Peternak Ayam Dirampok

TUMPANG–Aksi perampokan kembali terjadi di wilayah hukum Polres Malang. Dini hari kemarin, komplotan perampok menyatroni rumah Masudiono, 40 tahun, warga RT 02 RW 09, Desa Pulungdowo, Kecamatan Tumpang. Tidak hanya membawa kabur harta benda milik korban, pelaku yang beraksi dengan membawa senjata tajam jenis celurit dan besi ini juga membacok korban. Beruntung, luka yang dialami peternak ayam petelor ini tidak terlalu parah, sehingga nyawanya bisa diselamatkan.
Marsudiono yang ditemui di rumahnya menceritakan jika peristiwa sadis itu terjadi sekitar pukul 02.30. Saat itu dia bersama istri dan dua anaknya yang sedang tidur, kaget dengan suara ribut di belakang rumahnya. Namun begitu, Masudiono tidak mengindahkan dan menduga jika suara ribut tersebut ada kucing yang sedang berkelahi di atas genteng rumahnya.
Tapi dugaan tersebut meleset seiring masuknnya tiga orang ke kamarnya. Tak pelak, kehadiran tiga orang ini membuat Masudiono dan istrinya kaget. Lebih kaget lagi saat pelaku langsung mengayunkan celurit ke arahnya.
“Waktu itu saya langsung terbangun dan melihat tiga orang sudah masuk ke kamar. Salah satunya langsung menyabetkan celurit,’’ kata Masudiono sembari mengatakan pelaku tidak hanya sekali membacok dirinya menggunakan celurit tapi berulang kali.
“Saya tidak tahu bagian tubuh mana yang pertama kali kena bacok yang jelas jari telunjuk tangan kanan, paha kanan, lutut kanan kiri, betis kiri, tulang kering kaki kiri semuanya terluka akibat sabetan celurit,’’ kata Masudiono sembari menunjukkan luka yang ada disekujur tubuhnya.
Tidak hanya Masudiono yang panik dengan aksi anarkis yang dilakukan pelaku. Wiwik Widyawati, 32 tahun, dan Nadya Masuwiyatul Ulla, 10 tahun, istri serta anak korban pun panik, begitu melihat Masudiono dicacah celurit oleh pelaku. Tidak ingin suaminya terbunuh, Wiwik pun spontan memeluk tubuh Masudiono.
Aksi Wiwik ini membuat pelaku berhenti menyabetkan celurit. Selanjutnya, mereka mengikat tubuh Masudiono, Wiwik dan Nadya menggunakan kawat. Ini dilakukan agar korban tidak melawan saat pelaku beraksi. Mereka juga langsung  melakban mulut para korban.
Pemandangan haru pun terjadi saat itu. Disaat pelaku menempelkan lakban, anak korban Aufi Lakil Futuh yang baru berusia dua bulan terbangun dan menangis. Tak pelak hal ini membuat korban dan pelaku makin panik. Saat itu dengan nada tinggi pelaku pun meminta Wiwik untuk menyusui.
Namun Wiwik menyatakan jika Aufi tidak lagi minum ASI, tapi susu botol. “Pelakunya sempat ke dapur dan membuatkan susu botol. Dan melihat anak saya terus menangis, salah satu pelaku kemudian mengajaknya bercanda,’’ kata Masudiono yang mengetahui pelaku berbahasa Jawa dengan logat Madura.
Sementara satu pelaku mengajak bercanda Aufi, dua pelaku lainnya langsung mencari barang-barang berharga milik korban di lemari kamar korban. Hasilnya, dalam lemari tersebut pelaku menemukan perhiasan emas total 25 gram dan uang Rp 15 juta.
“Uang itu tidak semuanya milik kami, tapi yang Rp 2 juta adalah uang pengajian,’’ tambah Masudiono sembari mengatakan akibat kejadian ini pihaknya mengalami kerugian Rp 25 juta.
Selain uang tunai, pelaku juga membawa kabur jaket kulit serta STNK dua motor miliknya. Setelah berhasil mengambil barang-barang berharga milik korban, pelaku kemudian kabur.
“Pelaku masuk setelah memanjat tembok setinggi lima meter yang ada di belakang rumah, kemudian naik ke jemuran. Selanjutnya pelaku masuk rumah lewat jendela setelah mereka membongkar teralisnya. Dan mereka kabur melalui jalan yang sama,’’ kata Masudiono menduga pelaku masuk dari belakang setelah dia melihat ada tangga sepanjang empat meter menempel di tembok rumahnya.
Sementara Masudiono berhasil melepaskan diri dari ikatan yang menjeratnya, setelah melihat pelaku betul-betul pergi. Saat itu Masudiono yang bersimbah darah sempat menyusul pelaku ke belakang. Itu sebabnya darahnya pun banyak tercecer di belakang rumahnya. Selanjutnya Masudiono kembali ke kamarnya, untuk mengobati luka-luka yang ada di sekujur tubunya. Dan baru pagi kemarin dua melaporkan kasus perampokan ini ke Polsek Tumpang.
“Kami langsung mendatangi TKP untuk kemudian melakukan penyelidikan, dengan meminta keterangan saksi-saki. Dan saat ini, anggota masih di lapangan,’’ terang Kapolsek Tumpang AKP Hartono kepada Malang Post.
Selain menyelidiki identitas pelaku, petugas juga menyelidiki kepemilikan tangga yang ditinggal pelaku di TKP. Itu karena Masudiono sendiri mengelak kepemilikan tangga tersebut. Termasuk warga sekitar TKP, juga tidak ada yang tahu menahu terkait kepemilikan tangga yang cukup tinggi itu. Hingga akhirnya ada salah seorang tetangga mengetahui pemilik tangga tersebut milik Siamin, warga Dusun Tamiajeng, Desa Pulungdowo, Tumpang.
Keterangan warga inipun langsung ditindak lanjuti warga dengan datang ke rumah Siamin. Sekalipun membenarkan tangga tersebut adalah miliknya, tapi Siamin mengatakan jika tangga tersebut ada di kebun miliknya, yang berjarak sekitar 1 kilometer dari TKP. Dan tangga tersebut sejak dua hari lalu hilang.
“Pemilik tangga mengatakan jika tangganya hilang saat ditinggal di kebun. Tapi kami tidak percaya begitu saja,’’ tandas AKP Hartono
Terkait dengan firasat, Masudiono mengaku tidak pernah memiliki firasat apapun terkait kejadian perampokan yang menimpanya. Selama ini dia juga mengaku tidak memiliki musuh.
“Sehari-harinya biasa, tidak ada yang berbeda. Dan saya juga tidak memiliki musuh dan selama di lingkungan sini saya juga tidak pernah bermasalah dengan warga,’’ kata bapak dua anak ini.
“Proses hukumnya kami menyerahkan langsung ke petugas kepolisian, kami juga menunggu, semoga pelakunya cepat diamankan,’’ tandasnya.(ira/jon)