Giliran Enam Karyawan Menyusul ke Tahanan

NILEP BERJAMAAH: Kelima tersangka penggelapan uang di perusahaan tempatnya bekerja yang ditahan di Mapolres Malang.

Gelapkan Uang Perusahaan Miliaran Rupiah
MALANG – Usai menjebloskan Manager Operasional, Siswanto ke dalam tahanan lantaran menggelapkan uang perusahaan senilai Rp 1,6 Miliar Jumat (28/11) lalu, PT Panah Mas yang bergerak di bidang distribusi produk Unilever ini, kembali memperkarakan enam karyawannya ke Mapolres Malang, Selasa (4/12) lalu. Tuduhannya sama, yakni menggelapkan uang perusahaan senilai ratusan juta rupiah.
Enam orang karyawan yang dilaporkan adalah karyawan bagian helper (pengiriman barang) serta bagian sales, yang bekerja di cabang perusahaan PT Panah Mas di Jalan Raya Karangpandan, Pakisaji.
Dari enam orang karyawan yang dipolisikan tersebut, lima di antaranya langsung diamankan dan ditahan. Sedangkan satu lagi statusnya DPO, karena sudah kabur ke luar kota.
Lima karyawan PT Panah Mas yang ditahan tersebut, di antaranya Ngadiono warga Jalan Jembatan Desa Panggungrejo Kepanjen bekerja di bagian bagian helper. Soni Bagus Pratama warga Jalan Janti Utara, Malang juga bagian helper. Lalu Joko Santoso warga Jalan Klayatan Gang II, Sukun, bagian sales.
Kemudian Agus Dwi Kiswanto warga Jalan KH Ahmad Dahlan, Kepanjen, juga bagian sales. Dan Muhammad Ali warga Tulangan – Sidoarjo, yang bekerja dibagian helper.
“Mereka sudah kami amankan, setelah dibawa langsung oleh pihak perusahaan ketika melapor ke sini (Polres Malang). Ketika kami mintai keterangan, mereka sangat kooperatif dan mau berterus terang,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP Decky Hermansyah.
Mantan Kasatreskrim Polres Malang Kota ini, mengatakan bahwa penggelapan uang perusahaan yang dilakukan kelima tersangka ini, jumlahnya masing-masing berbeda. Namun total kerugian yang dialami oleh perusahaan, sejak 2008 sampai 2012 sebesar Rp 980 Juta.
Modus penggelapan yang dipakai adalah mengeluarkan barang dari perusahaan tanpa disertai faktur. Kemudian barang tersebut  dijual kepada customer lain di luar orderan. Untuk mengelabuhi perusahaan, tersangka membuat bilyet giro (BG) dimana seolah-olah pernah terjadi penjualan barang. Itu dilakukan untuk menutupi permasalahan sebelumnya.
“Togal kerugian perusahaan sesuai yang dilaporkan sebesar Rp 980 Juta. Namun yang bisa kami buktikan dari penyelidikan sebesar Rp 450 Juta saja. Dan untuk mereka berlima kami jerat dengan pasal 374 KUHP sub pasal 372 KUHP, tentang tindak pidana penipuan dalam jabatan,” terang mantan Kasatreskrim Polres Batu ini.
Sementara kelima tersangka sendiri, mengaku kalau penggelapan uang perusahaan yang dilakukannya bukan karena mereka satu tim (komplotan). Tetapi mereka menggelapkan uang itu secara personal (pribadi) mereka sendiri.
Ngadiono, yang mengaku sudah bekerja 12 tahun menggelapkan uang sebesar Rp 94 Juta. Penggelapan dilakukan sejak tiga tahun lalu, dengan tidak menyetorkan sebagian uang tagihan ke perusahaan. Nominalnya mulai dari Rp 500 Ribu sampai Rp 1 Juta dan dilakukan setiap sepekan sekali.
Sedangkan Soni Bagus Pratama sendiri, yang baru bekerja pada awal tahun 2012 lalu, menggelapkan uang sebesar Rp 17 Juta. Lalu Joko Santoro, yang sudah 14 tahun kerja menggelapkan uang sebesar Rp 265 Juta. Agus Dwi Kiswanto menggelapkan uang sebesar Rp 245 Juta sejak awal 2012. Dan Muhammad Ali, menggelapkan uang sebesar Rp 50 Juta, sejak tiga tahun lalu.
“Semua modus yang kami lakukan sama, yaitu tidak menyetorkan uang tagihan seluruhnya ke kantor. Sebagian saja dari hasil tagihan yang kami setorkan ke perusahaan. Kalau ditanyakan, kami bilang ke perusahaan kalau toko tutup atau belum ada toko yang membayar,” ujar Muhammad Ali, dibenarkan keempat temannya.
Terbongkarnya perbuatan kelimanya itu, bermula dari pihak perusahaan melakukan audit secara keseluruhan di pembukuan. Dari audit itu, diketahui kalau perusahaan mengalami kerugian sebesar Rp 980 Juta yang dilakukan sejak 2008 lalu. Berdasarkan data itu, pihak perusahaan yang merasa telah dirugikan akhirnya melaporkannya ke petugas Polres Malang, hingga meraka ditahan.
“Sebetulnya kelima karyawan ini, sudah berusaha mengganti biaya ganti rugi, dengan menyerahkan barang-barang yang ada di rumahnya. Tetapi karena kurang itulah, akhirnya mereka dilaporkan,” jelas Decky.(agp/eno)