Eksekusi Gagal, Gugat Kapolri

KEPANJEN- Sabar ada batasnya. Boleh jadi, hal itulah yang membuat Sumardhan SH, kuasa hukum pemohon yang mewakili kliennya, Menik Rachmawati, warga Jalan Semeru, Kelurahan Sisir, Kecamatan/Kota Batu bakal menggugat Kapolri, Jenderal Polisi Timur Pradopo.   Gugatan itu sengaja akan dilayangkan, jika pada proses pelaksanaan eksekusi pengosongan bangunan rumah yang terletak di Jalan Sultan Agung Kelurahan/Kecamatan Kepanjen, kembali menuai kegagalan. Sementara pelaksanaan eksekusi sendiri merupakan eksekusi yang kedua dan akan berlangsung pagi ini.
“Jika pada pelaksanaan eksekusi yang kedua ini gagal, saya akan langsung menggugat Kapolri. Karena sudah jelas, ini adalah hak dari klien kami. Sementara mengenai pelaksanaan eksekusi, adalah menjadi tanggung jawab Polres Malang. Jika dalam pengamanan maksimal itu tidak mampu, maka jangan salahkan kami jika gugatan secara perdata benar-benar kami layangkan. Perlu diperjelas, bahwa eksekusi yang akan dilakukan ini adalah eksekusi yang kedua atau bukan yang pertama” kata Sumardhan kepada sejumlah wartawan.
Ditambahkannya, akibat eksekusi pertama yang dilakukan gagal, kliennya telah merugi sekitar Rp 50 juta. Tentu saja, hal ini tidak bisa terus-menerus dibiarkan. Apalagi, dalam keterangan gagalnya eksekusi pertama, dijelaskan jika di lokasi eksekusi tengah ditempati oleh beberapa pihak diantaranya Masro’i Abadillah. Padahal, yang bersangkutan sendiri tidak memiliki hak untuk menghalang-halangi eksekusi. “Eksekusi bisa gagal dilakukan, jika kedua belah pihak terjadi perdamaian. Sementara perdamaian yang dimaksudkan, yakni ketika pihak Bank BNI mengurungkan transaksi pemenangan lelang atas nama kliennya. Atau sebaliknya, yakni Roy Natalia dan Heri Mulyadi, melakukan pembicaraan menyangkut objek eksekusi dengan kliennya. Kalau itu yang terjadi, maka sah-sah saja pelaksanaan eksekusi gagal,” tambah Sumardhan.
Diterangkan lebih lanjut, kliennya berhasil memenangi lelang dari Bank BNI atas objek di Jalan Sultan Agung dengan beberapa uraian luas tanah 1.064 meter persegi. Hanya saja, lokasi tersebut tidak bisa langsung digunakan karena ditempati usaha oleh Masro’i Abadillah, dengan dasar kalau tanah itu adalah warisan H Maksub, selaku pemilik tanah yang asli. Padahal, tambahnya, tanah itu sebenarnya sudah dijual ke FC Sampuri. Dari Sampuri, kemudian dialihkan ke Roy Natalia dan Heri Mulyadi. Dari situlah, kemudian dijaminkan sehingga sampai ke Bank BNI.
(sit/mar)