayu yang berdampingan, juga turut roboh.
“Malah gudang kayu milik Pak Saruki yang terlihat parah. Sebab, tumpukan kayu bakar mereka jatuh tidak beraturan,” beber dia kepada Malang Post.Namun beruntung, runtuhnya pondasi rumah yang baru akan dilanjutkan tahun depan itu, tidak sampai ke rumah Djatim. Sehingga, kerugian yang dihasilkan tidak begitu besar, hanya sekitar Rp 10 juta. “Tidak ada barang-barang, semua masih aman dan selamat,” tambahnya.
Sementara itu, rumah yang tidak jauh dari aliran Sungai Bango itu, merupakan satu lokasi yang rawan longsor. Kondisi wilayah yang berada tepat di atas tanah yang gampang tergerus air, juga telah membuat beberapa kali longsor. “Dulu pernah, tetapi sudah lama tidak terjadi,” ujarnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, J Hartono mengatakan, wilayah RT 5 RW 3 memang sudah menjadi lokasi yang dipetakan rawan bencana, terutama ketika musim hujan. “Buktinya, masih awal musim hujan langsung longsor meskipun tidak begitu parah,” paparnya.
Menurut dia, BPBD akan segera bertindak membantu korban. Caranya, dengan tim bergerak membersihkan reruntuhan, dalam 1-2 hari lagi. Selain itu, juga dengan memperbaiki area tersebut, agar tidak merembet ke beberapa rumah lainnya. Sebab, ada tiga rumah yang termasuk rawan amblas jika tanah tergerus air hujan. Hal ini terlihat, area jalan yang dicor ini sudah retak dan potensi ambrol terhitung besar.“Memang area ini rawan bencana. Untuk tempat lainnya, sedang kami kolaborasikan dengan Bapeda, dan selanjutnya disosialisasikan untuk menentukan apa yang harus dikerjakan,” tandasnya. (ley/nug)