Bunuh Anak Lalu Bunuh Diri, Jeritan Minta Tolong Seorang Ibu

PERISTIWA bunuh diri yang dilakukan Tri Kurniawati, seorang ibu di Kediri bersama kedua balitanya mengingatkan saya pada kejadian yang sama di kota Malang beberapa tahun silam. Ketika itu, Junania Mercy ditemukan tewas bersama empat anaknya di kamar. Dia diduga membunuh empat anaknya sebelum bunuh diri. Empat anaknya, Athena Latonia, Prinsessa Ladova Cool, Hendrisson dan Gabriella Al Cein. Di dekat tempat tidur tempat lima jenazah tergeletak rapi, ditemukan potas.  Kematian Mercy, panggilannya bersama empat anaknya itu seperti sudah direncanakan. Setidaknya ini terlihat dari berjejernya jenazah empat bocah di ranjang utama dan  jenazah wanita berusia 37 tahun itu di bawah ranjang.
Dari hasil pemeriksaan, polisi menemukan surat wasiat dan pakaian yang diminta Mercy untuk dikenakan pada anak-anaknya jika dikremasi. Mirip dengan kejadian bunuh diri namun gagal yang dilakukan Tri Kurniawati, mereka sama-sama nekat membunuh anaknya lalu bunuh diri saat suaminya tidak ada di rumah. Kejadian itu cukup menyayat hati. Empat anak kecil bagaikan sedang tidur dan dalam keadaan bersih serta rapi. Bisa dibayangkan, Mercy menyaksikan anaknya sekarat. Entah muntah, entah buang air, entah badannya kejang-kejang karena keracunan dan sebagainya.
Lebih tragis, dia merekamnya dengan sebuah ponsel dan membersihkannya lalu menata mayat anak-anaknya dengan rapi. Waktu yang cukup panjang prosesnya. Kemudian ia memilih pakaian pesta terbaiknya dan mengakhiri hidupnya. Suatu nyali yang terkesan berani dengan tekat bulat untuk mati. Saya memang merasakan, bila tekanan tekanan hidup membuat mental manusianya belum siap. Belum ditambah dengan adanya anak-anak yang butuh uang banyak untuk membeli susu. Dalam keadaan seperti ini, saya yakin keinginan untuk mengakhiri hidup terkadang pasti muncul. Bunuh diri biasanya dari kekecewaan yang besar karena apa yang diinginkan, dicintai atau diharap-harapkan tidak didapatkan.
Mercy ataukah Tri Kurniawati dan ibu-ibu lain di Indonesia yang juga bernasib sama, merupakan gambaran seorang yang mempunyai tekanan berat, persoalan rumah tangga, ekonomi dan sebagainya. ‘Jeritan’ minta tolong mereka, harus didengar. Kejadian seperti ini, sudah menjadi tugas wajib pemerintah untuk menyelesaikannya. Bukan hanya sekadar bicara, bukan hanya sekadar prihatin, namun sudah harus mewujudkan pekerjaan yang nyata. Saya yakin, peristiwa membunuh anak lalu bunuh diri, akan terus ada dan bisa menimpa siapa saja. (*)