Llima orang pembuat petasan diamankan

TAJINAN– Ledakan dahsyat akibat petasan yang pernah terjadi pada pertengahan Agustus 2012 lalu di Desa Ngingit - Tumpang, ternyata belum membuat warga kapok. Faktanya, menjelang perayaan tahun baru, masih banyak warga yang membuat petasan. Akhir pekan kemarin, lima orang pembuat petasan diamankan petugas Satreskrim Polres Malang. Yakni Muhammad Solichin, 43 tahun, warga Dusun Karangnongko, RT04 RW07, Desa/Kecamatan Tajinan. Muhammad Badrus Salam, 35 tahun, Muhammad Kamil, 35 tahun, serta Saman, 35 tahun, warga Dusun/Desa Sumbersuko, Tajinan. Serta Rosidi, 33 tahun, warga Desa Ngingit, Tumpang.
Kelimanya diringkus petugas di rumahnya masing-masing. Kali pertama yang ditangkap adalah Kamil, kemudian mengembang keempat pelaku lainnya. Barang bukti yang diamankan dari kelima tersangka, selain peralatan pembuat petasan dan beberapa sak karung berisi arang yang sudah dihaluskan, juga beberapa plastic berisik bahan serbuk petasan.
“Semua barang bukti yang kami amankan tersebut, kami temukan di dalam rumah kelima tersangka. Mereka ini kami jerat dengan Undang-undang Darurat nomor 12 / 1951 tentang kedapatan memiliki dan menyimpan bahan peledak,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang, AKP Decky Hermansyah. Penangkapan kelima tersangka ini sendiri, adalah bermula kejadian ledakan yang terjadi di Tumpang beberapa waktu lalu. Dari kejadian tersebut, petugas lalu menyelidiki keberadaan pelaku pembuat petasan di wilayah Kabupaten Malang. Hasil dari penyelidikan, petugas mendapat informasi tentang adanya pembuatan petasan di rumah Kamil.
Berangkat dari itu, petugas menggerebek rumah Kamil dan menangkapnya. Selanjutnya dari penangkapan Kamil ini, mengembang keempat pelaku lain. “Kasus ini masih akan kami kembangkan. Sebab dugaan masih ada pelaku pembuat petasan lain selain kelimanya ini,” jelas Decky, panggilannya. Sementara itu, dari pemeriksaan penyidik, Kamil mengatakan mendapatkan bahan untuk membuat petasan dari Saman. Saman sendiri, mengaku membelinya dari Rosidi. Dan Rosidi ketika diperiksa mengaku mendapatkan bahan petasan itu dari Muhammad Solichin dengan membelinya seharga Rp 100.000 per-kilogramnya.
Sedangkan Solichin sendiri, kalau bahan serbuk petasan yang dijual itu adalah sisa saat lebaran lalu. Dia dulunya membeli dari Ponari, warga Dusun Alas Gede, Desa Ngingit, Tumpang. Ponari sendiri, pada pertengahan Agustus 2012 lalu, tewas setelah produksi petasannya meledak dan menghancurkan rumah serta tubuhnya. Bahkan tubuh istri serta keponakannya saat itu juga ikut hancur. (agp/mar)