Balada Sepak Bola Berujung Maut

SUMBERPUCUNG – Dua pelaku pengeroyokan yang menewaskan Suparman warga Jalan Jokromo Desa Ngebruk Sumberpucung, terancam hukuman berat. Mereka dijerat dengan pasal berlapis 170 KUHP sub 351 ayat 3 KUHP tentang pengeroyokan dan penganiayaan hingga mengakibatkan korbannya meninggal dunia.
Keduanya adalah Dadang Lesmana dan Delfi Fahrudin Zubaidi warga Jalan Sersan Suyitno Desa/Kecamatan Sumberpucung. “Mereka kami jerat pasal berlapis, dimana ancaman hukumannya adalah 12 tahun kurungan penjara,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP Decky Hermansyah.
Terkait motif pengeroyokan, mantan Kasatreskrim Polres Malang Kota ini mengatakan bahwa permasalahannya hanya salah paham saja antara korban dengan kedua tersangka. “Hanya salah paham saja, tidak ada motif lainnya,” ujar Decky.
Sementara itu, dua tersangka yang kini ditahan di ruang tahanan Mapolres Malang, kemarin mengatakan bahwa aksi pengeroyokan itu karena terprovokasi saja. Menurut cerita tersangka Dadang, peristiwa terjadi saat dia bersama Delfi dan beberapa temannya pulang usai nonton pertandingan eksibhisi antara Arema Indonesia melawan Tim Nasional di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Sabtu (6/9) petang lalu.
“Kami pulang dengan naik mobil pikap. Ada sekitar delapan orang mobil pikap yang saya sopiri itu termasuk saya,” tutur Dadang. Ketika pulang sembari bernyanyi-nyanyi, saat melintas di Jalan Kuncoro, Sumberpucung, mereka terprovokasi oleh ucapan Tomy Hartono, anak Suparman.
Tomy yang saat itu berdiri di pinggir jalan, berkata kalau dirinya bonek. “Katanya, kalau saya bonek mau apa,” kata Dadang menirukan ucapan Tomy saat itu. Mungkin karena terpancing emosi dengan ucapan Tomy, Dadang yang mengemudikan mobil langsung berhenti. Dia turun dari mobil yang kemudian menghampiri Tomy.
Keduanya pun lalu terlibat cek-cok mulut, hingga terjadi saling adu pukul. Melihat Dadang berkelahi, teman-temannya termasuk Delfi turun dan ikut memukuli. Suparman, yang melihat Tomy dipukuli, berusaha menyelematkan anaknya dan berusaha melerai perkelahian. Namun nahas malah dia yang menjadi sasaran pemukulan. “Siapa saja yang ikut memukuli, saya tidak tahu. Karena saat itu seperti tawuran, karena mereka (kubu Tomy) juga banyak,” terang Dadang.
Pengeroyokan sendiri, saat itu baru berhenti setelah petugas Polsek Sumberpucung yang sebelumnya berjaga, datang untuk melerai. Dadang dan Delfi yang diketahui melakukan pemukulan langsung diamankan. Sedangkan Suparman, yang mengalami luka-luka dilarikan ke RSUD Kanjuruhan Kepanjen. Namun, setelah dirawat selama dua hari, korban akhirnya meninggal dunia.
Kapolres Malang, AKBP Rinto Djatmono, dikonfirmasi mengatakan bahwa kasus pengeroyokan itu tidak ada hubungannya dengan supporter. Kasus pengeroyokan itu hanya perselisihan paham antara korban dengan pelaku.
“Tidak ada kaitannya itu dengan supporter. Itu hanya selisih paham saja. Dan untuk kasusnya tetap kami akan professional dalam penyidikannya, sesuai dengan apa yang kami dapatkan di TKP. Jika dalam penyidikan nantinya berkembang ada pelaku lain, ya tetap akan kami lakukan pencarian. Untuk hasil visum sendiri, korban meninggal dunia karena akibat penganiayaan,” tandas Rinto Djatmono.(agp/eno)