Natalan, Petrus Pilih Gantung Diri di Panderman

BATU-Petrus Eko Hadi Darmawan, (22 tahun) tewas gantung diri di kawasan Gunung Panderman, kemarin. Jasad korban ditemukan dua pendaki gunung, di lereng Bukit Bokong dengan ketinggian sekitar 1.890 Mdpl.
Tampaknya kenekatan bunuh diri di ketinggian (vertical suicide) itu, sengaja dilakukan pada saat perayaan natal. Petrus tergantung pada pohon cemara pinggir jalur pendakian menuju puncak Gunung Panderman. Dia mengenakan kaos bertuliskan “Can’t Stop Arema”, celana jeans biru dan headset MP3 di telinga. Ada juga HP Samsung, dengan gantungan berbentuk salib perak berisi foto-foto orang gantung diri dan tali bertulis suicide (bunuh diri).
Awalnya polisi bingung dengan kondisi jenasah tanpa identitas itu. Namun tiba-tiba saja HP berdering, dan pada layer muncul nama Beta Kharisma sang pacar, warga Karanglo. Beta memastikan HP itu milik Petrus, namun polisi masih belum berani menyebut bahwa yang bunuh diri adalah Petrus.
Malang Post sendiri, mencoba menelusuri alamat Petrus alumni SMK Negeri 1 Singosari itu. Sesuai penelusuran didapat nomor telepon rumahnya di Jalan Indrokilo Selatan Kecamatan Lawang. Ketika nomor itu dihubungi, yang mengangkat adalah Agustinus adik kandung Petrus.“Iya katanya ( Petrus) sudah meninggal, kami baru ditelepon oleh Polsek Batu,” aku Agustinus kepada Malang Post tadi malam.
Agus menambahkan, kakaknya sudah meninggalkan rumah sejak tiga bulan lalu. Kepada ayah dan ibunya, Kristo-Sumiarsih, Petrus hanya pamitan akan bekerja ke Mojokerto. Sejak itu, anak pertama dari tiga bersaudara ini belum pernah pulang. “Pernah telepon saya seminggu lalu, menanyakan kondisi ibu. Soal Beta Kharisma, menurut polisi  itu pacarnya, anak Batu,” imbuh Agus.
Tetapi sesuai pengakuan Agus, selama ini sang kakak tak pernah bercerita mengenai pacar. Ketika Malang Post menanyakan alasan Petrus pergi dari rumah, Agus tampak enggan menjawab. Dia juga tak tahu kenapa kakaknya bunuh diri bertepatan dengan perayaan natal.“Saya enggak tahu itu, kami memang jarang komunikasi,” tandasnya.
Jasad Petrus, ditemukan oleh dua pendaki Antok Mardiwibowo anggota Impala Universitas Brawijaya (UB) dan Fachruli mahasiswa UMM Jurusan Ilmu Komunikasi. Keduanya naik ke Panderman, untuk survey perayaan tahun baru ke puncak gunung itu.
“Saya di depan, kemudian liat anak seperti sedang buang air besar. Ketika saya dekati ternyata gantung diri. Lalu saya foto dengan tablet, kemudian kami turun berlari menuju kampung,” aku Antok yang menambahkan penemuan itu sekitar pukul 10.00 pagi kemarin. (ary/lyo)