Pengedar SS Dampit Dibekuk

TAK BERKUTIK: Tersangka Supriono ketika diinterogasi Kasatreskoba Polres Malang, AKP Pratolo Saktiawan.

DAMPIT – Awal tahun 2013, Satuan Reskoba Polres Malang memulai dengan hasil positif. Seorang pemakai sekaligus pengedar narkotika jenis sabu-sabu (SS) Selasa (1/1) dini hari lalu berhasil diamankan. Dia adalah Supriono, 39 tahun, warga Jalan Semeru Selatan, Kelurahan/Kecamatan Dampit.
Bapak satu anak ini diringkus petugas di Jalan Raya Dampit, usai merayakan pergantian tahun baru. Dari tangan dia, petugas mengamankan empat poket SS dibungkus plastik transparan, seperangkat alat hisap serta uang sebesar Rp 450 ribu. Barang bukti tersebut ditemukan di saku celananya.
Kasatreskoba Polres Malang, AKP Pratolo Saktiawan mengatakan, penangkapan Supriono ini, bermula dari informasi masyarakat. Dari informasi itu, petugas lalu menindaklanjuti dengan melakukan penyelidikan selama sepekan. Begitu diketahui tersangka Supriono ini hendak mengedarkan SS, petugas langsung menyergapnya.
“Semula ketika kami tangkap, dia sempat mengelak tuduhan memiliki barang haram tersebut. Namun begitu kami lakukan penggeledahan dan ditemukan poketan SS dalam sakunya, dia tidak bisa lagi mengelak. Terlebih ketika kami lakukan penggledahan di rumahnya ditemukan alat hisap SS,” ungkap Pratolo Saktiawan.
Dalam pemeriksaan penyidik, Supriono mengaku kalau serbuk putih SS tersebut dibeli dari seorang temannya bernama Syarif, warga Desa Sumbersuko - Dampit. Kepada Syarif yang kini menjadi buronan polisi itu, dia sudah dua kali membeli. Sekali beli sepoket SS seberat satu gram itu, dibeli dengan harga Rp 1,6 juta.
Kemudian satu poket ukuran sedang itu, dibagi menjadi beberapa poket yang kemudian dijual lagi. Satu poket SS kecil dijual seharga Rp 450 ribu.
“Biasanya yang membeli adalah para sopir truk dan angkot. Sepoket ukuran sedang itu biasanya habis terjual sampai sepekan,” ujar Supriono.
Pria yang istrinya kini tengah hamil lima bulan ini, menambahkan kalau mengedarkan SS itu adalah hanya kerjaan sampingan saja. Pasalnya kerja serabutan selama ini, diakuinya masih belum cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
“Sebetulnya saya sempat berhenti setengah tahun lalu. Itu sejak Imron, warga Dampit yang biasa memasok SS pada saya ditangkap polisi. Namun begitu saya kenal Syarif yang bisa menyuplai SS, akhirnya saya kembali terjun lagi,” tutur Supriono.(agp/lim)