Istri Anggota Yon Zipur Bawa Kabur Miliaran Rupiah

Puluhan Korban Ditipu Bisnis MLM
KEPANJEN – Penipuan dengan modus mirip Multi Level Marketing (MLM), kemarin siang dilaporkan ke Mapolres Malang oleh salah korbannya. Adalah SS, 33 tahun asal Solo yang lama tinggal di Kepanjen ini yang diperkarakan.
SS yang merupakan istri anggota Yon Zipur V Kepanjen berinisial WH berpangkat Kopral Satu (Koptu) ini, dituduh telah membawa kabur uang Miliaran rupiah. Kasus penipuan itu, kini sedang diselidiki Unit Reskrim Polres Malang.
Tiga korban yang mengadu ke Polres Malang kemarin adalah Puji Rahayu warga Desa Tempur Kemiri, Kepanjen. LIS warga Jalan Raya Desa Jenggolo, Kepanjen dan SL warga Desa/Kecamatan Pagak. Mereka mengaku kalau uang miliknya yang dibawa kabur oleh pelaku mencapai ratusan juta.
“Sebetulnya yang menjadi korban penipuan SS ini, bukan kami bertiga saja. Tetapi masih ada banyak yang juga menjadi korbannya sekitar 20 orang. Namun yang melaporkan baru kami bertiga. Dan dari semua korban, kalau ditotal jumlah uang dibawa kabur sekitar Rp 5 Miliar lebih. Saya saja, tertipu sebesar Rp 497 Juta,” ungkap Puji Rahayu, kepada Malang Post usai laporan kemarin.
Dikatakannya, penipuan yang ia alami bersama korban lain itu bermula dari SS yang menawarkan untuk bergabung dalam investasi pembelian barang jaminan di Pegadaian yang dilelang ke publik. SS menjanjikan keuntungan di setiap investasi uang yang diberikan untuk pembelian barang jaminan Pegadaian.
Dari setiap Rp 10 Juta yang diinvestasikan, keuntungan yang diberikan antara 13 sampai 14 persen. Karena tergiur dengan keuntungan, ditambah kepercayaan kepada SS akhirnya Puji dan para korban lainnya bergabung untuk investasi itu.
“Saya kenal dengan SS itu, sudah empat tahun lalu saat anak kami sama-sama sekolah di SDN Panggungrejo IV Kepanjen. Namun saya baru bergabung sejak Nopember 2011 lalu. Sedangkan kalau korban lainnya ada yang baru gabung setengah bulan lalu dan ada yang satu tahun setengah. ,” ujar Puji.
Awal bergabung semula tidak ada kendala. Pembagian keuntungan dari setiap investasi yang disetorkan selalu lancar, meski pembagiannya baru diberikan selang beberapa hari setelah penyetoran. “Setiap bulannya, kadang 2 sampai 3 kali pembelian lelangnya. Dan biasanya selain emas murni dan batangan, juga kendaraan dan barang-barang elektronik yang dibeli SS dari lelangan Pegadaian,” terangnya.
Penipuan yang dilakukan SS mulai terkuak, setelah ibu dua anak ini menerima setoran uang investasi dengan jumlah besar hingga ratusan juta dari masing-masing korbannya. Itu terjadi pada Juni 2012 lalu. Saat itu, SS mengatakan kepada para korbannya kalau salah satu Pegadaian di Kota Malang akan cuci gudang barang jaminan, sebelum bulan puasa.
Dari cuci gudang itu, SS menjanjikan akan ada keuntungan besar kepada para korbannya. Tetapi syaratnya harus membutuhkan dana yang lebih besar. Karena tertarik itulah, akhirnya para korban menyetorkan uang kepada SS dengan bukti kwitansi.
Namun setelah ditunggu-tunggu ternyata uang yang disetorkan itu, tidak kembali. Keuntungan yang dijanjikan juga tidak dikembalikan. Ketika ditagih, SS mengatakan menunggu habis lebaran karena barang-barang jaminan yang dibeli belum habis terjual.
“Tetapi setelah saya tunggu sampai selesai lebaran, SS juga tidak mengembalikan uang. Dia masih saja beralasan sama. Malahan sejak awal Oktober lalu, dia pergi dari rumahnya sampai sekarang. Dimana keberadaannya tidak ada yang tahu. Suaminya, ketika kami tanya mengaku tidak tahu soal masalah ini. Padahal uang Rp 497 Juta yang saya setorkan itu, bukan milik saya sendiri. Tetapi milik para tetangga saya yang ikut bergabung. Akhirnya untuk mengembalikan uang tetangga itu, mobil saya disita tetangga lalu dijual dan dibagikan. Itupun masih kurang dan tetap akan kami lunasi sebagai bentuk pertanggungjawaban saya,” jelas Puji Rahayu.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Malang AKP Decky Hermansyah, dikonfirmasi via telepon petang kemarin mengatakan kalau dirinya sudah mengetahui masalah kasus penipuan tersebut. “Sebelumnya, korban memang sudah konsultasi ke Polsek Kepanjen terkait penipuan itu. Namun, karena jumlah kerugiannya yang besar, Polsek Kepanjen lalu meminta korban untuk melaporkan ke Polres Malang. Dan tadi (kemarin) korban memang diminta datang untuk laporan ke Polres Malang,” terang Decky.
Jika memang kasus penipuan tersebut sudah diterbitkan bukti laporan, mantan Kasatreskrim Polres Malang Kota ini mengatakan, sebagai langkah pertamanya akan melakukan penyelidikan. Yaitu dengan meminta keterangan beberapa saksi, termasuk saksi orang yang menjadi korbannya.
“Dari hasil pemeriksaan saksi-saksi tersebut, nantinya akan kami gelar perkaranya apakah laporan penipuan itu bisa dikategorikan tindak pidana atau tidak. Jika memang benar ada unsur tindak pidananya, maka terlapor akan segera kami panggil untuk dimintai keterangan,” jelasnya.(agp/eno)