Penyidik Reskoba Dikeluhkan

Polres Malang Kota Dianggap Tebang Pilih
MALANG–  Keprofesional beberapa penyidik Satreskoba Polres Malang Kota dipertanyakan beberapa keluarga tersangka kasus narkoba. Hal ini terungkap dalam pertemuan antara keluarga para tersangka dengan Satreskoba di Ruang Eksekutif Mapolres, kemarin. Berbagai kritikan dilontarkan. Termasuk salah satunya adalah penyidik dianggap tebang pilih saat memproses dan menjebloskan tersangka ke dalam bui. Seperti yang dilontarkan Nunuk, keluarga tersangka Lilia Sari, 40 tahun, warga Wonorejo, Surabaya. Lilia dibekuk beberapa waktu lalu, saat mengirim pesanan 0,3 gram SS ke Malang. “Adik saya menyebutkan nama pemesannya ke penyidik. Tapi apa yang terjadi. Nama itu tidak disebutkan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP),” katanya.
Menurut dia, jika polisi ingin memberantas narkoba, tidak hanya adiknya saja yang harus bertanggungjawab. Namun seluruh jaringannya termasuk sang pemesan harus ditangkap.  “Jika begitu bisa meringankan hukuman adik saya. Dia sudah bersikap kooperatif dan tidak berbelit-belit dalam memberikan keterangan,” paparnya. Sementara itu, beberapa keluarga tersangka yang wanti-wanti tidak disebutkan namanya mengatakan, polisi seakan-akan ingin memenuhi target untuk menangkap pelaku narkoba sebanyak-banyaknya. “Kesannya, mereka ingin mengukir prestasi dengan menangkap pelaku sebanyak-banyaknya. Padahal, cara yang dilakukan juga keliru. Seperti memancing pelaku dengan berpura-pura pesan,” ujar salah seorang keluarga. Mereka juga mengangkap, selama ini banyak kasus yang selesai, setelah pelaku yang mereka incar ditangkap. “Siapa di belakang keluarga kami yang ditangkap ini, sangat jarang diselidiki atau diamankan. Hanya berhenti di keluarga kami saja,” lanjut mereka.
Selain kritik penanganan kasus yang tebang pilih, keluarga juga menyayangkan soal waktu kunjungan. Selain tidak dibuka setiap hari, keluarga tersangka hanya mendapat waktu kunjungan sangat minim. Kasatreskoba Polres Malang Kota, AKP Sunardi Riyono menampik bila anggotanya tidak bekerja secara maksimal atau hanya tebang pilih seperti yang dikeluhkan keluarga tersangka. “Kami sebenarnya terus mengembangkan kasus tersangka yang kami amankan dan menangkap pelaku lainnya. Salah satunya, kami juga mengembangkan satu kasus narkoba hingga ke LP Madiun dan LP Banyuwangi karena tersangka menyebutkan nama salah satu penghuni LP yang menyuplai narkoba kepadanya,” ungkap mantan Kasatreskrim Polres Kota Pasuruan itu.
Meski terkadang, lanjut dia, tidak semua kasus narkoba bisa dikembangkan sesuai dengan yang diinginkan. “Salah satu faktornya, tersangka sendiri yang tidak memberikan keterangan maksimal. Seperti tempat tinggalnya. Ini yang membuat kami kesulitan untuk mengetahui jaringannya,” tegasnya. Disinggung tentang pertemuan ini, mantan KBO Satreskrim Polresta Malang itu, mengaku sebagai bentuk layanan prima Polri untuk mendekatkan diri dengan keluarga tersangka. (ira/mar)