Gas Ngowos, Sekeluarga Terbakar

MALANG – Konversi gas, sudah berlangsung bertahun-tahun lalu. Hanya saja, kecelakaan akibat tabung gas LPG, masih terus terjadi. Kemarin, satu keluarga terpaksa dilarikan ke IRD RSSA Malang. Keempat orang itu, menderita luka bakar yang serius. Hingga berita ini ditulis, keempatnya belum dipindahkan.
Keempat warga Dusun Purboyo RT15 RW03, Desa Purwosekar, Tajinan itu, diduga terbakar akibat gas LPG yang ngowos. Mereka adalah Mujiati, 37 tahun, Agung Nur Affianto, 10 tahun, Ratih, 57 tahun, dan Tiasih, 47 tahun.
‘Mujiati dan Agung adalah istri dan anak saya. Ratih itu ibu mertua saya dan Tiasih itu adiknya mertua,’’ kata Misdi, pemilik rumah sekaligus kepala rumah tangga. Misdi bisa selamat, karena saat kejadian, dia sudah berada di ladang.
Sayangnya, Misdi tidak bisa menjelaskan kejadian yang menimpa keluarganya. Dia hanya mendengar dari tetangga, seputar kasus tersebut.
Awalnya, sekitar pukul 05.00, keluarga Misdi memasak untuk memperingati seribu hari salah satu anggota keluarga yang meninggal.
Mujiati yang berinisiatif memasak di dapur, terlebih dahulu menghidupkan tungku berbahan bakar kayu untuk memasak nasi. Tungku itu, terletak di bagian timur rumahnya.
Di dapur lainnya yang berdekatan dengan kamar mandi, di bagian barat rumah, berjarak sekitar lima meter dari dapur utara, Mujiati juga menghidupkan kompor gas.
Hanya saja, beberapa kali pematik kompor gas dibuka, tidak ada reaksi pada kompor tersebut. Untuk memastikan gas masih ada, Mujiati mencabut selang regulator dan memasang kembali.
Ketika itulah terdengar gas ngowos. Merasa ada yang salah, Mujiati melepasnya kembali dan diambilnya ban bekas dengan maksud untuk mengganjal posisi tabung. Hanya saja, usaha itu sia-sia hingga akhirnya tabung warna hijau muda itu pun dibawanya ke kamar mandi.
Saat tabung dibawa ke kamar mandi itulah, ketiga keluarga Mujiati termasuk anak ketiganya, Agung, sudah berada di dapur. Tidak berapa lama, tiba-tiba api langsung merambat dari tungku masak nasi menuju ke arah dapur barat yang berdekatan dengan kamar mandi.
Tak urung, Agung, Ratih dan Tiasih tersambar api. Termasuk Mujiati yang berada di kamar mandi, juga terjilat api. Secara reflek, tabung yang dia pegang, dimasukkan bak mandi.
Jeritan empat orang yang terbakar itupun mematik perhatian tetangga lainnya. Hanya saja, para tetangga kesulitan memadamkan api yang membakar tubuh korban.
‘’Kejadian ini cepat diketahui, karena Tiasih berteriak minta tolong. Itulah mengapa, kemudian banyak tahu. Meski pintu dapur masih tertutup dan api hanya menyala di bagian dapur serta tidak sampai menimbulkan ledakan,’’ ujar Jumaiyah.
Api juga sempat membakar peralatan masak lainnya, termasuk bahan-bahan makanan yang akan dimasak. Masih beruntung, listrik di rumah itu sempat dipadamkan.
Sedang tetangga yang lainnya, menolong keempat korban dari amukan api dengan alat seadanya. Setelah api padam, kondisi keempat korban sangat tragis. Tak mau menunda waktu, tetangga membawa keempatnya ke RSSA.
Sementara Misdi, 43 tahun suami Mujiati, mengaku shock saat mendapat kabar jika keluarganya terbakar dan dirawat di RSSA Malang. Itu sebabnya, pria yang kesehariannya menjadi buruh membuat batu bata ini langsung pulang, selanjutnya menuju ke RSSA Malang untuk melihat kondisi anak serta istri dan keluarganya yang lain.
Ditemui Malang Post di RSSA, Misdi tak banyak bicara. Masih terlihat jelas kesedihan di raut wajah bapak tiga anak itu. Terutama saat melihat kondisi Agung, yang mengalami luka bakar hampir 50 persen. Sesekali, Misdi menghela nafas dalam melihat kondisi keluarganya.
‘’Kalau ceritanya bagaimana saya tidak tahu, karena saat itu saya sudah berada di ladang bersama Yepi anak saya nomor satu,’’ kata Misdi  yang mengetahui jika keluarganya terkena musibah dari salah satu warga yang memberitahu.
Misdi juga mengaku, kemarin di rumahnya akan menggelar selamatan untuk memperingati seribu hari neneknya. Itu sebabnya, Tiasih yang kesehariannya tinggal di Tajinan datang untuk membantu masak. ‘’Rencananya nanti malam (Senin malam, Red.) ada selamatan seribu hari nenek saya, jadi rencananya masak-masak,’’ kata Misdi.
Misdi juga tidak tahu menahu siapa yang mengganti tabung gas. Hanya saja, selama ini Mujiati yang mengganti, dan selama ini tidak pernah terjadi apa-apa. ‘’Itu yang saya heran, biasanya tidak ada apa-apa, malah saat akan digunakan masak-masak justru bocor,’’ tambah Misdi.
Tapi Misdi mengaku masih bersyukur, lantaran anggota keluarganya masih selamat sekalipun mengalami luka bakar. Dia juga sedikit lega, karena dokter yang memeriksa keluarganya mengatakan jika kondisi para korban tidak parah.
‘’Katanya siang ini akan dipindahkan ke ruang 15 (ruang khusus luka bakar). Semoga kondisi keluarga saya cepat membaik dan cepat pulang ke rumah,’’ harap Misdi. (ira/sit/avi)