Tentara Njambret, Remuk Dimassa

MALANG – Seorang oknum tentara, Dede Frista Ramadhan, babak belur dihajar warga di Jalan Simpang Balapan Kota Malang, Kamis (3/1) malam kemarin. Kejadian sekitar pukul 20.00 WIB.
Pria 23 tahun dengan pangkat prada yang tinggal di asrama Divisi II Kostrad Singosari itu, menjadi bulan-bulanan warga, setelah tepergok menjambret tas milik Theresia Luciawati, 19 tahun asal Dusun Krajan RT12 RW03, Desa Pagerwojo, Kecamatan Kesamben, Blitar.
Informasi yang dihimpun Malang Post menyebutkan, kejadian yang mencoreng korps baju hijau itu, berawal ketika Theresia yang mengendarai Honda Beat di Jalan Merbabu, tiba-tiba dipepet Dede yang menggunakan Suzuki Thunder dari arah timur ke barat.
Tanpa banyak kata-kata, Dede langsung menarik tas yang diletakkan Theresia di kotak belakang kemudi motornya. Sekali sentak, tas berpindah tangan. Dede, langsung kabur kearah Jalan Simpang Balapan.
‘’Tas warna merah, isinya charger laptop dan dompet warna merah muda. Berisi surat-surat penting dan uang Rp 248 ribu,’’ ucap sumber Malang Post, yang melihat kejadian tersebut.
Theresia yang sejenak kaget melihat tasnya sudah berpindah tangan, setelah sadar spontan berteriak dan mengejar Dede. Sembari memacu motornya, Theresia juga berteriak untuk menarik perhatian warga sekitar.
Teriakan itu membuat warga yang ada di pinggir jalan, ikut mengejar Dede. ‘’Pelaku terlihat panik begitu melihat banyak warga yang mengejar. Dia juga tidak bisa menguasai kemudi motornya, sehingga menabrak bundaran patung Hamid Rusdi di Jalan Simpang Balapan,’’ tambah sumber tersebut.
Meski terjatuh dari motornya, Dede tidak menyerah. Dengan membawa tas hasil kejahatannya, pria ini berdiri dan lari menghindari kejaran warga.
Sayang, upayanya itu tidak berhasil. Warga yang sudah mengepung, berhasil menangkap Dede. Termasuk menghadiahi dengan berbagai macam pukulan.
‘’Saat itu pelaku sempat mengatakan, kalau dia anggota TNI AD. Namun warga tidak perduli dan terus menghajarnya,’’ ucap sumber yang wanti-wanti agar namanya tidak dikorankan itu.
Bahkan aksi massa ini tidak berhenti, sekalipun malam itu petugas dari Polres Malang Kota, datang ke TKP. Saat Dede diamankan dan dimasukkan mobil patroli, warga masih terus melayangkan pukulan. Warga emosi, karena Dede dianggap mentang-mentang saat ditangkap warga.
Tetapi setelah polisi mengeledah dan menemukan kartu tanda anggota (KTA) milik Dede, yang menyebut dia anggota militer dari salah satu kesatuan TNI AD, polisi menghubungi Denpom V/3  Brawijaya. Termasuk menyerahkan Prada Dede ke militer.
Sayangnya, ketika hal itu dikonfirmasikan, belum ada pihak yang secara terang-terangan membenarkan identitas Dede. Termasuk kejadian tersebut.
Kapolres Malang Kota, AKBP Teddy Minahasa Putra, juga memilih bungkam ‘’Kalau nanya TNI, bukan ke polisi. Harap Maklum,’’ jawab dia melalui sms.
Namun saat ditanya kasus tersebut, Teddy menjawab, kasus yang melibatkan Prada Dede, bukan kasus criminal. Tapi kasus rumah tangga. ‘’Itu perselisihan RT (rumah tangga, Red.). Jika ada unsur laporan dari pihak yang dirugikan, ya kita proses secara hukum yang berlaku,’’ tulisan dalam sms yang dikirim ke salah satu wartawan.
Wadandenpom V/3 Brawijaya, Mayor CPM Didik Hariyadi, yang siang kemarin dikonfirmasi Malang Post via telepon, juga mengaku tidak tahu menahu terkait kasus tersebut. Sebaliknya, pria dengan satu melati ini pundak ini, justru bertanya balik. ‘’Lho, kapan? Dimana? Saya tidak tahu,’’ katanya.
Ketika melihat alamat, Prada Dede tinggal asrama Divisi II Kostrad Singosari itu, Malang Post, juga konfirmasi ke Kostrad. Perwira Penerangan Divisi II Kostrad, Kapten Inf Jalu Susilarjo, juga mengaku belum mendapat laporan terkait ada anggota yang terlibat kasus kriminal tersebut.
‘’Saya belum tahu dan belum mendapatkan laporannya,’’ katanya. Namun begitu, perwira pertama ini mengatakan, jika ada anggota yang terlibat kasus kriminal, pasti diproses, sesuai hukum yang berlaku. (ira/avi)