Tersesat karena 25 Persimpangan dan Mistik

MALANG - Hilangnya pasangan suami istri, Posma Regenald Panggabean dan Meldiana Martha Timisela, jadi pelajaran bagi warga yang berkunjung ke Pulau Sempu.
Pulau seluas 877 hektare itu, sebenarnya tidak boleh dikunjungi secara bebas dan wajib izin terlebih dahulu. Pasalnya pulau yang menghadap ke samudra Hindia Selatan itu, masih dipenuhi hutan belantara. Termasuk dihuni satwa buas dan juga dibayangi berbagai kisah mistik.
Kepala Resort BKSDA Pulau Sempu, Setyadi menjelaskan, Pulau Sempu sebenarnya bukan pulau yang bisa dikunjungi secara bebas. Setiap pengunjungnya diwajibkan izin kepada BKSDA.
‘’Karena fungsinya sebenarnya bukan untuk tempat wisata. Pulau Sempu berfungsi sebagai kawasan konservasi, penelitian dan pendidikan,’’ jelas Setyadi.
Ia merinci, sejumlah satwa buas dan satwa liar masih menghuni Pulau Sempu. Diantaranya macan tutul, ular pyton, ular cobra, ular ijo, kelinci, babi hutan, lutung jawa dan kijang.
Setiap pengunjung mestinya harus didampingi guide. Ini karena pengunjung Pulau Sempu rawan tersesat. ‘’Orang rawan tersesat karena tidak tahu jalur. Terdapat sekitar 25 persimpangan jalan setapak di Pulau Sempu,’’ jelasnya.
Jalan setapak itu, lanjut Setyadi, bukan jalan yang disediakan untuk wistawan. Melainkan jalur patroli petugas.
Selain karena terdapat sekitar 25 persimpangan, kisah misteri juga menjadi cerita yang masih diyakini di Pulau Sempu. Percaya tidak percaya, menurut Setyadi, terdapat sejumlah peristiwa aneh.
‘’Orang tersesat biasanya karena merasa seperti diajak orang. Karena itulah, yang tahu medan sekalipun juga kadang bisa nyasar,’’ kata dia.
Ia lantas mencontohkan kejadian di Banyu Towo yakni  sumber air di Pulau Sempu. ‘’Pernah ada kejadian, orang berjalan mengelilingi tempat itu sepanjang malam tanpa tahu jalan keluar,’’ sambungnya.
Pengunjung yang tersesat sepanjang malam, lanjut Setyadi, baru sadar bahwa ia hanya berjalan keliling  Banyu Towo pada pagi hari. Kemudian pengunjung tersebut menghubungi petugas via telepon.
‘’Salah satu kejadian pada awal 2012. Orang itu keliling tak bisa keluar selama satu malam,’’ kata dia.
Sepanjang tahun 2012, lanjut Setyadi, tercatat tiga pengunjung yang tersesat dalam waktu yang lama di Pulau Sempu. Pertama seorang pengunjung yang tersesat selama empat hari di awal 2012.
Sedangkan yang terbaru yakni pasangan suami istri Posma Regenald Panggabean dan Meldiana Martha Timisela. Pasutri asal Bandung ini tersesat selama empat hari di Pulau Sempu yakni mulai Rabu (26/12) dan baru ditemukan pada Sabtu (29/12) lalu dalam keadaan sehat.
Pernah juga terjadi peristiwa pengunjung berjalan ke Segara Anakan dari pagi dan baru tiba sore hari. ‘’Padahal kalau normal yakni kondisi kering, perjalanan ke Segara Anakan hanya satu jam. Kalau hujan baru dua sampai tiga jam,’’ jelas Setyadi.  
Namun demikian, sampai saat ini tidak pernah ada catatan pengunjung Pulau Sempu yang diserang binatan buas. (van/avi)