Kurang Sempurna, Berkas Dokter Hardi Dikembalikan

MALANG– Penyidik Satreskrim Polres Malang Kota harus bekerja keras untuk bisa menjebloskan dr Hardi Soetanto, 57 tahun, warga Surabaya ke penjara. Pasalnya, akhir pekan kemarin, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Malang mengembalikan berkas yang sudah dikirim beberapa waktu lalu ke penyidik. Alasannya, berkas kasus pemberian keterangan palsu yang dilakukan Hardi, sapaan tersangka ke dalam Akta Pernyataan Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Hardlent Medika Husada masih perlu disempurnakan.  “Berkas dinyatakan P-19 dengan nomor TAR-2549/0.5.11/epp/1/11/2012. Itu artinya, masih ada yang harus dilengkapi penyidik,” kata Kasubag Humas Polres Malang Kota, AKP Dwiko Gunawan, kemarin.
Kelengkapan berkas yang dibutuhkan jaksa, papar Dwiko, yakni terkait keterangan tambahan dari sejumlah saksi. “Ada enam saksi yang kembali dipanggil untuk kelengkapan berkas ini,” ungkapnya. Salah satunya, saksi pelapor Dr FM Valentina SH M Hum, Direktur PT Hardlent Medika Husada, yang masih menjadi istri tersangka Hardi. “Tim penyidik sudah mendatangkan para saksi sesuai dengan petunjuk dari jaksa, untuk dimintai keterangan tambahan. Informasinya, hari ini (kemarin) sudah selesai dan segera dikirim ke Kejari,” ucap Dwiko. Namun teknis penyempurnaan berkas bagaimana, mantan Kasatreskrim Polres Batu ini mengaku hanya penyidik yang tahu. “Teknisnya bagaimana, hanya penyidik yang mengetahui. Tapi yang jelas, para saksi yang namanya tercantum sesuai dengan petunjuk dari jaksa, langsung dipanggil untuk dimintai keterangan,” tambah pria dengan tiga balok di pundak ini.
Seperti diketahui, Valentina mengadukan Hardi ke Polres Malang Kota, dengan tuduhan memberikan keterangan palsu ke dalam Akta Pernyataan Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Hardlent Medika Husada No 17 tertanggal 17 Maret 2012. Akte itu dibuat di hadapan Notaris Eko Cahyono, SH.  Hardi Soetanto dan Lisa Megawati tercantum sebagai pemegang saham dan Komisaris PT Hardlent Medika Husada, namun mereka tidak pernah menyetorkan modal ke dalam perusahaan tersebut.
Lucunya, mereka dianggap secara sepihak melaksanakan RUPSLB pada 13 Maret 2012 di Hotel Taman Regent Malang sekitar pukul 15.00, dengan tanpa memberikan data yang sebenarnya menyangkut kepemilikan saham keduanya. Kemudian hasil keputusan RUPSLB PT Hardlent Medika Husada yang dilakukan oleh  Hardi Soetanto dan Lisa Megawati, dituangkan ke dalam Akta Pernyataan Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Hardlent Medika Husada No 17 tanggal 17 Maret 2012 dibuat di hadapan Notaris Eko Cahyono, untuk mendapatkan pengesahan dari Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan HAM RI. Buntut dari pelaporan ini, sejumlah orang termasuk perwira tinggi melakukan praktek makelar kasus (markus) untuk menolong Hardi agar tidak ditahan. (ira/mar)