Patroli Polisi Bekuk Pemakai SS

TERTANGKAP : Dua tersangka narkoba asal Pasuruan ditangkap di Malang.
Narkoba
MALANG – Aparat kepolisian terus mempersempit ruang gerak peredaran narkotika di Kota Malang. Selasa malam lalu, dua budak sabu-sabu (SS) berhasil diamankan Satreskoba Polres Malang Kota. Mereka yakni Fahmi, 21 tahun, warga Sukorejo, Pasuruan dan Muhammad Muchsin, 37 tahun, warga Pandaan, Pasuruan. Keduanya ditangkap petugas di depan sebuah pertokoan modern di Jalan Soekarno Hatta Malang, sesaat setelah transaksi SS. Sedangkan untuk pengedarnya yang diketahui berinisial DN, warga Kota Malang, hingga kemarin masih dalam perburuan polisi. Dan barang bukti yang diamankan dari keduanya yaitu dua poket SS seberat 0,5 gram.
“Barang bukti SS itu, sepoket ditemukan di dalam dompet pelaku dan satu poket lagi di temukan di jok belakang mobil yang dikendarainya. Dan untuk DN sendiri, kini masih kami buru. Yang jelas identitasnya sudah kami kantongi,” ungkap Kasubag Humas Polres Malang Kota, AKP Dwiko Gunawan. Mantan Kasatreskrim Polres Batu ini menjelaskan, penangkapan kedua budak SS ini bermula dari petugas Buser Satreskoba Polres Malang Kota sedang patroli di sekitar Jalan Soekarno Hatta Malang. Saat patroli itu, petugas mencurigai kedua tersangka yang terlihat bingung setelah bertemu dengan seseorang di depan pertokoan modern. Karena diyakini ada yang tidak beres, petugas lalu mendekati dan memeriksanya. Awalnya, saat ditanya keduanya mengelak tuduhan memiliki SS. Namun setelah dilakukan penggeledahan dan ditemukan dua poket SS, kedua tersangka baru mengaku.
“Saya kenal SS ini baru sekitar empat bulan lalu. SS itu saya pesan dari Muchsin seharga Rp 750.000. Dan Muchsin sendiri membelikan SS pada temannya DN. Selama empat bulan itu, saya baru dua kali membeli. Pertama sekitar empat bulan lalu, dan kedua malam saat saya ditangkap itu,” terang tersangka Fahmi, yang dibenarkan Muchsin. Sementara itu, akibat dari perbuatannya tersebut, keduanya dijerat dengan pasal 112 Undang-Undang Nomor 35 / 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman, minimal empat tahun dan maksimal 12 tahun kurungan penjara. (agp/mar)