Bunuh Diri Terjun dari Jembatan

MALANG– Erwin Riswanto, 37 tahun, warga Jalan Jagung Suprapto IIE, Jumat (26/10)  siang kemarin nekat mengakhiri hidupnya dengan menjatuhkan diri dari jembatan  setinggi 20 meter, di Jalan BS Riadi Gg 17. Tak pelak, aksi nekat bapak satu anak ini membuat warga sekitar TKP gempar. Terlebih tubuh korban,  jatuh tepat di areal pemukiman padat penduduk dengan kondisi sangat mengenaskan. Kepala Erwi pecah, dan bahu kirinya patah.
Anggota Polsekta Klojen dan Polres Malang Kota, langsung datang ke TKP, sesaat setelah mendapat laporan. Oleh petugas, jenazah Erwin langsung dievakuasi dan dibawa ke kamar jenazah RSSA Malang untuk dilakukan visum et repertum.
Sunarti, 42 tahun, salah satu warga yang mengetahui pertama peristiwa tragis tersebut mengatakan, jika peristiwa terjadi sekitar pukul 13.00. Siang itu dia ada di rumah, sedang memasak daging kurban. Saat sedang memasak inilah, tiba-tiba terdengar benda jatuh di depan rumahnya.
Sontak, Sunarti pun lari ke depan untuk melihat. Dia pun shok begitu mengetahui jika yang jatuh adalah manusia.
“Saya sempat membuka pintu dan melihat orang sudah tergeletak di depan rumah dengan kondisi sangat mengenaskan,’’ katanya kemarin.
Tidak hanya Sunarti yang shok, Kuswati, 50 tahun, tetangga Sunarti juga demikian. Wanita ini sontak berteriak meminta tolong warga. Teriakan itulah kemudian mengundang warga datang. Beberapa diantarannya hanya ingin melihat. Sedangkan warga lainnya langsung mencari koran dan kain untuk menutup tubuh korban yang tewas seketika di tempat kejadian.
Sementara Sandy Indah Sari, 29 tahun, istri Erwin tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ibu satu anak ini terlihat shok, saat mengetahui suaminya bunuh diri dengan melompat jembatan peler  (sebutan jembatan yang merupakan tembusan Jalan BS Riadi dengan Jalan Kali Urang Barat). Wanita yang kesehariannya mengajar Bahasa Inggris di sejumlah sekolah di Kota Malang ini berusaha tegar.
Menurut Sandy, aksi bunuh diri yang dilakukan Erwin sebetulnya sudah sering diucapkan. Terlebih dua minggu terakhir, Erwin terus mengatakan ingin mati dengan alasan agar cepat ketemu Tuhan. Namun begitu, Sandy terus melarang dan meminta suaminya tidak berbuat macam-macam ataupun berbuat nekat.
“Saat pulang dari salat, suami saya sempat mengatakan ingin melompat dari jembatan peler, tapi tidak jadi karena banyak orang,’’ kata. Tentu saja, Sandy sangat marah dengan ucapan suaminya itu. Bahkan, selain terus memantau setiap gerak Erwin, Sandy juga meminta suaminya untuk melihat anaknya yang tetap butuh orang tua.
Bukan itu saja, keinginan Erwin melompat dari jembatan juga dikatakan saat pulang dari Salat Jumat. Tanpa rasa bersalah, Sandy mengatakan jika dirinya memang harus melompat dari jembatan peler tersebut. “Saya resah melihat kondisi suami, itu sebab setiap geraknya selalu saya pantau,’’ ucap Sandy.
Namun begitu, Sandy yang juga ngemong buah hatinya merasa kecolongan, saat suaminya tiba-tiba pergi. Menurut Sandy, saat itu Erwin sempat pamit beli rokok. Sandy pun langsung was-was, seiring duaminya tidak kunjung pulang.
“Waktu suami saya pergi, tiba-tiba di rumah mati lampu dan anak saya menangis. Saat itu perasaan saya sudah tidak ada. Dan benar, begitu saya mencari tahu, ternyata suami saya sudah bunuh diri,’’ kata Sandy yang mengatakan selama ini tidak pernah ada masalah apapun dengan suaminya.
Sementara Sugeng Ishadi, 42 tahun, salah satu paman Erwin mengatakan jika Erwin nekat mengakhiri hidupnya diduga karena depresi. Hanya saja, Sugeng tidak mengatakan jelas depresi yang dialami Erwin.
“Dia pernah dirawat disini, cukup lama. Tapi saya juga tidak tahu apa yang membuat dia (Erwin) depresi, selanjutnya nekat mengakhiri hidupnya seperti ini,’’ kata Sugeng yang kemarin sempat datang ke TKP untuk melihat kondisi jenazah keponakannya itu.
“Mungkin ini sudah takdir, kami pihak keluarga menerima,’’ kata Sugeng.(ira/jon)