Bentuk Tim Khusus

DIRAWAT : Yuliandra dirawat di rumah sakit.
Perampokan Bersenpi
MALANG– Siapa perampok berpistol yang merampok uang Rp 210 juta dari dua pegawai SPBU PT Amasar Inti Nusantara di Jalan Raya Langsep Kota Malang, hingga kemarin masih belum jelas. Aparat kepolisian Polres Malang Kota, masih terus mendalami dan menyelidiki pelaku yang diketahui berjumlah empat orang tersebut. Kasubag Humas Polres Malang Kota, AKP Dwiko Gunawan mengatakan ada satu tim khusus yang sudah dibentuk untuk menyelidiki kasus tersebut. Penyelidikan sendiri, diawali dengan memeriksa beberapa saksi. Yakni selain saksi korban, juga saksi warga di sekitar tempat kejadian perkara (TKP).
“Kami juga melakukan penyelidikan di beberapa titik lokasi yang diduga menjadi tempat pelaku menyanggong korban dan tempat pelarian pelaku,” ungkap Dwiko. Dari hasil penyelidikan sementara tersebut, diketahui bahwa ciri-ciri pelaku berpawakan sedang. Tiga pelaku memiliki tinggi sekitar 165 sentimeter dan satu pelaku lainnya tingginya sekitar 170 sentimeter. “Dugaan sementara, pelaku ini sebelumnya sudah mengamati aktifitas kerja di SPBU tersebut,” ujar Dwiko.
Apakah ada keterlibatan orang dalam ? Dwiko mengatakan bahwa dugaan tersebut masih didalami. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa adanya keterlibatan orang dalam tersebut benar. “Semua kemungkinan masih terus kami dalami. Bisa jadi keterlibatan orang dalam itu memang ada,” katanya. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, dua pegawai SPBU PT Amasar Inti Nusantara di Jalan Raya Langsep Kota Malang itu, menjadi korban aksi perampokan. Uang Rp 210 juta yang akan disetorkan ke Bank Mandiri Cabang Wahid Hasyim, dirampok dua orang menggendarai Yamaha Vixion, di Jalan Brigjen Katamso.
Keduanya juga menderita luka tembak. Bahkan Yuliandra, warga Jalan Kemantren Gg III, harus dirawat di RST Soepraoen. Laki-laki 26 tahun itu, menderita luka tembak di paha kirinya. Peluru menembus kakinya dan harus mendapatkan perawatan. Sedang Imam, warga Jalan Sanan Gg IX, Blimbing bisa langsung pulang, karena hanya terserempet peluru. Setelah dirawat di RS Soepraoen, laki-laki 45 tahun itu, dianggap tidak perlu harus rawat inap. (agp/mar)