Dua Kali Ditolak JPU, Langsung Dirawat di RSJ

Polemik Pemalsuan Akte Adopsi Pendeta Perempuan
MALANG – Tim penyidik Polres Malang Kota sepertinya harus bersabar terkait penanganan perkara pemalsuan keterangan pada akte autentik, dengan tersangka Ruth Vonny Herawati. Pasalnya, petugas tidak bisa segera melimpahkan kasus ini ke Kejaksaan Negeri Kota Malang, seiring adanya surat penolakan yang dibuat pihak Kejaksaan.
Ditambah lagi dengan kondisi perempuan yang berprofesi sebagai pendeta ini betul-betul drop. Bahkan hingga kemarin sore dia terus histeris  saat dihadapkan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) hingga akhirnya diputuskan dirawat di RSJ Lawang sejak kemarin sore.
“Senin (19/11) lalu kami berusaha menghadapkan tersangka kepada JPU, tapi ditolak dengan alasan terlalu sore LP wanita tutup. Lalu Selasa (20/11) kami kembali menyerahkan tersangka JPU kembali menolak dengan alasan kondisi tersangka yang drop. Dan hari ini (kemarin) kami juga tidak bisa menyerahkan lagi tersangka, karena dirawat di RSJ Lawang,” kata Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP James H Hutajulu kemarin.
James sendiri belum bisa memastikan kapan dirinya akan menghadapkan tersangka, lantaran kondisi korban yang belum pulih hingga kini. “Ya menunggu. Tapi yang jelas saat ini tersangka masih berada di RSJ dan sedang dirawat disana,’’ katanya, sembari mengatakan hasil dari RSJ inilah nantinya menjadi acuan, apakah ibu tiga anak ini dihadapkan ke kejaksaan atau tidak. “Kalau kondisinya stress atau gila jelas tidak bisa dihadapkan. Tapi kalau hasil pemeriksaan dari psikiatri menyatakan sehat, kami langsung melimpahkan,’’ urainya.
Kepada Malang Post James juga mengatakan jika pihaknya tidak pernah main-main dalam menangani kperkara. Termasuk perkara  memasukkan keterangan palsu dalam akta autentik dengan tersangka Ruth Vonny ini. Perkara inipun ditangani sangat serius sekalipun sarat akan kepentingan dan intervensi. Hingga akhirnya maret 2012 lalu, perkara ini dinyatakan P21. “Kami tidak pernah main-main. Kasus ini kami tangani karena memang ditemukan unsure pidana disana. Yaitu adanya keterangan yang dipalsukan oleh tersangka dalam akte autentik (surat adosi) yang dibuat tersangka di notaries Eko Handoko, tahun 2008 lalu. Itu sebabnya, perkara ini tetap dilanjutkan,’’ kata James yang mengatakan akta yang diperkaran oleh Connij Sutjiati dan Sisca Sutjiati selaku terlapor adalah akta nomor 27  dibuat tanggal 16 Juli 2009 di hadapan notaries Eko Handoko SH.
Itu sebabnya, sekalipun terus mendapat tekanan, tim penyidik terus maju, dan memproses kasus ini sesuai prosedur hukum. “Buktinya pihak kejaksaan sudah mengeluarkan surat bahwa berkas telah sempurnya atau P21. Hanya tersangka saja, masih belum bisa diserahkan karena kondisinya,’’ tandas James.
Seperti yang diberitakan koran ini sebelumnya Kasus-kasus kriminal yang sarat intervensi dan praktek makelar kasus, mulai dibuka oleh Kepolisian Kota Malang. Setelah sebelumnya kasus pemalsuan data autentik yang dilakukan dr Hardi Soetanto, kini seorang pendeta wanita di salah satu gereja Kota Malang juga berurusan dengan hukum. Kemarin, Ruth Vonny Herawaty, Sth. MA dikirim ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Malang. Menurut Polres Malang Kota, dia dianggap terbukti melakukan pemalsuan surat adopsi dari orang tua angkatnya, Kwa Sien Jan alias Jamin Kwantoro, warga Jalan Tanggamus Malang. Informasi yang dihimpun Malang Post, kasus yang membelit warga Jalan Ikan Piranha Malang ini, berawal ketika Jamin, seorang mantan pengusaha rumah makan di Malang mengadopsi dirinya sebagai anak angkat, 16 Februari 2008 lalu.(ira)