Tahu Klien Diperas, Kapolsek Dipraperadilankan

MALANG- Kasus penggelapan di PT Padma Tirta Wisesa, Jalan Karangpandan, Pakisaji bakal berbuntut panjang. Ferry Nofandi, General Manager perusahaan itu dipolisikan karena dianggap melakukan pemalsuan dan pemerasan terhadap mantan karyawan yang menjadi tersangka kasus ini. Yaitu Tjandra Ferdian, tinggal di Jalan Aluminium Malang dan Widowati, warga Jalan Taman Surya Malang. Tjandra sendiri, ditahan di Mapolsek Pakisaji bulan Desember 2012 lalu, sedangkan Widowati hanya menjalani wajib lapor karena kondisi kesehatannya. H. Joko Supriyono, SH. CN. Mhum, kuasa hukum Widowati mengungkapkan bila pihaknya sudah melaporkan Ferry ke Satreskrim Polres Malang, beberapa waktu lalu atas dua tuduhan tersebut.  Pengacara yang berkantor di Jalan Kecamatan Kota Malang itu menegaskan, Ferry telah membuat pelaporan palsu yang melibatkan kliennya.
”Padahal, dia bukan bagian dari direksi perusahaan. Menurut UU No. 1 Tahun 1995, Pasal 82 tentang Perseroan Terbatas, yang berhak mewakili perusahaan membuat laporan tindak pidana kepada kepolisian adalah Direksi dan Komisaris,” terangnya. Secara otomatis, laporan penggelapan hingga mengakibatkan Tjandra Ferdian dan Widowati berurusan dengan hukum, menurut dia, harus gugur dengan sendirinya. ”Ferry hanya sebagai General Manager. Yang berhak melaporkan tetap Direktur dan Komisaris,” tegas dia. Yang aneh, Ferry memberi kuasa dan menyuruh Widowati untuk melaporkan kasus dugaan penggelapan yang dilakukan salesnya, Tjandra Ferdian. Sedangkan dia sendiri juga melaporkan Widowati dengan kasus yang sama.
Masih menurut dia, saat penyidikan yang dilakukan unit Reskrim Polsek Pakisaji, Ferry juga dianggap melakukan pemerasan terhadap kliennya. “Klien kami diminta oleh Ferry membayar uang sebesar Rp 328.500.000 supaya kasus dihentikan. Uang itu dianggap sebagai pengembalian kerugian perusahaan yang telah ditimbulkan. Klien kami telah membayarnya dan diterima Baharudin, Manager Operasional pengganti Widowati, tanggal 17 Desember 2012,“ jelasnya. Ironisnya, papar Joko, pemerasan yang dilakukan Ferry itu dilakukan di hadapan Kapolsek Pakisaji, AKP Ni Nyoman Sri Erfiandari.
”Setelah tuntutan pembayaran itu telah dilakukan, kasus yang menimpa klien saya harusnya dihentikan oleh Polsek Pakisaji,” tandas dia. Namun hingga bulan Januari ini, penghentian penyidikan atas perkara tersebut masih belum terlihat. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang ini juga menegaskan mempraperadilankan Kapolsek Pakisaji terkait kasus ini. ”Dia tahu klien kami diperas, selain itu status klien sebagai tersangka tak kunjung dicabut. Sampai sekarang, Widowati masih harus melakukan wajib lapor ke polisi. Kami menuntut ada permintaan maaf kepada klien kami melalui media,” pungkasnya. Seperti pernah diberitakan, seorang sales dan manager operasional PT Padma Tirta Wisesa dilaporkan ke polisi karena terlibat penggelapan barang. Modus yang dilakukan, mengeluarkan 465 kardus kopi Nescafe senilai Rp 226 juta dan dijual ke wilayah Kediri. (big/mar)