Manager Operasional Panah Mas Dibui

Gelapkan Uang Perusahaan Rp 1,6 Miliar
SINGOSARI– Pagar makan tanaman. Ungkapan itu setidaknya pas untuk Siswanto. Bagaimana tidak, sudah diberi kepercayaan sebagai Manager Operasional, pria 45 tahun ini malah justru menggelapkan uang di perusahaan tempatnya bekerja, PT Panah Mas Jalan Raya Karanglo Singosari. Jumlahnya pun cukup fantastis, yakni Rp 1,6 miliar. Akibat perbuatannya itu, warga Jalan Danau Sentani, Sawojajar Malang ini tidak hanya dipecat dari pekerjaannya. Sejak Jumat (30/11) , dia juga ditahan di Mapolres Malang. “Tersangka ditahan setelah sebelumnya kami panggil untuk diperiksa sebagai saksi. Karena bukti-bukti penggelapan yang dilakukannya cukup kuat, akhirnya kami jadikan tersangka,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP Decky Hermansyah.
Dipaparkan perwira yang pernah menjadi Kasatreskrim Polres Malang Kota ini, tersangka Siswanto bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang distribusi produk Unilever sejak 1999 lalu. “Karena kinerjanya dianggap sangat bagus, apalagi Siswanto juga dinilai jujur, pihak perusahaan lalu mengangkatnya sebagai Manager Operasional,” lanjut dia.  Bahkan, Siswanto masih mendapat kepercayaan untuk menagih uang penjualan barang ke beberapa toko di Malang Raya. Namun kepercayaan yang diberikan perusahaan tersebut, ternyata dimanfaatkannya untuk mencari keuntungan pribadi.
“Sejak tahun 2004 lalu, uang hasil penagihan dari beberapa toko yang nominalnya sekitar Rp 125 juta, tidak disetorkan semuanya ke perusahaan. Sebagian uang antara Rp 2 juta sampai Rp 5 juta, dipakai sendiri untuk keperluan keluarganya. Mulai dari membeli kebutuhan keluarganya hingga membeli rumah,” papar Decky, sapaan akrabnya.  Itu berlangsung sampai pertengahan 2012. Total keseluruhan uang yang digelapkan pun menjadi Rp 1,6 miliar. “Tidak semua toko yang uang tagihannya saya pakai. Tetapi hanya satu toko saja. Dan itu saya lakukan setiap satu minggu sekali. Saya sendiri diberi amanat untuk menagih uang itu, karena perusahaan takut kalau yang menagih uang itu sales, karena uang yang ditagih jumlahnya besar,” ujar Siswanto.
Bagaimana bisa sampai delapan tahun tidak terbongkar ? Bapak tiga anak ini mengaku, karena selama ini yang mengatur penagihan ke toko adalah dirinya. “Sehingga ketika penyetoran ke perusahaan saya bisa berlasan bahwa ada toko yang belum membayar,” ujarnya.
Terbongkarnya perbuatan Siswanto ini sendiri, bermula dari awal Juni 2012 lalu pihak perusahaan yang melakukan pengecekan barang, curiga pembukuan di bagian administrasi. Sebab antara pengeluaran barang dengan pemasukan nilainya sangat jomplang. Dari situlah akhirnya pihak perusahaan melakukan menanyakan kepada Siswanto. “Sebetulnya, sebelum saya dilaporkan, pihak perusahaan memberikan batas waktu untuk mengganti semua uang itu sampai bulan Oktober. Namun saya hanya bisa mengembalikan uang sebesar Rp 275 juta, hasil dari penjualan rumah di Pakis. Karena masih kurang banyak itulah, saya dilaporkan,” ujar dia. (agp/mar)