Bawa Kabur Miliaran Rupiah, Istri Tentara Dipolisikan

LAPOR RESMI : Puji Rahayu Dwi Susanti menunjukkan bukti surat laporan resmi ke Polres Malang dan (foto kanan) Susi Sri Sugiarti.

KEPANJEN– Setelah bulan November 2012 lalu hanya diadukan ke polisi, kemarin Susi Sri Sugiarti, 34 tahun, tinggal di Jalan Pudak, Kelurahan, Cepokomulyo, Kepanjen resmi dilaporkan ke Mapolres Malang. Istri Koptu WH, anggota Yon Zipur Kepanjen itu, dianggap melakukan penipuan hingga menyebabkan kerugian para korbannya mencapai Rp 5 miliar. Tiga dari 20 korban yang melapor yakni Puji Rahayu Dwi Susanti, 33 tahun, warga Dusun Tempur, Desa Kemiri Kepanjen, Laili Ikke Susanti, 39 tahun, warga Jalan Raya Desa Jenggolo, Kepanjen dan Sulistina, 39 tahun, warga Desa/Kecamatan Pagak. Kasus yang membelit warga asal Solo ini pun menjadi penanganan serius Unit II Satreskrim Polres Malang.
“Dulu kami hanya mengadu saja ke polisi karena Susi berjanji akan mengembalikan semua uang akhir tahun 2012. Tapi, sampai sekarang, uang tidak dikembalikan. Dia juga kabur,” tegas Puji, salah seorang pelapor. Dijelaskan dia, modus yang dilakukan Susi yakni menawari para korban untuk bergabung dalam investasi pembelian barang jaminan yang dilelang oleh kantor Pegadaian. Susi menjanjikan keuntungan antara 13 persen hingga 14 persen di setiap penjualan barang-barang tersebut.  Misalkan, korban menyetorkan uang Rp 10 juta untuk diinvestasikan, maka mereka akan mendapat keuntungan hingga 14 persen. Karena keuntungan besar ini, ditambah kepercayaan Susi sebagai istri tentara, Puji dan korban lainnya bergabung untuk ikut investasi ini.
“Awal mula, keuntungan dari setiap investasi yang disetorkan selalu lancar diberikan. Meski penyerahannya selang beberapa hari setelah modal disetor,” ungkap wanita ini. Biasanya setiap bulan, ada dua hingga tiga kali pembelian barang lelang. Mulai dari perhiasan emas, emas batangan, kendaraan dan barang-barang elektronik. Namun, ibu dua anak tersebut dianggap mulai menyelewengkan dana investasi ini setelah menerima setoran dana dari para korban hingga miliaran rupiah, bulan Juni 2012 lalu.  Saat itu, Susi mengaku bila salah satu kantor Pegadaian di Malang akan melakukan cuci gudang barang jaminan, sebelum bulan Ramadan, Agustus 2012 lalu. “Dia menjanjikan keuntungan lebih besar. Namun dia juga mengaku butuh dana yang lebih besar. Akhirnya kami menyerahkan uang kepada dia dengan bukti kuitansi,” terang Puji.
Namun setelah ditunggu beberapa lama, uang dan keuntungan yang disetorkan tidak diberikan.
Ketika ditagih, Susi berulangkali menyebutkan menunggu usai Lebaran karena barang-barang jaminan yang dibeli belum habis terjual. Tapi janji tinggal janji. Hingga usai Lebaran, Susi tetap tidak mengembalikan uang para ‘nasabahnya’. Kesabaran nasabah yang menunggu janji wanita tersebut pun habis. “Sekarang ini baru kami bertiga saja yang berani melaporkan ke polisi. Nanti kalau pelakunya sudah tertangkap, korban lainnya juga akan melapor,” tegasnya dibenarkan dua korban lainnya. Mereka mengaku nekat melapor karena sejak akhir tahun lalu, Susi sudah tidak ada di rumahnya. Yang membuat para korban juga jengkel, Koptu WH, mengaku tidak tahu menahu masalah istrinya ini. (agp/mar)