Berkas Perkara Dokter Dilimpahkan

Empat Jenderal, Satu Sipil Telepon Kapolres
MALANG– Setelah sekian lama disidik, Satreskrim Polres Malang Kota segera melimpahkan kasus dr Hardi Soetanto, 57 tahun, warga Surabaya ke Kejari Kota Malang, Senin besok. Hal ini ditegaskan Kapolres Malang Kota, AKBP Teddy Minahasa Putra kemarin kepada wartawan. Menurut dia, berkas penyidikan terhadap Hardi sudah selesai dan siap dikirim. “Saya sudah tanya penyidiknya, dan Senin (22/10) sudah bisa dilimpahkan ke kejaksaaan,” tuturnya. Diakui dia, langkah penahanan yang dilakukan terhadap Hardi sudah sesuai dengan prosedur dan perundang-undangan yang berlaku. “Penahanan memang kewenangan penyidik. Ada beberapa pertimbangan penyidik untuk menahan tersangka. Yakni bisa kabur, menghilangkan barang bukti ataupun kembali melakukan perbuatannya,” ungkap Teddy, panggilannya.  
Apalagi, anggota reskrim mengantongi bukti bila Hardi akan pergi ke Singapura. “Informasi itu sudah A1 (jelas,red). Kalau mau bukti lagi juga ada,” terangnya. Selama ini, perwira dengan dua melati di pundaknya itu mengaku tersangka Hardi tidak memiliki itikad baik dan mengakui kesalahannya. Dia juga menyinggung, dalam kasus dokter Hardi tersebut, sudah ada empat jenderal dari Polri dan TNI serta satu orang sipil yang melakukan intervensi kepadanya.
Bahkan, bukti intervensi yang dilakukan para backing tersebut sangat kuat dan mengganggu proses penyidikan perkara.
“Saya sebenarnya sangat risih dengan adanya opini-opini negatif terkait proses penyidikan kasus ini. Tersangka blak-blakan mengaku meminta tolong kepada dua orang. Satu orang sipil dan satu lagi kepada seorang jenderal polisi. Tapi faktanya yang melakukan intervensi sangat banyak sekali. Saya merasa digebuki. Tapi saya tetap berada pada pendirian, dan sama sekali tidak terpengaruh,” paparnya. Tidak hanya itu, dia juga sempat diperiksa Bidang Propam Polda Jatim. Dan faktanya, masih menurutnya, tidak ada satupun anggota saya yang bermain-main dalam kasus itu.
Yang menarik, seorang Kapolri, Jenderal Timur Pradopo pun sempat menelpon dirinya untuk menanyakan kasus ini, setelah pihak pelapor mengadukannya dengan mengirimkan surat ke orang nomor satu di Kepolisian Indonesia itu. “Kapolri bertanya itu sah. Dia ingin tahu proses penyidikannya dan tidak ada intervensi,” ungkap mantan Kanit STNK Polda Metro Jaya tersebut.
Sayangnya, Hardi sendiri yang kemarin dihadirkan dan menemui Kapolres Malang Kota, memilih bungkam saat bertemu wartawan. Pria bertubuh kurus dan berkacamata  ini hanya diam saat ditanyakan tentang penangguhan penahanannya.  Dia hanya menjawab, kondisi kesehatannya drop setelah mendekam di dalam ruang tahanan. “Saya no comment dulu.  Kondisinya agak sakit,” ucapnya. (ira/mar)