Lancer vs Honda, Pasutri Tewas

BATU – Mematuhi peraturan lalu lintas, benar-benar dibutuhkan. Jika tidak, bisa-bisa akan menyebabkan nyawa orang lain melayang. Seperti yang terjadi di Jalan Soekarno Mojorejo Junrejo Kota Batu, kemarin sekitar pukul 11.55 WIB.
Gara-gara mencoba mendahului kendaraan lain, agar tidak terjebak kemacetan, sedan Lancer hitam nopol AG 618 A, menabrak Honda Spacy hijau nopol N 5670 CW.
Sopir Lancer, Hariyanto warga Bangsongan Kayen Kidul Kediri, bermaksud melepaskan diri dari kemacetan dari arah Malang menuju Batu. Hanya saja, Lancer itu terlalu ke kanan hingga memakan jalur dari arah Batu ke Malang, yang memang sepi.
Padahal padangannya tidak bebas. Sedang dari arah berlawanan, pasangan suami istri, Didik Hudi Kuncoro dan Ariana serta anak angkatnya, Sam Andi Pratama yang baru berumur enam tahun, melaju agak kencang lantaran kondisi jalan menurun.
Tabrakan pun tak terhindar. Akibatnya, Didik yang berusia 46 tahun tewas ditempat, akibat luka serius di kepala. Ariana meninggal dalam usia 44 tahun ketika berada di perjalanan menuju RS Baptis. Sedang Sam Andi, masih bisa diselamatkan meski luka parah. Pasutri yang tinggal di Jalan Kelapa Sawit X/38, RT 3 RW 3, Kelurahan Pisang Candi, Kecamatan Sukun, Kota Malang itu pun menjadi korban di jalan.
Kecelakaan yang terjadi persis di seberang jalan warung Mojorejo II (Ruko Puri Savira) itu, kontan mengundang perhatian warga. Apalagi melihat korban sampai terlempar hingga tujuh meter dari sepeda motornya.
Hariyanto sesaat setelah menghentikan mobilnya dan Miftahul Huda, warga Dusun Adan-adan Gurah Kediri, yang juga berada di mobil, sempat keluar mobil. Namun keduanya tidak menolong korban.
Hariyanto dan Miftahul Huda memilih lari menghindari kemungkinan terjadinya aksi massa. Keduanya memilih minta perlindungan di Pos Polisi Pendem.
Sedangkan, korban dievakuasi polisi. Ariana dan Sam Andi pertama kali diangkut dengan mobil polisi, baru kemudian Didik dengan ambulance RS Baptis. Sayangnya, perempuan itu menghembuskan nafas ditengah perjalanan.
‘’Saat saya angkat, si ibu masih bernafas, sedangkan suaminya sudah tidak bernafas. Anak kecil juga masih bisa bernafas, dengan luka di wajah,’’ kata Hari Subagio (51 tahun) warga Kota Banyuwangi yang habis takziah di Sumpil Kota Malang.
Saksi lainnya adalah Sugiono (55 tahun) warga Bunulrejo Kec. Blimbing yang buka toko barang antik di timur Puri Savira. Pria ini masih mendengar jeritan keras seorang perempuan sebelum tabrakan terjadi. Diperkirakan adalah jeritan dari Ariana, ibunda angkat Sam Andi.
‘’Pengemudi Sedan Lancer itu sempat minggir ke utara jalan, dia melihat korban, tapi tidak menolong, kemudian ketika ada orang ramai mereka pergi, saya sempat catat nopolnya kemudian diminta polisi,’’ akunya.
Sugiono sudah empat tahun membuka usaha di Mojorejo. Jalan raya antara Pendem hingga Beji kerap terjadi kecelakaan lalu lintas. Kebanyakan tubrukan sepeda motor dengan mobil. Dia berharap agar di barat pertigaan PEndem atau di depan pertigaan Junrejo ditambah rambu rawan laka.
‘’Saya empat tahun disini, kecelakaan sering. Perlu rambu rawan kecelakaan di pertigaan junrejo sampai warung Mojorejo2,’’ sarannya.
Sementara itu,  Kasat Lantas Polres Batu I Gusti Made Merta di lokasi mengatakan, Hariyanto melarikan diri. Dia dikejar petugas sampai ke dekat perbatasan Karangploso. Namun versi lain, pelaku mengamankan diri di pos Polisi Pendem.
‘’Analisa sementara karena Batu-Malang padat, mungkin si kendaraan nyalip ke kanan melanggar jalur, kemudian menabrak korban. Kami masih kumpulkan data dan analisa,’’ ujar Kasat.
Hariyanto kemudian dibawa ke Satuan Lantas Polres Batu untuk dimintai keterangan. Pengemudi dan penumpang Lancer mengaku berusaha mendahului mobil-mobil yang terjebak macet. Mereka melewati batas marka jalan yang dicat putus-putus. Kemudian mengaku kepada polisi tidak hendak melarikan diri, namun berusaha mencari kantor polisi karena takut.
‘’Munculnya tersangka atau tidak tunggu hasil pemeriksaan. Marka yang dilanggar itu marka terputus,’’ imbuh Kanit Lantas Polres Batu Iptu Sigit R kepada Malang Post.
Kata dia, umumnya seseorang yang akan mendahului harus berpandangan bebas dengan ruang yang cukup. Dari arah Malang ke Batu memang sepi saat itu. sedangkan dari anatomi TKP, jalan lurus menurun, hotmik. ‘’Pada jam-jam tertentu yang sepi, kawasan itu memicu pengemudi untuk memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi,’’ katanya. (ary/avi)

Ke Batu untuk Rekreasi
MALANG – Usai dipastikan meninggal dunia, jenazah pasangan suami istri (Pasutri), Didik Hudi Kuncoro dan Arianah, langsung dibawa pulang ke rumah di Jalan Kelapa Sawit X/38, RT 3 RW 3, Kelurahan Pisang Candi, Kecamatan Sukun, Kota Malang.
Warga sekitar setelah mendengar kabar duka tersebut, juga langsung mempersiapkan proses pemakaman. Tangisan pun pecah, setelah mobil ambulance RS Baptis yang membawa kedua jenazah pasutri tersebut, tiba di rumah duka.
Mayoritas warga sekitar, menilai keduanya memiliki kepribadian dan pergaulan yang baik. ‘’Pergaulannya di masyarakat sini, Didik dan Arin itu orangnya baik. Saya kaget dikabari kalau keduanya meninggal kecelakaan di Kota Batu,’’ ujar Sukamti, salah satu tetangga korban, kepada Malang Post, kemarin.
Sementara itu, Kunawi, paman Didik Hudi Kuncoro, menyatakan tujuan kepergian keponakannya ke Batu bersama istrinya untuk rekreasi.
‘’Usai pemilihan ketua RW tadi siang (siang kemarin, Red.), mereka langsung pamit saya untuk rekreasi ke Batu. Tapi, saya tak tahu rekreasinya ke tempat wisata apa,’’ ujarnya.
Kesehariannya, menurut Kunawi, Didik bekerja serabutan dan tukang parkir. Dia pun tak mempunyai firasat apa-apa, ketika kepergian untuk berekreasi ke Kota Batu.
‘’Didik itu ulet dan rajin. Kerja apa saja dilakukan. Cuma, dia sering bekerja sebagai tukang parkir di Warung Subuh, sedangkan istrinya, kerja di Pabrik Rokok Gandum,’’ jelasnya, secara rinci.
Sementara itu, Sam Adi Pratama, putra anak angkat pasutri itu, sampai saat ini masih kritis di rumah sakit Baptis. Usai dimandikan dan di salatkan, kedua jenazah tersebut, dimakamkan kemarin malam, di Tempat Pemakaman Umum, Pisang Candi Barat.
‘’Yang penting anak angkatnya Didik sama Arin, sebisa mungkin diselamatkan. Untuk itu tadi saya langsung minta untuk dirujuk ke RS Soeparoen. Supaya kalau ngawasi maupun njenguk itu dekat,’’ tutup Kunawi. (big/avi)