Utang Piutang Berujung Pencurian

BUKTI : Roni Marthen Rompis menunjukkan bukti kuitansi dan surat perjanjian peminjaman uang.

Polisi : Roni Terbukti Melanggar Pasal 362 KUHP
DAU– Sudah jatuh tertimpa tangga. Nasib itulah yang dialami Roni Marthen Rompis, warga Perum Villa Bukit Sengkaling, Dau. Sudah jelas menjadi korban penipuan, dia malah dilaporkan melakukan pencurian oleh Ariyati dan M Ade Arif, suaminya, warga Perumahan Oma Campus, Dau. Pria 40 tahun tersebut, dilaporkan ke Polsek Dau dengan tuduhan pencurian barang di dalam rumah. Roni sendiri sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polsek Dau yang menangani laporan pencurian tersebut. “Saya ini korban malah dijadikan tersangka. Jelas saya tidak terima dengan apa yang saya alami ini,” keluh Roni kemarin saat memaparkan kasus yang menimpanya kemarin. Dia menjelaskan, kasus ini bermula dari utang piutang antara pengusaha rent car dan importir sayur ini dengan Ariyati dan M Ade Arif.
”Tanggal 11 Oktober 2012, Ade dan istrinya menelpon saya. Mereka bermaksud meminjam uang Rp 30 juta dan berjanji akan mengembalikannya dalam waktu dua minggu,” tuturnya. Karena kenal dekat, Roni pun meminjami. Dia lalu menghubungi Suyati, rekan kerjanya untuk mengutarakan hal itu. Setelah itu, keduanya mendatangi rumah Ade untuk menyerahkan uang yang dipinjam itu. Rinciannya, Rp 20 juta diberikan secara kontan dan Rp 10 juta ditransfer. “Saat saya tiba di rumahnya, langsung disodori surat perjanjian peminjaman oleh Ade. Dia juga mengatakan akan memberikan bunga 20 persen dari pinjaman uang itu. Bahkan, kalau janjinya meleset, barang-barang di warnet miliknya yang berada di Jalan Sigura-Gura Barat Malang, sebagai jaminannya. Kalau dari barang-barang itu nominalnya kurang, saya bisa mengambil barang-barang di rumahnya,” terang dia.
Selang sepekan, Roni mencoba mengingatkan Ade supaya jangan sampai telat mengembalikan uang. Tetapi saat ditelpon dan SMS, diakuinya, sama sekali tidak ada respons. Hingga pada 23 Oktober 2012, diketahui ada aktivitas pemindahan barang-barang dari rumah Ariyati. “Tahu ada pemindahan barang itu, saya mencoba masuk lalu mengambil lemari es dan kasur. Tujuan saya saat itu supaya ditegur oleh satpam, sehingga satpam melaporkan ke Ariyati dan saya bisa ketemu dengannya untuk membicarakan masalah utang piutang,” jelasnya. Tetapi dugaan Roni salah, satpam hanya diam saja. Ariyati serta suaminya sama sekali tidak reaksi. Sebaliknya pada 25 Oktober, pasangan suami istri itu justru melaporkan Roni ke Polsek Dau dengan tuduhan melakukan pencurian.
Mengetahui dirinya dilaporkan, pada 26 Oktober 2012 , dia membuat pengaduan ke Polres Malang dengan dugaan penipuan dan penggelapan. Dari pengaduan itu, 21 Desember 2012, Ariyati dipanggil oleh penyidik. Tetapi dengan alasan sakit dan baru melahirkan, dia tidak datang. “Sampai sekarang bagaimana pengaduan saya di Polres Malang belum tahu perkembangannya. Sedangkan tuduhan pencurian, Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP)nya  sudah dikirm ke Kejaksaan,” keluhnya. Terpisah, Kapolsek Dau, Kompol Zein Mawardi, dikonfirmasi membenarkan adanya laporan pencurian itu. ”Tersangka Roni terbukti melanggar Pasal 362 KUHP sub 363 KUHP,” tegas Zein. (agp/mar)