Polsek Dau Tak Tahan Tersangka Pencurian

SEPI : Rumah Ariyati di Perum Oma Campus Blok AA1-16 Dau Malang, yang kondisinya sepi.

MALANG– Harapan Roni Marthen Rompis, warga Perum Villa Bukit Sengkaling, Dau, untuk lepas dari jeratan kasus pidana nampaknya sulit terwujud. Tuduhan pencurian yang dilaporkan oleh Ariyati dan suaminya M Ade Arif, ke Mapolsek Dau terbukti dan telah memenuhi unsur pidana. Hal tersebut dikatakan Kapolsek Dau, Kompol Zein Mawardi, kemarin siang kepada Malang Post. Menurutnya, tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh Roni Marthen Rompis ini, sudah masuk tindak pidana murni. Itu sesuai dengan pasal 362 KUHP sub 363 KUHP. “Bukti-bukti dan keterangan saksi sudah mencukupi kalau perbuatan Roni ini, masuk tindak pidana murni. Apalagi juga ada saksi mata Satpam setempat yang mengetahui Roni mengambil dan mengeluarkan barang dari rumah korban (Ariyati),” ungkap Zein.
Menurutnya, kesalahan dari Roni terkait tuduhan kasus pencurian itu, adalah mengambil barang di dalam rumah korban tanpa seizin pemilik. Hal itulah yang menjadi dasar bahwa perbuatan Roni ini adalah kriminalitas murni. “Kalau mungkin dia mengeluarkan barang itu izin dulu, tidak akan seperti ini. Kalau Roni mengatakan sudah izin, itu hanya dalihnya saja. Apalagi, dari hasil gelar perkara di Polres Malang tadi pagi (kemarin), Roni memang terbukti bersalah,” ujarnya. Terkait tidak ditahannya Roni sendiri, perwira dengan melati satu di pundaknya ini, memang ditangguhkan. Itu karena selama ini Roni sangat kooperatif dan diyakini tidak akan kabur atau lepas dari tanggungjawab.
Dan kasus pencurian yang dilakukan Roni ini sendiri, sekarang masih menunggu jawaban dari Kejaksaan Negeri Kepanjen. Jika Kejaksaan sudah menyatakan berkas sudah sempurna (P21), maka Roni bersama barang bukti dan berkasnya akan diserahkan ke Kejaksaan. Lantas bagaimana dengan pengaduan penipuan dan penggelapan Roni Marthen Rompis yang dilayangkan ke Polres Malang. Menurut Kanit Idik IV Satreskrim Polres Malang, Ipda Sutiyo SH Mhum yang menangani perkara ini, ketika dikonfirmasi via telepon kemarin siang mengatakan bahwa pengaduannya kini sedang dalam tahap penyelidikan. Penyidik masih mendalami dengan memeriksa saksi-saksi. Termasuk masih akan memanggil Ariyati, yang dijadikan terlapor dalam surat pengaduan itu.
“Pengaduannya masih kami selidiki. Belum tahu apa ada tindak pidananya atau tidak kami masih menyelidikinya. Kami masih menunggu pemeriksaan Ariyati, yang kemudian akan kami konfrontir dengan keterangannya Roni,” terang Sutiyo. Terkait pemanggilan Ariyati sendiri, sebenarnya penyidik sudah melayangkan panggilan. Tetapi Ariyati tidak bisa hadir karena masih kondisi sakit usai melahirkan, dengan bukti surat keterangan dari dokter. Namun polisi akan kembali memanggil Ariyati untuk dimintai keterangan segera. Sebab keterangannya itu nanti menjadi pertimbangan penyidik untuk menentukan apa kasusnya ada unsur tindak pidana murni atau tidak.
“Kami masih menunggu kabar dari Ariyati kapan bisa dimintai keterangan. Sebab dari hasil penyelidikan sementara, kalau lokasi penipuan itu masuk di wilayah Kota Malang. Jika dari hasil konfrontir dan gelar perkara, ditemukan tindak pidana maka kasusnya akan kami limpahkan ke Polres Malang Kota. Tetapi jika tidak ditemukan, maka kasunya kami hentikan,” jelasnya.
Sementara itu, rumah Ariyati yang berada di Perum Oma Campus Blok AA1-16 Dau Malang, kemarin tampak sepi. Rumah tersebut kosong tidak ada barang ataupun menghuninya. Malahan, di depan rumah ada tulisan ‘rumah dijual’. Kabarnya, Ariyati dan keluarganya sudah pindah.
Seperti diketahui, nasib Roni Marthen Rompis, warga Perum Villa Bukit Sengkaling, Dau, sungguh apes. Sudah jelas menjadi korban penipuan, dia malah dilaporkan melakukan pencurian oleh Ariyati dan M Ade Arif, suaminya, warga Perumahan Oma Campus, Dau. Pria 40 tahun tersebut, dilaporkan ke Polsek Dau dengan tuduhan pencurian barang di dalam rumah. Dan Roni sendiri sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polsek Dau yang menangani laporan pencurian tersebut. (agp/mar)