Rampok Gucang Turen

Teror Warga, Ancam Bunuh Korban

TUREN–Aksi perampokan kembali mengguncang wilayah Kabupaten Malang. Rabu (14/11) dini hari, rumah sub distributor minyak goreng, Roni Indradi, 42 tahun, di Perum Turen Permai, Desa Talangsuko, diserbu perampok. Pelaku berjumlah sekitar delapan orang memakai cadar serta menghunus senjata tajam jenis pancor dan celurit.
Dalam aksinya, selain menyekap korban dan keluarganya, para pelaku juga berhasil membawa kabur barang berharga milik korban senilai sekitar Rp 50 juta lebih. Diantaranya, tiga unit sepeda motor yaitu Suzuki Satria FU, Honda Beat dan Supra X. Juga uang recehan sekitar Rp 4 juta serta delapan buah HP. Yakni dua HP jenis Blackberry, empat HP GSM dan dua HP Fleksi.
Kasus perampokan itu sendiiri, saat ini masih dalam penyelidikan petugas Polsek Turen diback up Polres Malang.
“Sesaat setelah kejadian itu, kami langsung ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Selain mencari bukti petunjuk, kami juga memintai keterangan sejumlah saksi. Saat ini, untuk pelakunya masih kami selidiki,” ungkap Kanitreskrim Polsek Turen, Iptu Sudarno.
Menurut keterangan Roni, ketika ditemui di rumahnya, aksi perampokan itu terjadi sekitar pukul 01.30. Saat kejadian, ia bersama istrinya Ari Yusanita, sedang tidur pulas di kamar lantai I. Begitu juga dengan Fajar, 17 tahun, anak keduanya yang ikut terlelap tidur.
“Yang belum tidur, hanya Katon, 19 tahun anak pertama saya. Saat itu dia sedang main internetan di lantai II. Biasanya, saya itu tidur tengah malam. Namun saat kejadian itu, sekitar pukul 22.00 sudah tidur karena ngantuk berat,” ujar Roni.
Kawanan pelaku yang diketahui jalan kaki itu, masuk ke dalam rumah dengan mencongkel jendela depan. Setelah jendela terbuka, enam pelaku lalu masuk ke dalam rumah, sedangkan dua pelaku lainnya berjaga di depan rumah.
Begitu masuk tiga pelaku lalu naik ke lantai II. Mereka lalu melumpuhkan Katon dengan mengancam akan membunuh jika berani berteriak. Kedua tangan serta kaki mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semester I jurusan Perbankan ini, diikat dengan tali kabel. Setelah itu, pelaku giliran melumpuhkan Fajar, yang tidur pulas.
Setelah dua anak korban dilumpuhkan, pelaku lalu turun dan mendobrak pintu kamar Roni. Begitu pintu kamar terbuka, lima pelaku lalu masuk dan mengancam korban serta istrinya untuk menurut dengan tidak berteriak.
“Saya dan istri tidak sampai diikat. Sebab begitu mereka mau mengikat, anak saya Katon berhasil melepaskan ikatan yang kemudian kabur dengan melompat ke garasi dan meminta tolong pada warga sekitar,” terang Roni.
Warga yang mendengar lalu keluar rumah dan berusaha menolong. Namun warga kembali masuk lagi setelah diteror pelaku yang mengancam akan membunuh jika berani menolong. Bahkan, seorang anggota TNI AD yang rumahnya berada di depan rumah korban, tak berani menolong setelah diancam dan dilempar batu bata.
“Anak tetangga sebelah, Irgu, 17 tahun, yang baru pulang bermain dan tidak tahu apa-apa, ikut dipukul pelaku dan disekap di depan rumahnya. Dan ketika ada warga lainnya mendekat, pelaku lalu mengejar hingga membuat warga ketakutan,” jelas bapak dua anak ini.
Para pelaku ini sendiri, baru kabur setelah berhasil merampas barang berharga milik korban. Mereka kabur sekitar pukul 02.00, menuju arah Desa Tumpukrenteng, dengan berboncengan sepeda motor milik korban. “Empat kunci kontak mobil boks serta 2 STNK mobil ikut dibawa kabur. Cuma sepeda motor Satria FU milik anak saya yang protolan yang tidak ikut dibawa kabur karena mesinnya sulit dihidupkan,”  katanya.
Apakah ada orang yang dicurigai ? Suami Ari Yusanita ini mengatakan kalau sama sekali tidak ada orang yang dicurigai. Pasalnya semua pelakunya memakai cadar dan berlogat Madura. “Hanya dua hari sebelumnya, Senin siang ada orang laki-laki asing berkumis dan memakai songkok, melintas di depan rumah sambil mengawasi rumah. Begitu juga besoknya hari Selasa sore juga orang yang sama, mengawasi rumah saya. Dia tidak berhenti karena mengendarai sepeda motor,” tambahnya.(agp/jon)