PT. BPF Dianggap Pencuri

MULAI KERAS : Untuk kedua kalinya, nasabah PT. Bestprofit Futures melakukan demo.

Nasabah dan Keluarga Kembali Berdemo
MALANG– Nasabah PT. Bestprofit Futures (BPF) kembali mendemo kantor pialang itu di Jalan Letjen S Parman Malang, kemarin. Kedatangan mereka ini merupakan yang kedua kalinya. Aksi demo kemarin cukup keras. Selain dilakukan di halaman ruko yang berada di seberang pertigaan Jalan Ciliwung Malang, dengan membawa beberapa spanduk tuntutan, namun jumlah massa yang datang juga cukup banyak. Aksi ini ditempuh, setelah mediasi yang dilakukan dengan pihak BPF di Hotel Savana, Jalan Letjen Sutoyo  Malang, Jumat (18/1) lalu tidak membuahkan hasil yang maksimal. Menurut Dwi Rubingi, salah satu nasabah yang menjadi korban BPF mengatakan, tidak ada hasil apapun dalam pertemuan tersebut. ”Mereka hanya menyodorkan surat pengaduan,” terang koordinator demo ini.  
Buntutnya, lanjut Dwi, nasabah BPF yang dirugikan dan keluarganya kembali mendatangi kantor perusahaan perdagangan berjangka komoditi ini. “Kami minta supaya uang kami yang berjumlah Rp 1,5 miliar dikembalikan. Kalau tidak, kami akan membawa masalah ini lebih jauh lagi. Kalau BPF tidak bisa mengembalikan uang kami, tidak ubahnya dengan seorang pencuri,” teriak para nasabah. Dalam aksinya yang dijaga puluhan personil dari Polres Malang Kota itu, selain terus meneriakkan orasi, para nasabah juga membawa beberapa poster yang bertuliskan kecaman. Mulai dari ’Usut dan Adili BPF’, ’Cabut Izin Usaha BPF’, ’Hai Maling Kembalikan Uang Masyarakat yang Kau Curi’, ’Nasabah PT BPF Minta Tanggungjawab Uangnya yang Dirampok’ dan ’Sudah Banyak Korban Jatuh Akibat Ulah BPF’.
Menurut penasehat hukum nasabah BPF, Gunadi Handoko SH, aksi di Malang ini hanya sebagai awal atau pemula. Nantinya, kata dia, di Jakarta akan bergabung semua nasabah BPF di seluruh Indonesia yang dirugikan dan berunjuk rasa ke Istana Presiden, Kementerian Perdagangan, Mabes Polri, DPR Pusat dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI). ”Tuntutan para nasabah ini hanya simpel. Mereka minta uangnya segera dikembalikan. Selama ini mereka tidak pernah memberikan ijin tiap kali transaksi kepada BPF untuk melakukan transaksi perdagangan komoditi tersebut. PT. BPF menghubungi klien kami ketika memerlukan tambahan uang dengan janji biar untung atau biar uang tidak hangus. Bahkan, ada juga butuh uang karena posisi margin tidak aman dan sebagainya,” terang pengacara tersebut.
Berbagai alasan itulah, akhirnya para nasabah ini menambah uang dengan harapan mendapatkan keuntungan.  Gunadi menambahkan, tuntutan nasabah ini wajar karena selama ini mereka telah memendam kesabaran. Namun karena ditunggu-tunggu sampai lama tidak ada penyelesaian, akhirnya puncak kemarahan nasabah ditunjukkan dengan melakukan aksi unjuk rasa. “Sesuai undang-undang berjangka komoditi, ketentuan yang dilakukan oleh BPF ini sudah sebuah pelanggaran dan sanksi pidana. Kalau pihak BPF mengatakan bahwa itu adalah risiko nasabah yang dibuat pada surat perjanjian, mana buktinya?,” tanyanya.
Selama ini, BPF  berdalih bila nasabah sudah menandatangani perjanjian tentang risiko. ”Kalau nasabah yang menjalankannya dan kalah (loss) itu wajar. Namun selama ini, nasabah sama sekali tidak pernah menjalankannya kok,” tegas dia lagi. Sayangnya, dalam pertemuan kemarin, para nasabah ini kembali tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Untuk kesekian kalinya, mereka hanya ditemui Kepala Bagian Kepatuhan PT. BPF, Agus. Dia beralasan, Pimpinan Cabang Malang PT. BPF, Andri Pung sedang berada di Jakarta. “Maaf saya hanya bisa menerima pengaduan. Dimana pengaduan ini akan saya sampaikan kepada pak Andri yang sekarang ada di Jakarta. Karena beliau yang memberikan putusan,” katanya. Jawaban Agus ini pun tak urung membuat para nasabah dan keluarganya kecewa. Mereka lalu menyegel kantor BPF dengan memasang poster-poster dan spanduk. ”Seharusnya, Andri hadir di mediasi ini karena sebelumnya dia sudah tahu terkait kedatangan kami ini,” ungkap nasabah lainnya. (agp/mar)