Lulusan Hukum Unmer Dibui

DIKAWAL : Tersangka Tjandra Ferdian dikawal petugas Polsek Pakisaji saat dikeluarkan dari sel.

Gelapkan Uang Perusahaan
MALANG– Lulusan Fakultas Hukum harusnya paham benar dengan hukuman yang diterima bila berbuat kriminal. Namun tidak untuk Tjandra Ferdian, 31 tahun. Pria yang bergelar sarjana hukum Universitas Merdeka (Unmer) Malang tersebut malah melakukan penggelapan di tempat kerjanya, PT Padma Tirta Wisesa, Jalan Karangpandan, Pakisaji. Perbuatan tercela warga Jalan Gubeng Kertajaya Surabaya yang tinggal di Jalan Aluminium Malang tersebut ini pun menggiringnya masuk ke sel Mapolsek Pakisaji, Rabu (5/12). Menurut Kapolsek Pakisaji, AKP Ni Nyoman Sri Elfiandari, tersangka menggelapkan 200 dus kopi merek Nescafe senilai Rp 80 juta. “Dia ditahan atas laporan perusahaan tempatnya bekerja,” papar perwira tersebut.
Menurut Nyoman, panggilannya, Tjandra merupakan sales yang sudah bekerja di perusahaan distributor kopi dan susu itu sejak empat tahun lalu. Selama itu, lanjut dia, tersangka yang sudah dikaruniai dua anak ini tidak pernah berbuat masalah. Namun pada September 2012 lalu, Tjandra yang terbentur utang mulai berbuat curang. “Dia memesan 200 dus kopi Nescafe di perusahaan tempatnya kerja, dengan alasan untuk dikirim ke toko yang memesan. Namun setelah barang dikeluarkan dari perusahaan, 200 dus kopi tersebut tidak dikirim ke toko yang dimaksud. Sebaliknya barang tersebut dijual ke toko lain di wilayah Malang seharga Rp 80 juta,” ungkap mantan Kapolsek Gedangan itu. Supaya perbuatannya tidak terbongkar, dia membuat nota fiktif ke perusahaan. “Yang saya setorkan ke perusahaan hanya nota fiktif. Sedangkan uang penjualan barang, menyusul dari tokonya,” terang Tjandra kepada Malang Post.
Sementara uang hasil penjualan 200 dus kopi tersebut, diakui oleh tersangka digunakan untuk menutupi utangnya di perusahaan sebelumnya. “Istilahnya gali lubang tutup lubang. Sebab dulu ada tiga toko yang saya kirimi barang, ternyata toko itu tidak membayar karena bangkrut dan pemiliknya kabur. Meski sudah saya katakan ke perusahaan, tetapi tidak mau tahu dan menjadi pertanggungjawaban sales,” terangnya. Terbongkarnya perbuatan Tjandra sendiri, bermula dari pihak perusahaan melakukan audit pada pertengahan Nopember lalu. Dari audit itu, diketahui ada kejanggalan dari pengiriman barang yang dipesan Tjandra. “Sebetulnya saya sudah siap untuk mengganti saat ditanya. Namun belum sempat saya ganti, sudah dilaporkan ke polisi,” pungkas dia. (agp/mar)