Belum Temukan Indikasi Trafficking

BATU - Kasus dugaan tindak pidana perdagangan (trafficking) anak, yang sebelumnya dilaporkan ke Polres Malang Kota, dilimpahkan ke Polres Batu. Pelimpahan tersebut, dikarenakan tempat terjadi perkaranya berada di wilayah Kota Batu.  
Polres Malang Kota sendiri, sebelumnya hanya sekedar menerima laporan. Hal itu disampaikan Kasatreskrim Polres Malang Kota, AKP James Hutajulu, kemarin.
“Kasus itu sudah kami limpahkan ke Polres Batu. Sebab lokasi kejadiannya ada di wilayah Batu. Baik itu tempat terjadinya persetubuhan ataupun tempat penampungannya ada di Batu. Bahkan di Polres Batu juga sudah dibuatkan laporan,” ungkap dia.
Polres Kota Batu mendalami dugaan trafficking yang menimpa  EL, 15 tahun, warga Jalan Bareng Kota Malang. Keluarga EL membawa masalah tersebut ke Polres Kota Batu lantaran tempat kejadian perkara (TKP) berada di kawasan Songgoriti. Alhasil, Widya dan Fina dimintai keterangan selama delapan jam oleh petugas unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
Keluarga EL terdiri dari Ali Suryadi, ibu dan pamannya membawa serta Widya dan Fina yang disebut otak dugaan trafficking. Ikut serta pula EL yang terlihat lusuh dan lemas, dia mengenakan sepatu berhak tinggi. Sedangkan Widya dan Fina didampingi dua kakek, salah seorang mengaku sebagai kakek dari Widya.
‘’Kami sejak jam 08.00 di sini. Selama ini Widya tinggal bersama saya di daerah Gasek, Karangbesuki, Malang,’’ ujar seorang kakek yang enggan disebut namanya.
Menurut pria tua ini, Widya adalah gadis biasa yang drop out Sekolah Dasar. Karena umurnya baru 14 tahun, hingga kini dia belum bekerja. Sang kakek enggan member komentar soal tuduhan keluarga EL yang dialamatkan kepada cucunya.
Sementara itu, Fina yang ikut diperiksa mengaku tak tahu menahu mengenai EL dan kejadian di Songgoriti. Yang jelas peristiwa terjadi pada Selasa (29/1) lalu setelah dirinya membolos sekolah. Ada beberapa siswi dari tiga SMP berbeda yang ikut membolos dengannya.
‘’Ya waktu itu bolos sekolah. Kami kemudian ngumpul di Mergan, setelah itu saya pulang dan enggak tahu kemudian mereka kemana,’’ akunya.
Tak ada hal-hal yang tak wajar selama di Mergan sesuai pengakuan siswi kelas 2 SMP swasta ini. Anehnya, Fina juga sempat mengatakan bahwa dirinya kehilangan jejak rekan-rekannya.
Padahal sebelumnya dia mengaku pulang duluan dari ‘posko’ mereka di Mergan. ‘’Saya tidak ikut karena kehilangan jejak, jadi tak tahu mereka kemana,’’ ungkapnya.
Widya sendiri juga tampak biasa saja kendati tengah dimintai keterangan oleh polisi. Gadis ABG ini begitu santai bahkan sempat pamit ke kamar kecil. Dia mengenakan jaket bertopi untuk menutupi rambut pendeknya yang dicat blonde.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Batu, AKP Adi Sunarto mengatakan masih mendalami hal itu. Sebab, pihak korban belum melapor resmi namun sebatas konsultasi.
Widya dan Fina memang dimintai keterangan namun bukan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Polisi baru akan mengambil langkah ketika sudah ada indikasi tindak pidana atau perbuatan melawan hukum.
‘’Keluarga itu (EL) yang datang ke sini belum melapor resmi. Sehingga dua gadis itu (Widya dan Fina) belum jadi saksi atau apapun, mereka hanya dimintai keterangan,’’ ungkapnya.
Mantan Kanit Reskrim Polsekta Sukun itu menegaskan, sampai saat ini belum ada tindakan yang mengarah ke trafficking. Seperti diberitakan sebelumnya, EL, 15 tahun, warga Jalan Bareng Gang 2 N RT13 RW04 bersama empat anak lainnya, CD, DA, RK, dan DI nyaris menjadi korban trafficking. Lebih mengejutkan, yang menjadi otak perbuatan itu adalah Widya, 14 tahun, teman mereka. (ary/agp/mar)