Gugat Penyidik Polres Malang Kota

Kecewa Notaris Eko Handoko
MALANG-  Pihak Ruth Vonny Herawaty, Sth. MA, tersangka pemalsuan akte adopsi dan penggelapan melakukan perlawanan hukum. Mereka segera menggugat penyidik Satreskrim Polres Malang Kota ke Pengadilan Negeri Kota Malang. Menurut H.M. Yasin Mansyur SH, penasehat hukum Vonny, panggilannya, pihaknya menggugat karena putusan dilimpahkan kliennya ke Kejaksaan Negeri (Kejari) KotaMalang itu, bertentangan dengan putusan Pengadilan Tinggi Surabaya yang memutuskan bahwa permasalahan kliennya adalah sengketa perdata, bukan kasus pidana. “Saya sangat kecewa dengan tindakan penyidik yang sudah semena-mena dengan klien saya. Akibat perbuatan penyidik,  dia harus dirawat di RSJ Lawang,” tegasnya.
Menurut dia, ada prosedur yang salah dilakukan oleh penyidik. Pertama, penyidik tidak pernah melakukan pemeriksaan terhadap Eko Handoko selaku notaries akte adopsi, kedua kliennya yang tinggal di Jalan Ikan Piranha Malang ditangkap dalam kondisi sakit, dan yang terakhir, kasus ini sudah memiliki kekuatan hukum tetap dari Pengadilan Tinggi Surabaya. Seperti diketahui, Vonny yang berprofesi sebagai pendeta dikirim ke Kejari Kota Malang karena dianggap melakukan pemalsuan akte adopsi dari orang tua angkatnya, Kwa Sien Jan alias Jamin Kwantoro, warga Jalan Tanggamus Malang.  Dia dilaporkan oleh Connij Sutjiati dan Sisca Sutjiati, anak kandung Jamin dengan tuduhan melakukan pemalsuan, yaitu memasukkan keterangan palsu dalam data autentik Maret 2010 lalu. “Keterangan palsu itu yang mana? Polisi bisa membuktikan itu dimana? Saya percaya kasus ini ditunggangi oleh markus, karena sebetulnya perkara pemalsuan yang dituduhkan tidak terbukti, dan kasus ini murni perdata, bukan pidana,” tegas Yasin, sapaan akrabnya.
Sementara itu, Yani Sugianto, suami Vonny mulai angkat bicara. Kepada Malang Post, dia mengatakan bahwa tuduhan pemalsuan yang dilayangkan Connij Sutjiati dan Sisca Sutjiati kepada istrinya adalah pada akte perbaikan nomor 27 tanggal 7 Juli 2009. Dalam akte yang dibuat oleh Jamin dihadapan notaris Eko Handoko, merevisi bahwa hanya satu anak Jamin yang tinggal di luar negeri. “Saat membuat akte dan merevisinya, istri saya tidak pernah ikut. Dia hanya datang ke kantor notaris saat tandatangan saja. Memang pak Jamin lebih dulu konsultasi dengan notaris Eko Handoko, kemudian beliau meminjam KTP istri saya. Selanjutnya pada tanggal 16 Febuari 2008, istri saya diajak pak Jamin datang ke kantor notaris, untuk menandatangi akte adopsi. Itupun tidak melalui persetujuan saya,”  urainya.
Dia sendiri akhirnya merasa kecewa dengan Eko Handoko yang membuat akte tersebut. “Kalau dia notaris yang benar, harusnya memberikan saran dulu keliru tidaknya. Tidak main langsung membuat dan tandatangan seperti itu,” keluhnya.  Termasuk saat melakukan perbaikan, Vonny juga tidak pernah diajak konsultasi sama sekali. “Lalu dimana pemalsuannya? Yang membuat pak Jamin sendiri di hadapan notaries. Istri saya tidak pernah ikut membuat, saat penandatanganan, istri saya juga tidak membaca semua isi drafnya,” tambah bapak tiga anak tersebut. Disinggung tentang perkenalan keluarganya dengan Jamin, dijelaskan dia, saat mantan pengusaha rumah makan itu, menjadi jemaat di GBIS Jalan Letjen S Parman Malang. Saat itu Vonny sebagai pembicara undangan. Awalnya hanya berkenalan. Karena cocok, selanjutnya Jamin banyak melakukan konsultasi. Selanjutnya dia memutuskan tinggal di rumah Vonny. “Waktu pak Jamin tinggal di rumah kami, dia sedang sakit stroke. Tidak pernah satupun anaknya yang menjenguk. Kamilah yang merawat. Kami ingin berbuat baik, tapi ternyata ini balasannya,” pungkasnya. (ira/mar)