Dua Kelompok Belum Berdamai

MALANG – Wakapolres Malang Kota, Kompol Wiyogo Pamungkas, tidak memberikan ampun kepada mahasiswa yang terlibat aksi tawuran. Terlebih, karena tawuran itu melibatkan dua kelompok dari komunitas yang berbeda.
Kemarin, dua kelompok yang bertikai usai futsal, Sabtu malam lalu, komunitas Timor Leste (Moko FC) dan Komunitas Seram, sebutan komonitas Ambon (SAG FC), dipertemukan di Mapolresta.
‘’Belum ada hasil memang, karena dari pihak komunitas Timor Leste tidak datang semuanya. Tapi hingga pernyataan perdamaian itu ditandatangani, semua yang ada sepakat untuk saling menjaga kamtimas dan siap diproses jika ada yang melanggar,’’ kata Wiyogo.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, turnamen futsal Merdeka Cup antar Fakultas Teknik Se Malang Raya, yang diadakan Fakultas Teknik, Universitas Merdeka, berakhir ricuh. Dua kelompok pemain yakni Moko FC dan SAG FC, serta pendukungnya, terlibat tawuran. Tidak hanya saling memukul, mereka juga saling melempar batu dan benda lainnya. Polisi bahkan sempat mengeluarkan tembakan peringatan untuk membubarkan tawuran tersebut.
Suasana panas masih berlanjut hingga Minggu (9/12) malam lalu. Ratusan anggota komunitas Ambon datang di kawasan Dieng. Hal itu terjadi lantaran muncuk SMS, jika komunitas Timor Leste melakukan penyisiran di rumah kos para mahasiswi asal Ambon.
Wakil Rektor III Universitas Merdeka Malang, Hesein Muslimin SH MM yang hadir dalam mediasi kemarin, menyesalkan kejadian tersebut. Apalagi pemicunya adalah pertandingan futsal. ‘’Harusnya even olah raga, menjadi ajang para mahasiswa untuk unjuk sportifitas. Bukan malah sebaliknya,’’ kata pria berkumis ini.
Atas kejadian tersebut, katanya, pihak kampus akan lebih selektif lagi terkait penyelenggaraan even yang diadakan mahasiswa. Terutama even berkaitan dengan kekuatan fisik.
‘’Akan lebih diperketat lagi, termasuk izinnya. Sesuai hasil mediasi, sekaligus koordinasi dengan pihak kepolisian, kegiatan yang menyangkut kekuatan fisik ditiadakan. Mahasiswa yang mengadakan juga harus mengajukan izin ke pihak kepolisian,’’ katanya.
Ajay Makatita, 31 tahun, perwakilan komunitas Ambon, menyesalkan mediasi yang tanpa ada kesepakatan. ‘’Kami ini sudah bosan dengan perang. Di Malang kami ini ingin perdamaian,’’ kata Ajay. Menurutnya, peristiwa Sabtu malam lalu hanya bentuk salah paham saja.
‘’Kami berharap polisi bisa bertindak adil. Siapapun yang menyalahi aturan, harus ditindak. Ini negara hukum. Semuanya diselesaikan sesuai jalur hukum,’’ tambah Marcel Angker, anggota komunitas Ambon lainnya.
Sementara Renaldo, perwakilan mahasiswa Timor Leste mengakui, pihaknya belum berani tanda tangan dalam nota kesepakatan damai. Alasannya, jumlah anggota komunitas Timor Leste yang datang hanya empat orang saja.
‘’Setelah ini, kami akan mencari rekan-rekan yang tersebar di Malang Raya ini, untuk membicarakan masalah perdamaian. Besok (hari ini, Red.), kami berjanji akan datang lagi,’’ kata Ronaldo. Namun secara pribadi, dia setuju dengan perdamaian. Terlebih dia di Malang untuk tugas belajar. ‘’Kami berharap rekan-rekan dari Timor Leste juga paham, dan mau berdamai,’’ tandas Renaldo.
Sementara untuk menjaga stabilitas keamanan, anggota Polres Malang Kota pun terus melakukan pemantauan. Baik itu di komunitas Ambon, maupun komunitas Timor Leste. (ira/avi)