Valentina Digembosi Anak Buah

Sudiman Sidabukke  

Sidang Sertifikat PT. HMH
MALANG- Sidang pencurian dan penggelapan 14 sertifikat senilai Rp 4 miliar milik Direktur PT. Hardlent Medika Husada (HMH), Dr FM Valentina SH, M Hum dengan terdakwa Dr Hardi Soetanto (mantan suami pelapor) di Pengadilan Negeri Kota Malang, berlanjut kemarin. Sidang menghadirkan Direktur Keuangan PT. HMH, Nur Cholis. Yang menarik, keterangan Nur Cholis justru memberatkan bosnya sendiri. Kepada majelis hakim yang dipimpin Hari Widodo SH, saksi Nur Cholis mengakui bila dia dilarang oleh Valentina untuk menerima sertifikat yang dikembalikan oleh Hardi. Dari pengakuan itu, memunculkan penilaan tersendiri dari kuasa hukum Hardi, yakni Sudiman Sidabukke SH.  Dia menyatakan, pasal pencurian dan penggelapan yang dituduhkan kepada kliennya terlalu dipaksakan.  
“Dari awal sudah jelas. Seperti yang disampaikan saksi, bahwa sebelum dilaporkan kepada polisi, klien saya sudah mengembalikan sertifikat itu ke kantor PT. HMH. Hanya saja, oleh saksi tidak diterima setelah dia menghubungi Valentina. Dia diminta untuk tidak menerima,” paparnya. Sebaliknya, ungkap Sidabukke, begitu masalah tersebut dilaporkan kepada polisi dan Hardi dipanggil dalam kapasitas sebagai saksi oleh penyidik Satreskrim Polres Malang Kota, kliennya juga membawa sertifikat yang dimaksud. ”Dia membawa sertifikat itu ke kantor polisi saat diperiksa karena tidak mau dianggap memiliki itikat buruk,” terangnya.
Di sisi lain, pengacara beken ini juga mengungkapkan, Hardi sudah mengembalikan dua sertifikat, yang belakangan justru dijual ke pihak lain oleh Valentina sendiri. ”Itu terungkap dalam fakta di persidangan,” tegasnya. Selain mengenai penolakan penerimaan sertifikat yang disampaikan saksi Nur Cholis, juga terbukti dalam sidang  jika sertifikat yang dilaporkan hilang, dibeli dari uang PT. HMH. Pembelian dengan menggunakan cek, ditandatangani oleh Nur Cholis dan Valentina. Sementara Hardi selaku Komisaris Utama, hanya bagian membeli aset tersebur.
“Dari sini sudah jelas, bahwa sertifikat itu dibeli bukan dari uang pribadi pelapor. Namun, dari uang bersama di PT. HMH. Itulah mengapa, saat itu terdakwa mencoba mengembalikan kepada saksi di kantor PT. HMH, justru ditolak,” pungkas dia. (sit/mar)