SMKN 5 Dirampok

MALANG– Pelaku kejahatan kembali mengincar lembaga pendidikan sebagai sasaran aksinya. Setelah SMAN 1 Singosari, dinihari kemarin tiga perampok mengobok-obok SMKN 5 Kota Malang. Mereka yang membawa linggis dan parang, ini lebih dulu melumpuhkan Hendrik, 25 tahun, satpam di sekolah tersebut. Kepala Hendrik ditutup dengan kain goni, sementara mulutnya ditutup lakban, dan kedua tangan serta kaki Hendrik oleh pelaku juga diikat tali rafia.
Tak pelak, aksi perampokan ini, seketika menjadi atensi anggota Polsekta Lowokwaru dan Polres Malang Kota. Terlebih aksi pelaku ini sempat terekam CCTV yang terpasang di ruang Tata Usaha (TU) sekolah tersebut.  
“Rekaman CCTV yang terdapat gambar para pelaku dibawa anggota yang tadi melakukan olah TKP di sini. Katanya akan dipelajari sekaligus sebagai bahan penyelidikan,’’ kata Budi Purwanto, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas dan Kemitraan SMKN 5 Kota Malang. Dia mengatakan, dari rekaman CCTV tersebut pelaku beraksi mulai pukul 03.33 - 04.01. ”Tiga pelaku masuk dengan cara memanjat tembok setinggi lima meter di belakang sekolah yang berbatasan dengan sungai. Setelah itu langsung menuju bangunan tengah sekolah. Di situ pelaku melihat Hendrik yang tengah berjaga,” paparnya.  Tidak ingin kepergok, pelaku pun melangkah dengan mengendap-endap. Begitu jaraknya dekat, pelaku langsung menutup kepala Hendrik menggunakan kain goni yang diduga memang sudah disiapkan oleh pelaku.
Hendrik yang tidak berdaya pun diseret pelaku menuju musala Al Gufron, yang ada di lingkungan sekolah tersebut. Tapi sebelumnya, pelaku mengikat tangan serta dan menutup mulut Hendrik menggunakan lakban. Dan saat di musala Al Gufron pelaku kemudian mengikat kaki Hendrik. Setelah berhasil melumpuhkan Hendrik, dan merasa aman, pelaku kembali ke ruang tengah. Tujuannya adalah ruangan TU. Setelah menjebol kuncinya, pelaku pun masuk. Menggunakan senter pelaku mencari brankas yang tersimpan di ruangan tersebut. “Saat mencari brankas, pelaku sempat mengambil laptop milik staf TU yang ada di atas meja kerja. Bahkan, laptop tersebut terus ditenteng pelaku saat mencari brankas,” katanya.
Upaya pencarian itupun membuahkan hasil. Brankas berukuran sedang itu ditemukan pelaku di salah satu sudut ruangan. Kontan, pelaku tersenyum melihat brankas tersebut. Dan seketika membongkarnya.  Namun begitu, pelaku sangat kaget lantaran dalam brankas tersebut tidak ada uangnya, alias kosong.  Di tengah rasa kecewa pelaku pun menjadi brutal.  Hampir seluruh laci meja  yang ada di ruangan tersebut dibuka oleh pelaku untuk mencari barang berharga. Sementara dua pelaku sibuk membuka laci, satu pelaku justru mencari CCTV. Dia mendadak panik melihat ada CCTV terpasang di atas pintu masuk ruangan TU.
Pelaku yang wajahnya tidak tertutup cadar inipun langsung mencari kabel yang tersambung di kamera CCTV. “Ada rangkaian kabel yang tersambung dengan CPU ini, dan pelaku menduga itu kabel tersebut menyambung pada mesin perekam. Padahal kabel itu untuk mesin bel  otomatis. sedangkan kabel untuk CCTV tersambung dengan mesin perekamnya,’’ kata Budi sembari mengatakan jika hardisk CPU tersebut dibawa oleh pelaku. Sementara perampokan ini sendiri baru diketahui sekitar pukul 04.30. Saat itu Iwan, 25 tahun, salah satu satpam yang berjaga di bagian belakang sekolah hendak salat di musala. Dia kaget, lantaran di dalam musala tersebut ada Hendrik dengan kondisi kedua tangan serta kakinya terikat, sedangkan kepalanya tertutup kain goni dan mulutnya dilakban. Buru-buru Iwan membukanya. Saat seluruh ikatan terbuka, Hendrik langsung lari menuju ke ruangan tengah, tapi saat itu pelaku sudah tidak ada. Yang tersisa hanya ruangan TU yang kondisinya berantakan. (ira/mar)