20 Perampok Satroni Pondok Pesantren

TUREN – Sasaran tindak kejahatan, sudah tidak pandang bulu. Pondok Pesantren (ponpes) Hidayatulloh di Talok Turen Kabupaten Malang, dini hari kemarin disatroni.
Gerombolan yang diperkirakan berjumlah 20 orang itu, juga melukai pengasuh ponpes, KH Abdul Halim. Pria 41 tahun itu terluka cukup serius di tangan kiri dan punggung, lantaran dia melawan gerombolan tersebut. Termasuk empat santri setempat, yang juga terluka.
Dari ponpes yang juga menjadi tempat pembuatan camilan Kuda Mas itu, perampok itu hanya berhasil membawa ponsel merk Cross dan uang tunai Rp 1 juta.
Ditemui Malang Post, Abdul Halim bertutur, perampokan itu terjadi sekitar 02.30. Di rumah utama, kebetulan kosong. Keluarga Abdul Halim tengah berlibur. Dia sendiri waktu itu bermaksud melaksanakan salat tahajud. Ketika itulah, Abdul Halim mendengar kegaduhan di luar rumah.
Saat hendak akan keluar, tiba-tiba empat pelaku kawanan perampok itu, menjebol pintu rumahnya dengan linggis. ‘’Begitu mereka masuk ke dalam rumah, langsung mengacungkan pancor. Saya pun berusaha melawan mereka,’’ kata Halim dengan suara lirih.
Kewalahan menghadapi empat perampok itu, Halim kabur ke gudang belakang, tempat pembuatan camilan. Sialnya, saat sampai di gudang tersebut, ternyata sudah ada empat kawanan perampok lainnya. Perampok itu sudah berhasil menyekap empat pegawainya.
‘’Saat saya ke belakang, saya tak dikejar oleh empat perampok yang membobol pintu depan rumah saya. Ternyata di gudang, sudah ada empat perampok lagi. Kemudian saya juga melawannya, dengan berduel lagi. Saat berduel itu, saya dicelurit tangan kiri saya,’’ kata korban yang terlihat masih shock.
Mendapat perlawanan Halim, termasuk mengetahui puluhan santri pondok dan beberapa ustadz terbangun, gerombolan perampok itu sontak melarikan diri.
Ketika itulah diketahui pengasuh ponpes itu terluka. Santri pondok didampingi ustadz, membawa Halim dan empat santri yang terluka ke RS Bokor Turen.
Halim melihat, dalam melaksanakan aksinya, perampok itu memakai cadar atau penutup kepala. Mereka bersenjatakan pancor dan celurit. ‘’Wajah mereka tak kelihatan, karena ditutupi cadar. Mereka cuma mengambil dompet yang didalamnya berisi uang satu juta, STNK, dan sim. HP cross milik saya juga diambil,’’ tuturnya.
Para santri menyebut, jumlah gerombolan itu sekitar 20 orang. Mereka tersebar di beberapa tempat di pondok. Termasuk di rumah induk, asrama maupun gudang tempat produksi camilan.
‘’Kata Abah (Abdul Halim, Red.), di dalam rumah sudah ada delapan orang. Saya juga lihat di depan rumah, ada sekitar tujuh orang lagi. Sedangkan tampak dari kejauhan, di depan masjid ada lima orang. Ya kira-kira ada sekitar 20 orang perampok bahkan lebih,’’ urai beberapa santri tersebut.
Kasus perampokan itu sendiri, saat ini masih dalam penyelidikan petugas Polsek Turen diback up Polres Malang. ‘’Sesaat setelah kejadian itu, kami langsung ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Selain mencari bukti petunjuk, kami juga meminta keterangan sejumlah saksi. Saat ini, untuk pelakunya masih kami selidiki,’’ ungkap Kanitreskrim Polsek Turen, Iptu Sudarno kepada wartawan kemarin
Polisi belum mengetahui berapa jumlah tepatnya kawanan perampok yang menyatroni tempat tersebut. ‘’Kata saksi-saksi yang kami mintai keterangan tadi, katanya sih jumlah perampoknya. Memang 20-an lebih. Untuk motifnya dan tujuannya apa, masih kami selidiki,’’ tandas Sudarno. (big/avi)