Lima Santri Tenggelam di Bululawang

BULULAWANG– Dalam sehari kemarin, dua pemuda tenggelam di Bululawang. Yang pertama menimpa Febrianto Budi Mulyanto, 13 tahun. Santri TPQ Nurul Mutta’alimin Waru, Sidoarjo ini hilang setelah ditelan aliran sungai Brantas, Dusun Pabrikan, Desa Sukonolo, Bululawang, pukul 14.15. Informasi yang didapat,   korban datang bersama rombongan TPQ Nurul Mutta’alimin.  Selain delapan santri, ada empat orang pembimbing yakni Mifta Aminudin, Muhammad Syafii, Abdul Rohman dan Anting Malika Bulqis. “Kedatangan kami untuk sambang ke Ponpes An-Nur II menemui kiai. Dulu saya kan pernah jadi santri di Ponpes An-Nur, sehingga mengenalkan santri kepada kiai sekaligus mengaji,” ujar Muhammad Syafii, penanggung jawab rombongan di lokasi kejadian.
Setelah beberapa jam mengaji, Muhammad Syafii mengajak santri dan guru pembimbing lainnya mampir ke rumah neneknya, Kibtiyah di Dusun Pabrikan, RT14 RW03, Desa Sukonolo, Bululawang.  Tiba di rumah Kibtiyah, rombongan lalu beristirahat. Sekitar pukul 13.45, rombongan menuju sungai Brantas yang berjarak sekitar 100 meter,  untuk mandi bersama. Sebagian santri ada yang mandi memakai pakaian, ada yang melepas pakaian seperti Febrianto, panggilan akrab korban “Ketika mau mandi itu, saya sudah mengingatkan supaya jangan ke tengah karena arus sungai besar dan dalam,” tutur Muhammad Syafii yang terlihat syok berat.
Sayangnya, nasehat ini tidak begitu didengar para santri tersebut. Begitu mencebur dan mandi di sungai, mereka lupa akan keselamatannya.
Begitu juga dengan Febrianto, tak lama saat mandi dia tiba-tiba diketahui hanyut bersama dengan Gilang, 11 tahun, salah satu santri lainnya. Mifta Aminudin dan Muhammad Syafii yang mengetahui dua santrinya hanyut, berusaha menolong. Gilang yang saat itu posisinya dekat dengan bibir sungai, berhasil ditarik Mifta Aminudin. “Namun saat menolong itu, Mifta juga sempat mau ikut hanyut. Akhirnya saya langsung mencebur ke sungai dan menolong Mifta serta Gilang. Sedangkan Febrianto saat mau saya tolong, sudah hilang,” terang pria 32 tahun ini. Kabar tenggelamnya Febrianto inipun langsung didengar warga sekitar yang kemudian berbondong-bondong ke sungai untuk melakukan pencarian.
Sementara itu, selang tiga jam kemudian, giliran santri Ponpes An-Nur yang menjadi korbannya.
Adi Yoga, 15 tahun, santri kelas X SMA hilang saat mandi bersama dua temannya sesama santri ponpes tersebut, yakni Fauzi, 15 tahun dan Mahmud, 15 tahun. Santri asal Dampit ini tenggelam di sungai Mlaten yang ada di belakang Ponpes An-Nur II Bululawang. Kanitreskrim Polsek Bululawang, AKP Prayitno menjelaskan, Adi Yoga dan dua temannya mandi di sungai. Ketika mandi itu, ketiganya sambil bermain dengan mengintirkan tubuh ikut arus sungai. Saat kintir itu, tiba-tiba arus dari atas deras menerjang tubuh ketiganya.
Mahmud berhasil selamat karena tubuhnya saat itu langsung tersangkut batang pohon. Begitu juga dengan Fauzi, yang diselamatkan oleh Sabirin dan Arif, guru pembimbing di Ponpes An-Nur yang menolong begitu mengetahui santrinya tenggelam. Sedangkan Adi Yoga tak berhasil diselamatkan karena langsung hilang. Pihak Ponpes An-Nur langsung melaporkan ke petugas Polsek Bululawang. “Pencarian yang dilakukan warga bersama tim SAR masih dihentikan karena kondisi cuacanya gelap. Besok pagi (hari ini) pencarian akan dilanjutkan lagi,” ujar Prayitno. (agp/mar)