Polisi Sikat Penyakit Masyarakat

MIRAS :  Puluhan minuman keras yang disita dan (foto kanan) para penjudi di Mapolsekta Sukun.

MALANG– Toko pracangan yang menjual minuman keras, Rabu (19/12) malam dirazia anggota tim gabungan Polres Malang Kota. Hasilnya, 94 minuman keras diamankan. “Semuanya ini mengandung alkohol lebih dari 20 persen,  yang harusnya dalam peredarannya disertai izin yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Malang,” kata Kasubag Humas Polres Malang Kota, AKP Dwiko Gunawan. Dia menjelaskan, razia toko menjual miras ini sengaja digelar anggota Polres Malang Kota dalam rangka operasi cipta kondisi. “Namanya cipta kondisi, operasi ini sasarannya adalah berkaitan dengan penyakit masyarakat, mulai dari penjualan minuman keras, PSK, juga perjudian,” katanya didampingi KBO Satreskoba Polres Malang Kota, Iptu H Waluyo.
Minuman keras ini sendiri disita dari enam penjual yakni MSK, 45 tahun, warga Jalan Candi Mega Mendung Malang, HM, 53 tahun, warga Jalan Galunggung II A Malang,  LHW, 59 tahun, warga Jalan Borobudur  Malang, LB, 63 tahun, warga Jalan Ikan Piranha Atas Malang, SY, 49 tahun, warga Jalan Hamid Rusdi Timur IV Malang dan DR, 21 tahun, warga Jalan Gilimanuk II Malang.
Sementara itu, jajaran Polsekta Sukun juga menggerebek arena judi domino di sebuah warung Jalan Kelapa Sawit Gg II Malang, dinihari kemarin. Empat penjudi berhasil diamankan, yakni Hari Purnomo, 34 tahun, warga Jalan Kelapa Sawit VIII Malang, Junaedi, 44 tahun, warga Jalan Kelapa Sawit Malang, Hendra winarno, 32 tahun, warga Jalan Mergan Kelapa Sawit Malang dan Ari Gunadi, 37 tahun, warga Jalan S Supriadi Gg II Malang. Sebagai barang bukti, petugas juga mengamankan uang Rp 1.007.000 dan dua set kartu domino.
“Uang tersebut ada di atas meja, dan dipakai para tersangka untuk bertaruh,” terang Kapolsekta Sukun, AKP Lukman Cahyono. Dijelaskan dia, penggerebekan arena judi itu berkat informasi dari  masyarakat. Dijelaskan dia, saat hendak digerebek ini, ada enam penjudi di tempat tersebut. “Namun yang dua orang sudah pulang karena kalah,” tambah dia. Kepada petugas, empat penjudi ini mengaku menggelar judi mulai pukul 23.00, dengan uang taruhan paling rendah Rp 2.000 dan paling tinggi Rp 10.000. “Yang tembus angka sembilan, selain dapat double juga berhak menjadi bandar. Tapi kalau tidak mau jadi bandar, pemenang hanya mendapatkan satu kali dari nilai yang ditaruhkan dan bandarnya dikembalikan kepada bandar sebelumnya,” kata Hari Purnomo, salah satu penjudi. (ira/mar)