Tambah Tim SAR

MALANG - Operasi Search and Rescue (SAR) terhadap Viras Awaludin Iqbal, 19 tahun, secara resmi dilakukan kemarin. Sembilan tim yang disebut Search and Rescue Unit (SRU), bergerak dari puncak Gunung Semeru menuju daerah-daerah yang dicurigai tempat hilangnya mahasiswa semester 3 Fakultas Teknik Pertanian Universitas Brawijaya (UB) ini. Seperti diberitakan sebelumnya, pemuda asal Dusun Demang Jaya RT04 RW01, Desa Krebet Senggrong, Bululawang ini dinyatakan hilang setelah turun dari pendakian di Gunung Semeru, bersama teman-temannya, Senin (29/10) pagi. Informasi yang didapat Malang Post, pencarian di hari pertama, Tim SAR tidak menemukan tanda-tanda atau bekas yang mencurigakan.
”Tim menyapu dari Kali Mati menuju Watu Merah. Radius pencarian satu kilometer,” tutur Heru Soekarno, salah seorang senior Tim SAR Mahameru. Selain itu, tim juga melakukan pencarian dari Cemoro Tunggal menuju arah kiri dari puncak. Namun setelah menelusuri satu punggungan gunung dan satu cerukan, tidak didapatkan hasil yang berarti. ”Rencananya, besok (hari ini) pencarian akan dilanjutkan dari Cemoro Tunggal ke arah kanan dari puncak hingga Kali Mati. Ini prediksi teman-teman SAR, korban diduga ke arah sana,” lanjutnya.
Joko Puriady, polisi hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang ditemui Malang Post di Pos Ranu Pane menjelaskan, untuk mempercepat pencarian, tim gabungan akan menggunakan teknik maupun cara khusus. “Setelah hilang 2 x 24 jam, kita langsung lakukan pencarian terbuka. Tim kedua yang baru naik pagi, memakai teknik sistem pengejaran,“ jelas dia. Hampir sama dengan yang dilaporkan teman-teman Iqbal, sapaan korban, dia terakhir terlihat diantara Cemoro Tunggal dan batas vegetasi. ”Personil gabungan juga telah menyisiri daerah Blank 75, yang disebut-sebut tempat yang paling rawan di jalur pendakian Semeru, namun tetap saja tak ditemukan,” ungkapnya.  
Kawasan Blank 75 sendiri dikenal sebagai tempat pendaki tersesat ataupun mengalami kecelakaan, lantaran, memiliki medan yang curam berbahaya. “Kita sudah berulang kali menyisir kawasan Blank 75. Setiap sudut mulai jurang, cekungan maupun tempat lainnya di Blank 75, kita sudah sisiri. Namun Iqbal tak ada di tempat tersebut,” jelas pria yang akrab disapa Glemboh ini. Untuk mempercepat proses pencarian, TNBTS juga menyatakan bila kawasan ini untuk sementara ditutup untuk pendakian hingga waktu yang tidak ditentukan. Pantauan Malang Post, keluarga Iqbal mulai berdatangan ke Pos Ranu Pane untuk menunggu kabar terbaru. Eko Harianto, ayah Iqbal tampak cemas lantaran anaknya belum diketemukan. Ia pun berharap agar putra kesayangannya tersebut secepatnya diketemukan. “Saya ingin secepatnya regu penolong dapat menemukan anak saya. Saya sebenarnya ingin mendaki ikut mencari, tetapi tidak diperbolehkan oleh petugas,” katanya.
Di sisi lain, pihak Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (Impala) UB mengaku mengerahkan tim pencari dari para mahasiswa pecinta alam universitas lain. ”Kami masih koordinasi dan menunggu teman-teman yang lain,” ujar Humas Impala UB, M. Mubadil Abqori. Rencananya, beberapa tim pencari dari luar kota juga bergabung dibawah kendali Impala UB.  ”Kami terus berkoordinasi dengan tim SAR di sana. Kami juga masih menunggu teman-teman dari Tulungagung dan Yogyakarta yang dijadwalkan malam ini (semalam) menuju UB dan selanjutnya menuju lokasi,” beber Abqori, sapaannya. Dia berharap, dengan bantuan teman-teman pecinta alam lainnya, Iqbal dapat segera ditemukan. Rektor UB, Prof Dr Ir Yogi Sugito yang dikonfirmasi kemarin, mengaku bila Team Emergency and Disaster (TED) UB juga ikut diterjunkan ke Ranu Pane sejak Selasa lalu. (big/nin/oci/mar)