Kecelakaan Batu , Belum Ada Tersangka

BATU - Polres Batu masih mengembangkan penyelidikan atas tragedi tiga penumpang revo, yang terlindas bus di Jalan Diponegoro Kota Batu, kemarin petang. Guna kepentingan penyelidikan, Satlantas Polres masih mengamankan sopir dan bus Pariwisata PO Tirto Agung, S 7139 UW.
Hingga kemarin, polisi juga belum menentukan tersangka dalam laka ini. Namun sopir bus, Hari Susanto, 49 tahun, warga Jalan Letjen Sutoyo LK IV 163 Kediri, tak tampak batang hidungnya di Polres. Menurut salah seorang personil Satlantas, pria itu tengah diamankan petugas.
Sementara Kasatlantas Polres Batu, AKP I Gusti Made Merta mengaku kasus ini masih dalam pengembangan. Pihaknya masih meminta keterangan sejumlah saksi yang melihat langsung peristiwa nahas itu. Sampai ditentukan tersangka, sopir dan bus masih akan diamankan di Mapolres Batu.
‘’Siapa tersangka, kita belum menentukan. Lidik dulu. Aturan hukum mana yang prioritas lakukan pelanggaran, baru ditentukan tersangka,’’ ujar Made Merta yang tengah melayat ibunda Kapolda Jatim.
Dia menambahkan, yang diikuti polisi adalah azas perlindungan hukum. Guna mencari siapa tersangka, yang diutamakan adalah siapa yang dominan melakukan pelanggaran.
Pantauan Malang Post, di dekat lokasi memang ada gundukan aspal yang berasal dari akar pohon yang menyembul. Namun apakah gundukan itu yang menyebabkan kecelakaan, hal ini belum diketahui secara pasti. Yang jelas, posisi sepeda motor Revo menyalip bus dari arah kiri kemudian terjatuh dan terlindas ban belakang.
‘’Sekali lagi, yang kita prioritaskan adalah mana yang dominan melakukan pelanggaran, ‘’ imbuh Made Merta.
Sementara itu, M Zaini, orang tua Ikrima Salfira Nurazizah, balita yang menjadi korban, mengaku jika bayi berusia 11 bulan itu, merupakan anak cerdas. Secara samar-samar, bocah tersebut memiliki gambar bintang di bagian dahinya.
‘’Tidak semua orang bisa melihat bintang pada dahi anak saya itu. Saya bisa melihat, namun istri saya tidak bisa melihat. Gambar tersebut seperti cahaya berwarna putih,’’ tegas pria 43 tahun ini.
Ikrima merupakan satu diantara tiga korban tewas. Korban lain adalah ibunya, Anik Jiyem Minarsih dan Anik Susiati.
Zaini sendiri belum lama berkumpul dengan istri dan dua anaknnya. Sebelumnya, dia bekerja di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Dia pulang ke Batu, untuk mengajak anak dan istrinya ke Kalimantan.
Hanya saja warga Tulungrejo meminta dia tidak kembali ke Kalimantan, agar mau menjadi modin. Bahkan Zaini sudah lolos tes sebagai modin. Tapi Zaini memilih mundur karena memberikan kesempatan kepada warga Tulungrejo lainnya.
Selama tinggal di Batu, Zaini lebih banyak menjadi tukang kuli bangunan. Salah satu proyek yang dikerjakan berada di SMP 2 Batu, Jalan Bromo Kota Batu. ‘’Saya ikut juragan asal Sawojajar Kota Malang,’’ tegas bapak dua anak ini.
Dia juga menjelaskan, anak perempuan dan istrinya sudah dimakamkan di tempat pemakaman umum Desa Tulungrejo, pagi kemarin.
Sedangkan doa bersama terus dilakukan oleh keluarga maupun pihak lain yang datang. Keluarga besar SMK Islam Batu juga hadir ke rumah duka untuk menggelar doa bersama. Itu karena anak pertama Zaini, Jaya Afif Maulana Syarifudin adalah siswa sekolah tersebut. (feb/ary/avi)