Wartawan Malang Post Dicelakai Orang Tak Dikenal

MALANG – Diduga karena berita yang ditulis, wartawan Malang Post, Ira Ravika dicelakai orang tak dikenal, Rabu (9/1) siang kemarin. Motor yang dinaiki saat menjalankan tugas jurnalistik, ditendang orang tak dikenal di Jalan Brigjen Slamet Riyadi Kota Malang.
Akibatnya, Ira terjatuh bersama-sama motornya. Wanita kelahiran Banyuwangi ini, harus dilarikan ke UGD RS dr Saiful Anwar. Selain menderita luka-luka di sekujur tubuhnya, tangan kanannya juga patah.
Tindak kriminal itu dilakukan oleh dua orang tak dikenal, yang mengendarai Kawasaki Ninja warna hitam. Diduga keduanya sudah membuntuti Ira sepanjang liputan jurnalistik kemarin.
‘’Mereka dua kali menendang motor saya. Pertama, saya anggap, senggolan, karena lalu lintas cukup ramai. Tapi saya masih bisa mengendalikan motor,’’ ujar Ira usai melaporkan kasus tersebut ke SPK Polres Malang Kota, semalam.
Tidak berhasil di upaya pertama untuk mencederai Ira, sekitar 500 meter dari lokasi pertama, arah belakang, dua orang itu kembali mengejar Ira dan menendang motornya.
Pada tendangan kedua inilah, Ira tidak bisa mengendalikan motornya dan langsung terjatuh. Namun saat jatuh itu, Ira masih sadar dan bisa melihat dengan jelas motor dan ciri-ciri pelakunya.
‘’Motornya sama, jaketnya sama dan semuanya sama. Sayang, nomor polisinya tidak sempat terlihat, karena keduanya langsung melarikan diri,’’ ujar wartawan yang bisa ngepos di Polres Malang Kota ini.
Sebelum kejadian tersebut, Ira berkali-kali menerima sms ancaman. SMS pertama diterima Sabtu (5/1) malam. Dari nomor 085856359480 berisi : ‘’Kamu sudah menabur benih lewat beritamu, sebentar lagi kamu akan menuai badai! Ingat itu hati hati mulai sekarang!!!’’
Kemudian sms lain diterima Minggu (6/1), salah satunya berbunyi : ‘’Kamu wartawan sok suci, ingat kamu sudah menabuh genderang perang. Semua identitasmu sudah ditangan!!’’ SMS itu dikirim dari nomor 085856359460.
Atas kejadian tersebut, Ira didampingi Pemimpin Redaksi Malang Post, Sunavip Ra Indrata, melaporkan kasus tersebut kepada polisi. Laporan itu diterima dan diregistrasi dengan nomor STBL/LP/32/I/2013/Jatim/Res Mlg Kota, tertanggal 9 Januari pada pukul 18.25 WIB.
Terkait siapa pelaku dan apa motifnya, Indra – panggilan akrab Sunavip Ra Indrata – menyerahkan semuanya kepada polisi. ‘’Kami tidak mau menuduh. Kami memilih menyerahkan masalah itu ke polisi dan kami percaya polisi bisa mengungkap kasus ini,’’ ujar Indra.
Ira sendiri awalnya pagi kemarin, baru saja meliput sebuah aksi unjuk rasa di Pengadilan Negeri. Dari melaksanakan tugas liputan itu, dia diundang makan siang oleh Kasubag Ops Polres Malang Kota Kompol Budiharto, Kasat Intelkam Polres Malang Kota AKP Imam Solikin, di Rumah Makan Jogja di kawasan Jalan Sukarno Hatta.
Usai makan siang, Ira berniat kembali melaksanakan tugas jurnalistik ke Mapolres Malang Kota. Melewati jalur Jalan Soekarno Hatta – Mayjen Panjaitan dan terus ke Jalan Brigjen Slamet Riyadi atau Oro-oro Dowo.
Sepanjang perjalanan itu, Ira merasa sudah dibuntuti. Karena itulah, dia memilih menjalankan motornya dengan kecepatan di bawah 30 km/jam. ‘’Ternyata benar. Sesampainya di Oro-oro Dowo, motor saya ditendang dua kali,’’ sebut dia.
Kapolres Malang Kota, AKBP Teddy Minahasa Putra ketika dikonfirmasi, langsung menindaklanjuti laporan tersebut. Polisi, kata Teddy, akan menyelidiki kasus tersebut.
‘’Kami akan menyelidiki, karena kasus ini baru pertama kali terjadi di Kota Malang. Apakah tindakan itu murni karena motif-motif tertentu atau kriminal murni,’’ tandasnya.
Teddy juga tidak mau secara premature menyebut siapa pelakunya sebelum ada data-data yang lengkap. ‘’Tetapi kami akan sangat bersungguh-sungguh untuk menyelidiki kasus ini,’’ tandasnya.
Terpisah, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim menyatakan keprihatinannya atas kasus penganiayaan yang menimpa Ira. Apalagi, jika penganiayaan itu terjadi hanya gara-gara pemberitaan.
‘’Tidak begitu caranya. Kalau tidak puas ada jalan dan prosedurnya. Wartawan tidak kebal hukum, tetapi wartawan juga tidak bisa diperlakukan seenaknya hanya gara-gara nulis berita,’’ tandas Muhammad Munir, Ketua PWI Jatim.
Munir juga menyebutkan, jika ada orang yang tidak puas dengan pemberitaan media, maka orang yang bersangkutan bisa menggunakan jalur hukum pers.
Pertama, lanjut dia, bisa menggunakan hak jawab. Jika dirasa masih tidak puas bisa melayangkan somasi ke media bersangkutan. Jika somasi itu tidak ditanggapi maka masyarakat bisa mengadukan ke Dewan Pers.
‘’Bukan jamannya main kekuatan otot. Lagi pula, tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan secara baik-baik,’’ ujarnya sembari menyebut, PWI Jatim selama ini sudah melakukan kerjasama dengan Polda Jatim dan Kodam Brawijaya.
Di sisi lain, Munir mengingatkan, apapun bentuknya Polresta Malang harus mengusut tuntas kasus penganiayaan yang dialami wartawan Malang Post.
‘’Ranahnya sudah menjadi ranah polisi, karena ada unsur penganiayaan. Siapa pun di bumi Indonesia tidak ada yang kebal hukum. Termasuk kita (wartawan) kalau melakukan tindak pidana atau kriminal juga harus diproses secara hukum,’’ ujarnya.
Sedang Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang mengecam aksi kekerasan terhadap jurnalis. Mereka juga meminta polisi mengusut tuntas dan menghukum pelaku kekerasan sesuai prosedur hukum.
‘’Kami meminta semua pihak menggunakan UU Pers 40 Tahun 1999 jika terjadi sengketa pemberitaan,’’ tulis AJI dalam siaran persnya. (big/has)