Sopir Terancam 6 Tahun Penjara

MALANG - Gerak cepat dilakukan penyidik Laka Lantas Polres Malang Kota. Sehari setelah kecelakaan maut di simpang empat Jalan Panglima Sudirman Kota Malang, atau di jembatan buk gludug, polisi sudah menetapkan tersangka.
Kecelakaan beruntun yang menewaskan Yunus Sulaiman, 39 tahun warga Jalan Kedalpayak 2 RT03 RW03, Kecamatan Pakisaji, Senin kemarin, menempatkan sopir truk maut, N 8923 AU, Suwono, sebagai tersangka. Pria 50 tahun warga Desa Sumberpasir RT18 RW05, Kecamatan Pakis itu, terancam hukuman penjara enam tahun.
Meski kecelakaan itu melibatkan dua truk dan dua motor, tetapi polisi hanya menetapkan tersangka tunggal. ‘’Dari hasil olah TKP dan pemeriksaan saksi-saksi, bahkan sampai dilakukan olah TKP ulang, penyidik Laka Lantas akhirnya menetapkan sopir truk fuso sebagai tersangka,’’ kata Kasubag Humas Polres Malang Kota, AKP Dwiko Gunawan, kepada Malang Post, kemarin.
Ditambahkan mantan Kasatreskrim Polres Batu itu, tersangka melanggar Pasal 310 Ayat 2 dan Ayat 4 UULLAJ (Undang-undang Lalu Lintas Angkutan Jalan) No 22 Tahun 2009.
Disinggung mengenai hasil penyelidikan, pria yang juga mantan Kapolsek Wajak itu mengurai, akibat kelalaian yang disebabkan oleh sopir truk fuso dan ketidaklayakan kendaraan, sehingga mengakibatkan rem menjadi blong. Faktor ketidaklayakan itulah, tambah dia, yang kemudian mengakibatkan kecelakaan beruntun.
‘’Terkait kejadian ini, proses penyelidikan masih terus dilakukan. Bahkan, juga akan memanggil Dishub. Hal ini dilakukan, menyangkut dari kelayakan dari truk yang beroperasi. Jadi, siapa saja yang bisa jadi tersangka, bisa dilihat pula dari hasil pemeriksaan terhadap Dishub,’’ tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Dwiko juga mengatakan, Jasa Raharja bersama Kanit Laka Lantas Polres Malang Kota, Ipda Ega Prayudi, juga telah memberikan santunan kepada keluarga korban. Santunan senilai Rp 25 juta, diterima langsung ibu korban di rumah duka.
Disisi lain, kecelakaan yang juga menyebabkan lalulintas sempat macet tersebut, mengundang keprihatinan pakar transportasi Universitas Brawijaya (UB), Ir Ahmad Wicaksono MEng, PhD.
Kejadian tersebut, menurut pria yang akrab dipanggil Soni ini, seperti mengingatkan kembali rencana pembangunan jalan lingkar timur (JLT). Apalagi, kapasitas jalan Panglima Sudirman hingga ke arah selatan, sudah berada di ambang derajat kejenuhan. Di ruas jalant ersebut, lalu lintas harian (LHR) sudah mencapai 2.000 satuan mobil penumpang (SMP)  perjam.
Bahkan disaat tertentu, seperti Sabtu, Minggu, hari libur, bisa tembus 2.200 sampai 2.300 SMP perjam. Padahal batasan maksimum LHR yakni 2.500 SMP perjam.
Begitu pula derajat  kejenuhan arus lalu lintas di kawasan Jalan Panglima Sudirman, juga hampir diambang batas. ‘’Saat normal, derajat kejenuhan arus lalu lintas di kawasan itu antara 0,8 sampai 0,9. Saat Sabtu dan Minggu. Derajat kejenuhan arus lalu lintas mencapai 0,9, bahkan hampir 1,’’ jelas Sony.
Tingginya kepadatan arus lalu lintas di Jalan Panglima Sudirman, memiliki andil terjadinya kecelakaan lalu lintas. Apalagi saat ini, jalan tersebut dilewati kendaraan perkotaan seperti motor dan mobil pribadi serta kendaraan antar kota seperti bus dan truk besar.
‘’Karena lalu lintas campur, maka rawan terjadi kecelakaan. Selama ini yang sering terjadi yakni kecelakaan antara motor dengan truk atau bus yang lewat kawasan itu,’’ kaat dia.
Alumnus program studi transportasi perkotaan  Universitas Tokyo ini mengatakan, seharusnya kendaraan besar tidak lagi dilewatkan jalan dalam kota. Sehingga mengurangi risiko kecelakaan. Hal ini bisa terjadi jika pembangunan JLT direalisasi.
‘’Sebenarnya kami sudah menyampaikan usulan pembangunan JLT sejak tahun 2000 lalu. Kami sudah melakukan penelitian sejak tahun 2000 lalu untuk pembangunan JLT,’’ kata mantan kepala Laboratorium Transportasi UB ini. (sit/van/avi)